Minggu, 08 November 2015

DI Sebuah Taman




            Kesibukan memang selalu menghiasi kota Jakarta. Apalagi, di saat-saat jam sepulang kerja. Polusi pun menyelimuti, mengingat banyaknya kendaraan yang selalu melintas dan mengeluarkan kepulan asap. Pantas saja kebanyakan penduduk kota mengidap penyakit pernafasan.
            Berbeda halnya di sebuah taman yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Taman kota itu masih asri, bebas dari polusi,—mengingat letak taman ini yang terpencil dan tidak banyak dilalui kendaraan—dan cukup sepi untuk beristirahat sejenak dari hiruk pikuk kota. Taman yang penuh dengan bunga Aster, bunga Mawar, serta bebrapa jenis bunga lainnya. Tidak banyak yang mengetahui keberadaan taman ini. Namun, bila seseorang sudah mengetahui keberadaannya, maka ia akan terus menjadi pengunjung tetap taman ini. Seperti halnya Rival.
            Setelah lelah belajar di universitas, setiap hari Jum’at, Rival selalu datang ke taman, beristirahat. Saking seringnya ia kemari, dia pun hafal pengujung-pengunjung di taman. Namun, hari ini berbeda dari biasanya.
            Ada seseorang perempuan yang menduduki kursi taman yang biasa ia tempati. Wajahnya sangat cantik, secantik bunga Aster di sekelilingnya. Rival berusaha tidak peduli akan hal itu, ia tetap duduk di ujung kursi, berjarak satu meter dari perempuan itu.
            Meskipun ia berkata bahwa ia tidak peduli, matanya terus mencuri pandang akan perempuan itu. Rambutnya yang berwarna hitam legam, bibirnya yang merah dan tipis, matanya yang tampak damai, wangi mawar yang tercium dari tubuh perempuan itu, semuanya. Semuanya dari perempuan itu, terasa sempurna di mata Rival. Dan entah kenapa, ia merasa nyaman.
***

            Penat hampir selalu menghiasi kepala Rose. Stres sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ditambah dengan polusi udara yang menyeruak ke dalam indra penciumannya, ia benar-benar sudah lelah. Hari ini, sepulang kuliah, ia mencoba berjalan-jalan ke pinggiran kota, meninggalkan tugasnya yang menumpuk.
             Di tengah jalan, tercium wangi bunga yang sangat menyegarkan. Rose menoleh, dan menemukan sebuah taman yang cukup sepi. Taman yang penuh dengan bunga Aster, bunga mawar, serta beberapa jenis bunga lainnya. Kakinya melangkah memasuki taman itu, dan mendudukan diri di salah satu ujung kursi taman. Matanya terpejam, menikmati suasana taman yang begitu damai. Wangi bunga Aster tercium,  membuatnya tersenyum dan membuka matanya. Terlihat fajar yang mulai terbenam, dengan semburat oranye di sekelilingnya. Rose tersenyum. Ia merasa beruntung menemukan taman yang sangat cocok untuk melupakan masalahnya sejenak.
            Tanpa disangka, seorang laki-laki duduk di kursi taman yang sama dengannya, berjarak satu meter darinya. Rose menoleh sedikit, memperhatikan wajah laki-laki itu yang cukup tampan. Kulitnya yang berwarna sawo matang, tangannya yang besar, rambutnya yang sedikit berantakan, wangi parfum bercampur keringat yang tercium dari tubuh laki-laki itu, semuanya. Semuanya dari laki-laki itu terasa sempurna di mata Rose. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Entah mengapa, ia merasa nyaman. Dan sekali lagi, ia merasa beruntung menemukan taman ini.
***

Rose dan Rival, mereka terus datang pada hari yang sama, jam yang sama—jam lima sore, dan tempat duduk yang sama. Seolah mereka sengaja melakukannya, kejadian yang sama terus terulang. Minggu depan, minggu depannya lagi, dan seterusnya, hingga mereka terbiasa akan kehadiran masing-masing. Terbiasa akan keadaan sunyi, tanpa ada yang memulai pembicaraan.
            Mereka ingin saling mengenal satu sama lain, namun terlalu ragu untuk memulai. Mereka ingin berbicara dan mengobrol satu sama lain, namun terlalu malu untuk memulai. Seolah mereka terlalu nyaman akan suasana sunyi itu, menikmati suasana canggung sekaligus damai yang mereka buat.
***

