Namaku
Kora. Aku mempunyai seorang kembaran bernama Kira. Aku menganggapnya sebagai
sahabat, bukannya sebagai saudara. Orang mungkin berpikir bahwa kesukaan kami
sama tapi perkiraan mereka sangat berbeda dengan kenyataannya. Sifatku sering
kali bertolak belakang dengan sifat Kira. Aku jarang putus asa dalam
mengerjakan sebuah pekerjaan tapi Kira sering putus asa. Aku anak kesayangan
mama dan Kira anak kesayangan papa. Dan masih banyak lagi perbedaan diantara
kita.
Kebiaasaan
kami di kehidupan sehari-hari pun berbeda. Aku lebih sering mandi terlebih
dahulu untuk memulai hari, sedangkan Kira lebih suka sarapan terlebih dahulu.
Aku lebih sering belajar daripada bermain, sedangkan Kira lebih sering bermain
daripada belajar. Warna kesukaan kami pun berbeda. Beserta hal lainnya yang
orang pikir kami memiliki selera yang sama.
Disekolah,
kami dimasukkan ke dua kelas yang berbeda, tetapi saat istirahat kami selalu
bersama. Tidak banyak orang yang tahu bahwa kami adalah saudara kembar. Wajah
kami mirip tapi tidak serupa. Kami tentu mempunyai sahabat lain yang selalu
bersama kami. Jadi aku dan Kira tidak selalu bersama.
Pada
suatu hari, ayah memutuskan untuk pindah ke negara lain karena keperluan
pekerjaannya. Ayah berniat membawa kami semua untuk pindah kesana, tetapi ibu
mengatakan bahwa disana susah untuk mencari sekolah. Ibu menyarankan untuk
membawaku terlebih dahulu, karena nilaiku yang selalu diatas rata-rata, ada
kemungkinan yang cukup besar aku akan mendapatkan sekolah disana. Aku tidak
mempercayai keputusan ayah dan ibu untuk memisahkan aku dan Kira. Karena,
mereka tahu bahwa dari kecil kami memang selalu bersama-sama dan tidak
terpisahkan.
Aku
memberitahukan hal ini kepada Kira. Pada awalnya Kira tidak mempercayai
perkataanku, jadi dia segera menanyakan hal ini kepada ayah dan ayah mengatakan
hal yang serupa. Kami berdua menangis. Karena tidak ingin dipisahkan, kami
merencanakan untuk merubah keputusan ayah, entah untuk merubahnya menjadi kita
berdua ikut atau kita berdua tetap disini.
Kami
menjalankan rencana ini setiap hari, selama 2 minggu. Pada hari pertama di
minggu ketiga, ayah mengatakan bahwa percuma saja jika kita berusaha mengubah
keputusannya, karena keputusannya tidak akan berubah. Ayah takut Kira tidak
akan mendapatkan sekolah disana. Aku menerima keputusan ayah dengn setengah
hati karena aku tahu bahwa keputusan ini sudah final dan tidak bisa dirubah
lagi.
Pada
bulan Desember, aku dan ayah pergi. Aku mengucapkan selamat tinggal pada ibu
dan Kira. Kulihat di mata Kira ada sebulir air mata yang menetes. Kami sudah
mengikhlaskan keputusan ayah dan memang sudah seharusnya di saat perpisahan
tidak ada sebulir air mata pun yang menetes. Ayah berkata sebelum kami pergi,
bahwa Kira hanya aka nada disini sampai kenaikan kelas. Setelah itu semuanya
akan pindah ke kota Paris, kota tujuanku dan ayah saat ini.
Saat
kami sedang berpelukan, terdengar panggilang penumpang. Kami segera melepaskan
pelukan dan mengucapkan selamat tinggal. Aku dan ayah berjalan ke pesawat yang
membawa kami ke Paris. Kulihat keluar jendela, dan disana ada pemandangan indah
dari kota yang sudah dari kecil aku tinggali. Berat rasanya meninggalkan kota
ini, kota dengan berjuta-juta kenangan dari masa kecilku.
Selang
beberapa jam, akhirnya aku dan ayah sampai di Paris. Selama disanaa, aku selalu
melakukan kebiasaanku di Jakarta. Aku juga dapat mengobati rasa rinduku dengan
ibu dan Kira, karena aku selalu berhubungan dengan mereka lewat media social.
Hari demi hari berlalu, dan tidak terasa sudah waktunya ujian kenaikan kelas.
Aku menjalani ujian ini dengan semangat, karena meningat Kira yang sebentar
lagi akan datang dan menetap di Paris.
Dua
minggu setelah ujian, aku dikejutkan dengan kedatangan Kira dan ibu yang secar
tiba-tiba. Ayah tidak memberitahuku bahwa mereka akan datang hari ini. Aku
menyambut mereka dengan gembira. Ternyata penantianku menunggu hari ini tidak
sia-sia. Dan pada akhirnya aku tahu bahwa kami sekeluarga pasti akan
bersama-sama kembali.
-Laika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar