Kesibukan
memang selalu menghiasi kota Jakarta. Apalagi, di saat-saat jam sepulang kerja.
Polusi pun menyelimuti, mengingat banyaknya kendaraan yang selalu melintas dan
mengeluarkan kepulan asap. Pantas saja kebanyakan penduduk kota mengidap
penyakit pernafasan.
Berbeda
halnya di sebuah taman yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Taman kota itu
masih asri, bebas dari polusi,—mengingat letak taman ini yang terpencil dan tidak
banyak dilalui kendaraan—dan cukup sepi untuk beristirahat sejenak dari hiruk
pikuk kota. Taman yang penuh dengan bunga Aster, bunga Mawar, serta bebrapa
jenis bunga lainnya. Tidak banyak yang mengetahui keberadaan taman ini. Namun,
bila seseorang sudah mengetahui keberadaannya, maka ia akan terus menjadi
pengunjung tetap taman ini. Seperti halnya Rival.
Setelah
lelah belajar di universitas, setiap hari Jum’at, Rival selalu datang ke taman,
beristirahat. Saking seringnya ia kemari, dia pun hafal pengujung-pengunjung di
taman. Namun, hari ini berbeda dari biasanya.
Ada
seseorang perempuan yang menduduki kursi taman yang biasa ia tempati. Wajahnya
sangat cantik, secantik bunga Aster di sekelilingnya. Rival berusaha tidak
peduli akan hal itu, ia tetap duduk di ujung kursi, berjarak satu meter dari
perempuan itu.
Meskipun ia
berkata bahwa ia tidak peduli, matanya terus mencuri pandang akan perempuan
itu. Rambutnya yang berwarna hitam legam, bibirnya yang merah dan tipis,
matanya yang tampak damai, wangi mawar yang tercium dari tubuh perempuan itu,
semuanya. Semuanya dari perempuan itu, terasa sempurna di mata Rival. Dan entah
kenapa, ia merasa nyaman.
***
Penat
hampir selalu menghiasi kepala Rose. Stres sudah menjadi makanan
sehari-harinya. Ditambah dengan polusi udara yang menyeruak ke dalam indra
penciumannya, ia benar-benar sudah lelah. Hari ini, sepulang kuliah, ia mencoba
berjalan-jalan ke pinggiran kota, meninggalkan tugasnya yang menumpuk.
Di tengah jalan, tercium wangi bunga yang
sangat menyegarkan. Rose menoleh, dan menemukan sebuah taman yang cukup sepi. Taman
yang penuh dengan bunga Aster, bunga mawar, serta beberapa jenis bunga lainnya.
Kakinya melangkah memasuki taman itu, dan mendudukan diri di salah satu ujung kursi
taman. Matanya terpejam, menikmati suasana taman yang begitu damai. Wangi bunga
Aster tercium, membuatnya tersenyum dan
membuka matanya. Terlihat fajar yang mulai terbenam, dengan semburat oranye di
sekelilingnya. Rose tersenyum. Ia merasa beruntung menemukan taman yang sangat
cocok untuk melupakan masalahnya sejenak.
Tanpa
disangka, seorang laki-laki duduk di kursi taman yang sama dengannya, berjarak
satu meter darinya. Rose menoleh sedikit, memperhatikan wajah laki-laki itu
yang cukup tampan. Kulitnya yang berwarna sawo matang, tangannya yang besar,
rambutnya yang sedikit berantakan, wangi parfum bercampur keringat yang tercium
dari tubuh laki-laki itu, semuanya. Semuanya dari laki-laki itu terasa sempurna
di mata Rose. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Entah mengapa, ia merasa
nyaman. Dan sekali lagi, ia merasa beruntung menemukan taman ini.
***
Rose dan Rival, mereka terus datang pada hari yang sama, jam
yang sama—jam lima sore, dan tempat duduk yang sama. Seolah mereka sengaja melakukannya,
kejadian yang sama terus terulang. Minggu depan, minggu depannya lagi, dan
seterusnya, hingga mereka terbiasa akan kehadiran masing-masing. Terbiasa akan
keadaan sunyi, tanpa ada yang memulai pembicaraan.
Mereka
ingin saling mengenal satu sama lain, namun terlalu ragu untuk memulai. Mereka
ingin berbicara dan mengobrol satu sama lain, namun terlalu malu untuk memulai.
Seolah mereka terlalu nyaman akan suasana sunyi itu, menikmati suasana canggung
sekaligus damai yang mereka buat.
***
Hari ini adalah hari Jum’at. Namun, kehadiran perempuan itu
sama sekali tidak ditemukan Rival dimana-mana. Ia sudah mencari di sekeliling
taman, menunggu di pintu masuk taman beberapa menit, hingga akhirnya kembali ke
kursi taman yang biasa ia tempati. Mata Rival melirik jam berkali-kali. Tidak
tenang. Ia cemas menunggu perempuan yang bahkan tidak ia ketahui namanya. Entah
mengapa, ia merasa kehilangan.
Mata Rival
terpejam. Ia hanya membuka mata untuk melirik jam, lalu memejamkannya kembali.
Seolah tidak peduli akan kecantikan fajar di depan matanya, dan kecantikan
bunga di sekelilingnya. Rival mendengus kesal. Sudah satu jam ia menunggu
disini, namun perempuan itu tidak tampak juga. Ia sudah tidak peduli akan harum
bunga dan udara sejuk yang biasa ia nikmati ketika berkunjung ke taman ini.
Rival
membuka matanya perlahan. Ia melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul
tujuh malam. Itu artinya, sudah dua jam ia menunggu disini. Dia berdiri dengan
cepat. Ia sudah muak. Mengapa ia harus menunggu gadis yang tidak jelas
identitasnya, yang bahkan tidak mengenal dirinya? Setelah berdiam beberapa
saat, ia memutuskan pergi, menyerah. Ia sudah lelah menunggu sesuatu yang tidak
pasti. Dan untuk pertama kalinya, Rival menyesal tidak pernah menanyakan nama
gadis itu. Ia bertekad, akan berkenalan dengannya saat bertemu lagi nanti.
***
Napas Rose terengah-engah. Kakinya memang sudah berpijak di
tempat yang ia tuju, namun ia tak kunjung menemukan orang yang ia cari. Hawa
dingin mulai menerpa kulitnya. Matanya melirik jam tangan, menunjukkan pukul
tujuh malam. Dia menghela nafas panjang. Ia sudah terlambat. Orang yang ia cari
mungkin sudah pulang.
Untuk apa
ia mencari seseorang yang bahkan tidak ia kenal?
Untuk apa
ia berharap orang itu menunggunya?
Orang yang
bahkan tidak ia ketahui namanya.
Seorang
laki-laki yang selalu bersamanya di taman yang ia pijak saat ini.
Rose
tersenyum mengejek, lebih kepada dirinya sendiri. Untuk apa ia mencari
seseorang yang belum tentu menunggunya? Dia menghela nafas kasar. Setelah
memperhatikan kursi taman tempat yang biasa ia duduki, Rose berbalik dan berjalan
pulang. Seolah putus asa akan pencariannya. Ia bertekad, akan berkenalan dengan
lelaki itu saat bertemu lagi nanti.
***
Waktu terus berjalan, hari demi hari terlewati. Tak terasa, hari
Jum’at telah datang. Waktu sudah
menunjukan pukul lima sore. Suasana taman itu cukup sepi, hanya beberapa orang
yang ada disana. Cuaca cerah, namun angin berhembus, menimbulkan hawa sejuk bagi orang yang berada di taman itu.
Hari ini,
Rival dan Rose akan bertemu di taman. Keduanya bertekad akan berkenalan dan
megobrol satu sama lain, tak ingin menyesal lagi akan kejadian tempo hari.
***
Rival berjalan pelan menuju taman. Hatinya berdegup kencang,
perasaan takut dan bingung bercampur menjadi satu. Ia takut jika perempuan itu
tidak muncul lagi, atau bahkan tidak menyukai keberadaanya disana. Namun, di
satu sisi, ia merasa bingung. Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Jika
bertemu dengan perempuan itu, apa yang harus ia katakana nanti? Bukankah aneh
jika menyapa orang yang tak pernah berbicara denganya? Bagaimana jika ia tidak
ditanggapi?
Rival
menghela nafas. Kakinya sudah berpijak di kawasan taman. Matanya menyisir
sekitar, mencari keberadaan perempuan itu.
Dan,
disanalah ia.
Perempuan
itu duduk di kursi taman. Matanya terpejam, seolah menikmati sejuknya angin.
Rambutnya yang digerai tersapu oleh angin, namun ia tidak memperdulikannya. Ia
memakai baju berwarna merah muda, yang membuatnya secantik bunga di
sekelilingnya. Dan entah mengapa, Rival merasa jantungnya berdebar lebih cepat
lagi.