Hari ini adalah hari Jum’at. Namun, kehadiran perempuan itu sama sekali tidak ditemukan Rival dimana-mana. Ia sudah mencari di sekeliling taman, menunggu di pintu masuk taman beberapa menit, hingga akhirnya kembali ke kursi taman yang biasa ia tempati. Mata Rival melirik jam berkali-kali. Tidak tenang. Ia cemas menunggu perempuan yang bahkan tidak ia ketahui namanya. Entah mengapa, ia merasa kehilangan.
            Mata Rival terpejam. Ia hanya membuka mata untuk melirik jam, lalu memejamkannya kembali. Seolah tidak peduli akan kecantikan fajar di depan matanya, dan kecantikan bunga di sekelilingnya. Rival mendengus kesal. Sudah satu jam ia menunggu disini, namun perempuan itu tidak tampak juga. Ia sudah tidak peduli akan harum bunga dan udara sejuk yang biasa ia nikmati ketika berkunjung ke taman ini.
            Rival membuka matanya perlahan. Ia melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Itu artinya, sudah dua jam ia menunggu disini. Dia berdiri dengan cepat. Ia sudah muak. Mengapa ia harus menunggu gadis yang tidak jelas identitasnya, yang bahkan tidak mengenal dirinya? Setelah berdiam beberapa saat, ia memutuskan pergi, menyerah. Ia sudah lelah menunggu sesuatu yang tidak pasti. Dan untuk pertama kalinya, Rival menyesal tidak pernah menanyakan nama gadis itu. Ia bertekad, akan berkenalan dengannya saat bertemu lagi nanti.
***

Napas Rose terengah-engah. Kakinya memang sudah berpijak di tempat yang ia tuju, namun ia tak kunjung menemukan orang yang ia cari. Hawa dingin mulai menerpa kulitnya. Matanya melirik jam tangan, menunjukkan pukul tujuh malam. Dia menghela nafas panjang. Ia sudah terlambat. Orang yang ia cari mungkin sudah pulang.
            Untuk apa ia mencari seseorang yang bahkan tidak ia kenal?
            Untuk apa ia berharap orang itu menunggunya?
            Orang yang bahkan tidak ia ketahui namanya.
            Seorang laki-laki yang selalu bersamanya di taman yang ia pijak saat ini.
            Rose tersenyum mengejek, lebih kepada dirinya sendiri. Untuk apa ia mencari seseorang yang belum tentu menunggunya? Dia menghela nafas kasar. Setelah memperhatikan kursi taman tempat yang biasa ia duduki, Rose berbalik dan berjalan pulang. Seolah putus asa akan pencariannya. Ia bertekad, akan berkenalan dengan lelaki itu saat bertemu lagi nanti.
***

Waktu terus berjalan, hari demi hari terlewati. Tak terasa, hari Jum’at telah datang.  Waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Suasana taman itu cukup sepi, hanya beberapa orang yang ada disana. Cuaca cerah, namun angin berhembus, menimbulkan hawa sejuk  bagi orang yang berada di taman itu.
            Hari ini, Rival dan Rose akan bertemu di taman. Keduanya bertekad akan berkenalan dan megobrol satu sama lain, tak ingin menyesal lagi akan kejadian tempo hari.
***

Rival berjalan pelan menuju taman. Hatinya berdegup kencang, perasaan takut dan bingung bercampur menjadi satu. Ia takut jika perempuan itu tidak muncul lagi, atau bahkan tidak menyukai keberadaanya disana. Namun, di satu sisi, ia merasa bingung. Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Jika bertemu dengan perempuan itu, apa yang harus ia katakana nanti? Bukankah aneh jika menyapa orang yang tak pernah berbicara denganya? Bagaimana jika ia tidak ditanggapi?
            Rival menghela nafas. Kakinya sudah berpijak di kawasan taman. Matanya menyisir sekitar, mencari keberadaan perempuan itu.
            Dan, disanalah ia.
            Perempuan itu duduk di kursi taman. Matanya terpejam, seolah menikmati sejuknya angin. Rambutnya yang digerai tersapu oleh angin, namun ia tidak memperdulikannya. Ia memakai baju berwarna merah muda, yang membuatnya secantik bunga di sekelilingnya. Dan entah mengapa, Rival merasa jantungnya berdebar lebih cepat lagi.
***

