Selasa, 19 Januari 2016

Edelwella

Ada sebuah kerajaan bernama Edelwella di Negeri Antah Berantah. Ada seorang putri yang masih kecil bernama Clara. Dia adalah penerus takhta Raja Cyrus dan Ratu Siera. Sebenarnya Clara mempunyai seorang kakak, tetapi kakaknya dan suaminya meninggal karena sakit. Tersisa anak dari kakaknya yang bernama Olly.
                Pada suatu hari, diadakan penggambaran putri. Sebenarnya dia menolak, tetapi permintaan yang sudah diujarkan oelh Ayahnya sangat sulit untuk tidak dilakukan. Penggambaran putri memang sudah menjadi kebiasaan di kerajaan Edewella, karena pada saat ini putri kerajaan dijodohkan dengan putra kerajaan seberang.
                Menurut Clara, Olly lebih cocok digambar. Clara tidak suka diatur, hidupnya maupun kisah percintaannya. Oleh karena itu, Calara merencanakan untuk kabur saat penggambaran putri. Ia meminta Olly untuk berdandan seperti dirinya, maka dia bisa kabur dari kerajaan.

                Sehari sebelum penggambaran putri, Clara menyiapkan keperluannya. Pada saat matahari sudah memancarkan sinarnya, Clara pergi. Clara menginginkan kehidupan yang bebas. Maka, ia pergi dengan janji bahwa ia tidak akan kembali. Dia ingin melihat kehidupan diluar kerajaan, merasakan bebasnya hidup diluar.


