Aku tinggal di desa
terpencil di Pulau Oakwawa. Kami hidup dikelilingi dengan hutan belantara.
Namun, hidup kami cukup seperti di kota, kami mempunyai wifi, handphone, rumah mewah, mobil, dan kebutuhan lain yang
dibutuhkan manusia. Keluargaku tergolong dalam keluarga yang lumayan
berkecukupan. Aku tinggal di rumah yang cukup mewah berwarna merah di ujung
jalan Chihuahua. Di rumahku ada kamar tidur dengan kasur berukuran besar.
Keluargaku mempunyai tradisi yaitu, makan dengan alat makan khusus. Kami selalu
makan dengan peralatan makan yang berwarna emas. Kami juga mempunyai binatang
peliharaan, yaitu seekor ular phyton.
Ayahku berencana untuk membeli ular baru agar bisa dinikahkan dengan ular yang
kami punya.
Mungkin setelah menceritakan tentang kehidupanku, pasti
kalian bingung mengapa di desaku bisa seperti di kota. Hal itu masih menjadi
misteri, tetapi aku senang bisa tinggal disini. Banyak keuntungan yang
kudapatkan dengan tinggal di hutan ini. Setiap pagi, aku dapat mencium wangi pepohonan
dan merasakan udara yang sejuk
Aku mempunyai kebiasaan untuk berburu rusa setiap minggu
pagi. Aku selalu sarapan sebelum pergi berburu. Seperti biasa, aku menggunakan
alat makan emasku.
“Mbok, tolong bawain
makanannya ke meja” ucapku.
“Baik!” seru Mbok dari
dapur.
Setelah makanan itu ada
dihadapanku, aku langsung memekannya dengan tergesa-gesa. Teman-temanku sudah
menunggu sedari tadi. Setelah menyelesaikan makanku, aku langsung mengambil
senapan berburu dan mengalungkan talinya di leherku. Aku mulai berlari dan aku
tersandung sesuatu, aku langsung terjatuh. Senapan yang kukalungkan langsung
berbunyi dengan nyaring tanda bahwa pelatuk telah ditarik.
“Untung saja tidak kena
siapapun” ucapku sambil menghelas nafas lega. Aku langsung bangun dan memutar
badanku. Aku menghela nafasku kembali. “Siapa sih yang membiarkan ular itu
keluar dari kandangnya?” keluhku.
“Sebentar yaa, aku mau balikin ularnya ke dalam dulu”
ucapku sebelum mengambil ular itu dari lantai. Dapat kurasakan kulit ular yang
kupegang. Kulitnya yang sedikit kasar tapi licin. Aku langsung berlari ke
lantai atas dan membuka kamar ayahku. Aku membuka pintu kamar ayah dengan
pelan- pelan. Terdengar bunyi pintu terbuka. Aku langsung masuk ke dalamnya dan
menaruh ular itu di atas kasur ayah.
“Diam yaa ular, jangan kemana-mana nanti susah loh
dicarinya!” ucapku walaupun kupikir ular itu tidak akan mengerti. Aku langsung
berjalan melalui pintu dan menutupnya. Aku kembali berlari dan terdengar suara
langkah kaki yang terburu-buru, langkah kakiku. Aku kembali berlari ke pintu
keluar dan kejadian yang sama terulang namun kali ini aku dapat merasakan perih
di kakiku.
Aku menengok kebawah dan melihat keadaan kakiku. Untung
saja, kakiku tidak berdarah hanya lecet saja. Aku langsung mengusap lukaku
dengan air. “Ularnya sama aja yaa, gak yang ini gak yang itu. Sama-sama
ngerepotin” keluhku untuk kedua kalinya. Mungkin karena suara keluhanku yang
terlalu kencang terdengar suara Mama. “Udah kamu pergi aja biar mama yang
naikin ke atas ulernya” ucap Mama.
Aku langsung melanjutkan langkahku kea rah teman-temanku.
“Maaf yaa kalo kelamaan” ucapku menyesal. Terdengar desahan nafas dari Doni,
salah satu teman berburuku. “Kan maaf!” ucapku sekali lagi dengan nada yang
sedikit ditekankan. “Yaudah deh, ayo nanti makin lama makin panas loh” ucap
Momo.
Kami langsung menaiki sepeda dan mengayuh pedalnya ke
hutan. Perjalanan ke hutan mengambil waktu 10 menit, karena letak rumahku yang
tidak jauh dari hutan. Kami meninggalkan sepedanya tepat dipinggir hutan. Kami
langsung berjalan sambil mencari mangsa yang tepat.
“Kita hari ini mau
berburu rusa lagi?” tanyaku di tengah-tengah kesunyian hutan.
“Terserah, kelinci juga
boleh” ucap Doni
“Rusa aja ya, biar
cepet” ucap Momo yang terlihat sedikit bosan. Akhirnya, kami memutuskan untuk
berburu rusa seperti biasanya. Aku melihat ada 1 rusa yang lumayan besar dan
aku langsung mengambil tempat untuk menembak rusa itu. Terdengar suara letupan
senapan yang cukup keras. Kulihat ke arah rusa itu dan menemukan rusa itu sudah
terkapar di atas tanah. Aku yakin bahwa bukan aku yang menembakkan senapan
karena aku pasti akan menyadarinya. Aku langsung kembali berjalan tanpa
memperdulikan rusa yang sudah berada di atas tanah. Aku kembali melihat seekor
rusa, aku langsung memposisikan senapanku dan menembakkannya.
Rusa itu terkapar di atas tanah. Dengan langkah yang
kecil, aku berjalan mendekati rusa itu. Aku berusaha sebisa mungkin agar tidak
terlalu berisik, aku takut harimau yang ada di hutan ini akan tertatik
perhatiaannya. Aku memasangkan tali dan menarik rusa itu kea rah parkiran
sepeda. Kulihat Doni dan Momo sudah berada disana dengan hewan hasil buruannya.
Kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Setelah
sampai di halaman aku melepaskan ikatan rusanya dan membawa rusa itu ke belakang
rumah. Aku berjalan kembali ke halaman dan memposisikan sepedaku. Aku berjalan
ke dalam rumah dengan langkah pelan. Aku berjalan ke kamar dan berbaring di
atas tempat tidur. Aku merasa sangat lelah dan akhirnya aku jatuh tertidur.
-Laika