Rose menghela nafas panjang. Seperti dugaannya, laki-laki yang ia cari tidak ada di taman. Mungkin saja ia belum datang. Rose berjalan pelan, lalu mendudukan dirinya di salah satu kursi taman. Jam menunjukan pukul empat lebih tiga puluh menit. Ia datang lebih cepat dari biasanya, untuk mempersiapkan diri. Sore ini, dia sudah bertekad akan berkenalan dengan laki-laki itu.
            Mata Rose terpejam, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Wangi bunga tercium, membuatnya tersenyum membayangkan bunga cantik yang ada di sebelahnya. Jantungnya berdenyut dengan cepat. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan laki-laki itu. Ia ingin berkenalan dan mengobrol dengannya, tak ingin menyesal lagi seperti kejadian tempo hari.
            Rose merasakan seseorang duduk disampingnya. Tercium aroma rarfum bercampur keringat dari tubuhnya. Rose membuka mata, lalu melirik seseorang yang duduk disampingnya. Laki-laki itu. Rose tersenyum, dan memandang laki-laki itu lebih lama lagi. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat lagi. Tiba-tiba, laki-laki itu menengok kearahnya, bersitatap dengannya. Secara spontan, Rose menengok ke arah lain. Ia malu, tertangkap basah memperhatikan laki-laki itu secara diam-diam. Sedetik kemudian, ia merutuki dirinya sendiri, karena tidak berbicara apapun dan malah membuang muka.
***

Rival mendudukan dirinya disamping perempuan itu. Tercium aroma bunga mawar dari tubuh perempuan itu. Rival tersenyum, namun jantungnya berdenyut jauh lebih cepat lagi. Ia menarik nafas panjang, berusaha menenangkan diri. Dia harus bisa berkenalan dengan perempuan itu.
            Rival mengok ke arah perempuan itu, berniat mengobrol dengannya. Tak disangka, perempuan itu juga menengok kearahnya. Secara spontan, Roval menengok ke arah lain. Ia malu, tertangkap basah menengok ke arah perempuan itu. Sedetik kemudian, ia merutuki dirinya sendiri, karena tidak berbicara apapun dan malah membuang muka.
***

Rose dan Rival tidak menyerah begitu saja. Mereka mencoba lagi, menatap satu sama lain. Degupan jantung terasa begitu cepat, namun mereka menikmatinya. Mereka mencoba bertahan, tanpa mengalihkan pandangan.
            Rasa ragu mulai menyelimuti. Ingin rasanya mereka berkenalan, namun tak tahu harus bagaimana. Menunggu satu sama lain untuk berbicara. Menunggu untuk entah berapa lama.
            “A…”
            Sepatah kata mereka ucapkan bersama. Keduanya terdiam kembali, menunggu satu sama lain berbicara. Suasana kembali canggung. Mereka terus bertatapan, tanpa ada yang berbicara.
            Tak lama, Rose tersenyum. Membuat Rival tertular senyumannya. Mereka tertawa kecil, menertawakan kebodohan-kebodohan yang mereka lakukan. Rival mengulurkan tangannya, berharap Rose akan menyambutnya. Rose tersenyum manis. Tangannya menyambut uluran tangan Rival. Mereka berdiri, lalu meninggalkan taman yang menjadi saksi kisah mereka.
            Di sebuah taman, Rose dan Rival bertemu. Di taman itu juga, mereka mereka memulai kisah mereka. Taman itu merupakan taman yang bersejarah, bahkan berjasa bagi mereka.
            Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Namun, kisah Rival dan Rose telah mematahkan kata-kata itu. Mereka tak mengenal satu sama lain, namun mereka menyukai,—bahkan menyayangi satu sama lain.

***

Author Note.
Gimana ceritanya? Bagus nggak? Kurang dialog ya? wkwk.
Makasih banyak yang kepada yang udah baca cerita ini. Makasih juga kepada yang udah mendukung dan membantu proses pembuatan cerita ini. Ini cerita kedua yang dimuat ke publik. Karena masih amatir, mohon dukungannya^^
Mungkin cerita ini ada lanjutannya, dengan latar yang sama, tapi kisah yang berbeda(?)
Bila ada kesamaan nama, cerita, dll mohon dimaafkan. Itu hanyalah kebetulan

-Nilda.

Jumat, 06 November 2015

Perkenalan Admin

Hai, di post pertama ini kita mau perkenalan. Jadi, di blog ini ada tiga admin, namanya Nilda, Laika, dan Nesa. Kita gak bisa ngejelasin hal pribadi kita karena satu dan lain hal. Kita juga mau ngejelasin jadi di setiap akhir cerita bakal dicantumin nama admin yang ngebuat cerita itu. Kalo kita bikin cerita bertiga atau bareng-bareng nama di akhir ceritanya bakal jadi Lanisa. Kalo kita ngebuat cerita berdua namanya bakalan jadi :
1. Nilda Laika: Laida
2. Laika Nesa: Laisa
3. Nesa Nilda: Nisa

Kita mohon banget jangan ada yang meng- copy cerita ini tanpa seizin kita. Karena, saat kita bikin cerita juga ada perjuangannya. Kita harus berpikir keras supaya ceritanya tetap lanjut. Kita juga terkadang suka kehilangan feel untuk ceritanya jadi kita harus berusaha keras untuk ngembaliin feel itu. Makasih.