-Laika

Sabtu, 09 Januari 2016

Kota Hutan

Aku tinggal di desa terpencil di Pulau Oakwawa. Kami hidup dikelilingi dengan hutan belantara. Namun, hidup kami cukup seperti di kota, kami mempunyai wifi, handphone, rumah mewah, mobil, dan kebutuhan lain yang dibutuhkan manusia. Keluargaku tergolong dalam keluarga yang lumayan berkecukupan. Aku tinggal di rumah yang cukup mewah berwarna merah di ujung jalan Chihuahua. Di rumahku ada kamar tidur dengan kasur berukuran besar. Keluargaku mempunyai tradisi yaitu, makan dengan alat makan khusus. Kami selalu makan dengan peralatan makan yang berwarna emas. Kami juga mempunyai binatang peliharaan, yaitu seekor ular phyton. Ayahku berencana untuk membeli ular baru agar bisa dinikahkan dengan ular yang kami punya.
            Mungkin setelah menceritakan tentang kehidupanku, pasti kalian bingung mengapa di desaku bisa seperti di kota. Hal itu masih menjadi misteri, tetapi aku senang bisa tinggal disini. Banyak keuntungan yang kudapatkan dengan tinggal di hutan ini. Setiap pagi, aku dapat mencium wangi pepohonan dan merasakan udara yang sejuk
            Aku mempunyai kebiasaan untuk berburu rusa setiap minggu pagi. Aku selalu sarapan sebelum pergi berburu. Seperti biasa, aku menggunakan alat makan emasku.
“Mbok, tolong bawain makanannya ke meja” ucapku.
“Baik!” seru Mbok dari dapur.
Setelah makanan itu ada dihadapanku, aku langsung memekannya dengan tergesa-gesa. Teman-temanku sudah menunggu sedari tadi. Setelah menyelesaikan makanku, aku langsung mengambil senapan berburu dan mengalungkan talinya di leherku. Aku mulai berlari dan aku tersandung sesuatu, aku langsung terjatuh. Senapan yang kukalungkan langsung berbunyi dengan nyaring tanda bahwa pelatuk telah ditarik.
“Untung saja tidak kena siapapun” ucapku sambil menghelas nafas lega. Aku langsung bangun dan memutar badanku. Aku menghela nafasku kembali. “Siapa sih yang membiarkan ular itu keluar dari kandangnya?” keluhku.
            “Sebentar yaa, aku mau balikin ularnya ke dalam dulu” ucapku sebelum mengambil ular itu dari lantai. Dapat kurasakan kulit ular yang kupegang. Kulitnya yang sedikit kasar tapi licin. Aku langsung berlari ke lantai atas dan membuka kamar ayahku. Aku membuka pintu kamar ayah dengan pelan- pelan. Terdengar bunyi pintu terbuka. Aku langsung masuk ke dalamnya dan menaruh ular itu di atas kasur ayah.
            “Diam yaa ular, jangan kemana-mana nanti susah loh dicarinya!” ucapku walaupun kupikir ular itu tidak akan mengerti. Aku langsung berjalan melalui pintu dan menutupnya. Aku kembali berlari dan terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru, langkah kakiku. Aku kembali berlari ke pintu keluar dan kejadian yang sama terulang namun kali ini aku dapat merasakan perih di kakiku.
            Aku menengok kebawah dan melihat keadaan kakiku. Untung saja, kakiku tidak berdarah hanya lecet saja. Aku langsung mengusap lukaku dengan air. “Ularnya sama aja yaa, gak yang ini gak yang itu. Sama-sama ngerepotin” keluhku untuk kedua kalinya. Mungkin karena suara keluhanku yang terlalu kencang terdengar suara Mama. “Udah kamu pergi aja biar mama yang naikin ke atas ulernya” ucap Mama.
            Aku langsung melanjutkan langkahku kea rah teman-temanku. “Maaf yaa kalo kelamaan” ucapku menyesal. Terdengar desahan nafas dari Doni, salah satu teman berburuku. “Kan maaf!” ucapku sekali lagi dengan nada yang sedikit ditekankan. “Yaudah deh, ayo nanti makin lama makin panas loh” ucap Momo.
            Kami langsung menaiki sepeda dan mengayuh pedalnya ke hutan. Perjalanan ke hutan mengambil waktu 10 menit, karena letak rumahku yang tidak jauh dari hutan. Kami meninggalkan sepedanya tepat dipinggir hutan. Kami langsung berjalan sambil mencari mangsa yang tepat.
“Kita hari ini mau berburu rusa lagi?” tanyaku di tengah-tengah kesunyian hutan.
“Terserah, kelinci juga boleh” ucap Doni
“Rusa aja ya, biar cepet” ucap Momo yang terlihat sedikit bosan. Akhirnya, kami memutuskan untuk berburu rusa seperti biasanya. Aku melihat ada 1 rusa yang lumayan besar dan aku langsung mengambil tempat untuk menembak rusa itu. Terdengar suara letupan senapan yang cukup keras. Kulihat ke arah rusa itu dan menemukan rusa itu sudah terkapar di atas tanah. Aku yakin bahwa bukan aku yang menembakkan senapan karena aku pasti akan menyadarinya. Aku langsung kembali berjalan tanpa memperdulikan rusa yang sudah berada di atas tanah. Aku kembali melihat seekor rusa, aku langsung memposisikan senapanku dan menembakkannya.
            Rusa itu terkapar di atas tanah. Dengan langkah yang kecil, aku berjalan mendekati rusa itu. Aku berusaha sebisa mungkin agar tidak terlalu berisik, aku takut harimau yang ada di hutan ini akan tertatik perhatiaannya. Aku memasangkan tali dan menarik rusa itu kea rah parkiran sepeda. Kulihat Doni dan Momo sudah berada disana dengan hewan hasil buruannya.

            Kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Setelah sampai di halaman aku melepaskan ikatan rusanya dan membawa rusa itu ke belakang rumah. Aku berjalan kembali ke halaman dan memposisikan sepedaku. Aku berjalan ke dalam rumah dengan langkah pelan. Aku berjalan ke kamar dan berbaring di atas tempat tidur. Aku merasa sangat lelah dan akhirnya aku jatuh tertidur.


-Laika

Koira

Namaku Kora. Aku mempunyai seorang kembaran bernama Kira. Aku menganggapnya sebagai sahabat, bukannya sebagai saudara. Orang mungkin berpikir bahwa kesukaan kami sama tapi perkiraan mereka sangat berbeda dengan kenyataannya. Sifatku sering kali bertolak belakang dengan sifat Kira. Aku jarang putus asa dalam mengerjakan sebuah pekerjaan tapi Kira sering putus asa. Aku anak kesayangan mama dan Kira anak kesayangan papa. Dan masih banyak lagi perbedaan diantara kita.
Kebiaasaan kami di kehidupan sehari-hari pun berbeda. Aku lebih sering mandi terlebih dahulu untuk memulai hari, sedangkan Kira lebih suka sarapan terlebih dahulu. Aku lebih sering belajar daripada bermain, sedangkan Kira lebih sering bermain daripada belajar. Warna kesukaan kami pun berbeda. Beserta hal lainnya yang orang pikir kami memiliki selera yang sama.
Disekolah, kami dimasukkan ke dua kelas yang berbeda, tetapi saat istirahat kami selalu bersama. Tidak banyak orang yang tahu bahwa kami adalah saudara kembar. Wajah kami mirip tapi tidak serupa. Kami tentu mempunyai sahabat lain yang selalu bersama kami. Jadi aku dan Kira tidak selalu bersama.
Pada suatu hari, ayah memutuskan untuk pindah ke negara lain karena keperluan pekerjaannya. Ayah berniat membawa kami semua untuk pindah kesana, tetapi ibu mengatakan bahwa disana susah untuk mencari sekolah. Ibu menyarankan untuk membawaku terlebih dahulu, karena nilaiku yang selalu diatas rata-rata, ada kemungkinan yang cukup besar aku akan mendapatkan sekolah disana. Aku tidak mempercayai keputusan ayah dan ibu untuk memisahkan aku dan Kira. Karena, mereka tahu bahwa dari kecil kami memang selalu bersama-sama dan tidak terpisahkan.
Aku memberitahukan hal ini kepada Kira. Pada awalnya Kira tidak mempercayai perkataanku, jadi dia segera menanyakan hal ini kepada ayah dan ayah mengatakan hal yang serupa. Kami berdua menangis. Karena tidak ingin dipisahkan, kami merencanakan untuk merubah keputusan ayah, entah untuk merubahnya menjadi kita berdua ikut atau kita berdua tetap disini.
Kami menjalankan rencana ini setiap hari, selama 2 minggu. Pada hari pertama di minggu ketiga, ayah mengatakan bahwa percuma saja jika kita berusaha mengubah keputusannya, karena keputusannya tidak akan berubah. Ayah takut Kira tidak akan mendapatkan sekolah disana. Aku menerima keputusan ayah dengn setengah hati karena aku tahu bahwa keputusan ini sudah final dan tidak bisa dirubah lagi.
Pada bulan Desember, aku dan ayah pergi. Aku mengucapkan selamat tinggal pada ibu dan Kira. Kulihat di mata Kira ada sebulir air mata yang menetes. Kami sudah mengikhlaskan keputusan ayah dan memang sudah seharusnya di saat perpisahan tidak ada sebulir air mata pun yang menetes. Ayah berkata sebelum kami pergi, bahwa Kira hanya aka nada disini sampai kenaikan kelas. Setelah itu semuanya akan pindah ke kota Paris, kota tujuanku dan ayah saat ini.
Saat kami sedang berpelukan, terdengar panggilang penumpang. Kami segera melepaskan pelukan dan mengucapkan selamat tinggal. Aku dan ayah berjalan ke pesawat yang membawa kami ke Paris. Kulihat keluar jendela, dan disana ada pemandangan indah dari kota yang sudah dari kecil aku tinggali. Berat rasanya meninggalkan kota ini, kota dengan berjuta-juta kenangan dari masa kecilku.
Selang beberapa jam, akhirnya aku dan ayah sampai di Paris. Selama disanaa, aku selalu melakukan kebiasaanku di Jakarta. Aku juga dapat mengobati rasa rinduku dengan ibu dan Kira, karena aku selalu berhubungan dengan mereka lewat media social. Hari demi hari berlalu, dan tidak terasa sudah waktunya ujian kenaikan kelas. Aku menjalani ujian ini dengan semangat, karena meningat Kira yang sebentar lagi akan datang dan menetap di Paris.
Dua minggu setelah ujian, aku dikejutkan dengan kedatangan Kira dan ibu yang secar tiba-tiba. Ayah tidak memberitahuku bahwa mereka akan datang hari ini. Aku menyambut mereka dengan gembira. Ternyata penantianku menunggu hari ini tidak sia-sia. Dan pada akhirnya aku tahu bahwa kami sekeluarga pasti akan bersama-sama kembali.



-Laika