***
Rose menghela nafas panjang. Seperti dugaannya, laki-laki
yang ia cari tidak ada di taman. Mungkin saja ia belum datang. Rose berjalan
pelan, lalu mendudukan dirinya di salah satu kursi taman. Jam menunjukan pukul
empat lebih tiga puluh menit. Ia datang lebih cepat dari biasanya, untuk
mempersiapkan diri. Sore ini, dia sudah bertekad akan berkenalan dengan
laki-laki itu.
Mata Rose
terpejam, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Wangi bunga tercium,
membuatnya tersenyum membayangkan bunga cantik yang ada di sebelahnya.
Jantungnya berdenyut dengan cepat. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan
laki-laki itu. Ia ingin berkenalan dan mengobrol dengannya, tak ingin menyesal
lagi seperti kejadian tempo hari.
Rose
merasakan seseorang duduk disampingnya. Tercium aroma rarfum bercampur keringat
dari tubuhnya. Rose membuka mata, lalu melirik seseorang yang duduk
disampingnya. Laki-laki itu. Rose tersenyum, dan memandang laki-laki itu lebih
lama lagi. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat lagi. Tiba-tiba, laki-laki itu
menengok kearahnya, bersitatap dengannya. Secara spontan, Rose menengok ke arah
lain. Ia malu, tertangkap basah memperhatikan laki-laki itu secara diam-diam.
Sedetik kemudian, ia merutuki dirinya sendiri, karena tidak berbicara apapun
dan malah membuang muka.
***
Rival mendudukan dirinya disamping perempuan itu. Tercium
aroma bunga mawar dari tubuh perempuan itu. Rival tersenyum, namun jantungnya
berdenyut jauh lebih cepat lagi. Ia menarik nafas panjang, berusaha menenangkan
diri. Dia harus bisa berkenalan dengan perempuan itu.
Rival
mengok ke arah perempuan itu, berniat mengobrol dengannya. Tak disangka,
perempuan itu juga menengok kearahnya. Secara spontan, Roval menengok ke arah
lain. Ia malu, tertangkap basah menengok ke arah perempuan itu. Sedetik
kemudian, ia merutuki dirinya sendiri, karena tidak berbicara apapun dan malah
membuang muka.
***
Rose dan Rival tidak menyerah begitu saja. Mereka mencoba
lagi, menatap satu sama lain. Degupan jantung terasa begitu cepat, namun mereka
menikmatinya. Mereka mencoba bertahan, tanpa mengalihkan pandangan.
Rasa ragu
mulai menyelimuti. Ingin rasanya mereka berkenalan, namun tak tahu harus
bagaimana. Menunggu satu sama lain untuk berbicara. Menunggu untuk entah berapa
lama.
“A…”
Sepatah
kata mereka ucapkan bersama. Keduanya terdiam kembali, menunggu satu sama lain
berbicara. Suasana kembali canggung. Mereka terus bertatapan, tanpa ada yang
berbicara.
Tak lama,
Rose tersenyum. Membuat Rival tertular senyumannya. Mereka tertawa kecil,
menertawakan kebodohan-kebodohan yang mereka lakukan. Rival mengulurkan
tangannya, berharap Rose akan menyambutnya. Rose tersenyum manis. Tangannya
menyambut uluran tangan Rival. Mereka berdiri, lalu meninggalkan taman yang
menjadi saksi kisah mereka.
Di sebuah
taman, Rose dan Rival bertemu. Di taman itu juga, mereka mereka memulai kisah
mereka. Taman itu merupakan taman yang bersejarah, bahkan berjasa bagi mereka.
Kata orang,
tak kenal maka tak sayang. Namun, kisah Rival dan Rose telah mematahkan
kata-kata itu. Mereka tak mengenal satu sama lain, namun mereka
menyukai,—bahkan menyayangi satu sama lain.
***
Author Note.
Gimana ceritanya? Bagus
nggak? Kurang dialog ya? wkwk.
Makasih banyak yang
kepada yang udah baca cerita ini. Makasih juga kepada yang udah mendukung dan
membantu proses pembuatan cerita ini. Ini cerita kedua yang dimuat ke publik.
Karena masih amatir, mohon dukungannya^^
Mungkin cerita ini ada
lanjutannya, dengan latar yang sama, tapi kisah yang berbeda(?)
Bila ada kesamaan nama, cerita, dll mohon dimaafkan. Itu hanyalah kebetulan
Bila ada kesamaan nama, cerita, dll mohon dimaafkan. Itu hanyalah kebetulan
-Nilda.