Sabtu, 09 Januari 2016

Koira

Namaku Kora. Aku mempunyai seorang kembaran bernama Kira. Aku menganggapnya sebagai sahabat, bukannya sebagai saudara. Orang mungkin berpikir bahwa kesukaan kami sama tapi perkiraan mereka sangat berbeda dengan kenyataannya. Sifatku sering kali bertolak belakang dengan sifat Kira. Aku jarang putus asa dalam mengerjakan sebuah pekerjaan tapi Kira sering putus asa. Aku anak kesayangan mama dan Kira anak kesayangan papa. Dan masih banyak lagi perbedaan diantara kita.
Kebiaasaan kami di kehidupan sehari-hari pun berbeda. Aku lebih sering mandi terlebih dahulu untuk memulai hari, sedangkan Kira lebih suka sarapan terlebih dahulu. Aku lebih sering belajar daripada bermain, sedangkan Kira lebih sering bermain daripada belajar. Warna kesukaan kami pun berbeda. Beserta hal lainnya yang orang pikir kami memiliki selera yang sama.
Disekolah, kami dimasukkan ke dua kelas yang berbeda, tetapi saat istirahat kami selalu bersama. Tidak banyak orang yang tahu bahwa kami adalah saudara kembar. Wajah kami mirip tapi tidak serupa. Kami tentu mempunyai sahabat lain yang selalu bersama kami. Jadi aku dan Kira tidak selalu bersama.
Pada suatu hari, ayah memutuskan untuk pindah ke negara lain karena keperluan pekerjaannya. Ayah berniat membawa kami semua untuk pindah kesana, tetapi ibu mengatakan bahwa disana susah untuk mencari sekolah. Ibu menyarankan untuk membawaku terlebih dahulu, karena nilaiku yang selalu diatas rata-rata, ada kemungkinan yang cukup besar aku akan mendapatkan sekolah disana. Aku tidak mempercayai keputusan ayah dan ibu untuk memisahkan aku dan Kira. Karena, mereka tahu bahwa dari kecil kami memang selalu bersama-sama dan tidak terpisahkan.
Aku memberitahukan hal ini kepada Kira. Pada awalnya Kira tidak mempercayai perkataanku, jadi dia segera menanyakan hal ini kepada ayah dan ayah mengatakan hal yang serupa. Kami berdua menangis. Karena tidak ingin dipisahkan, kami merencanakan untuk merubah keputusan ayah, entah untuk merubahnya menjadi kita berdua ikut atau kita berdua tetap disini.
Kami menjalankan rencana ini setiap hari, selama 2 minggu. Pada hari pertama di minggu ketiga, ayah mengatakan bahwa percuma saja jika kita berusaha mengubah keputusannya, karena keputusannya tidak akan berubah. Ayah takut Kira tidak akan mendapatkan sekolah disana. Aku menerima keputusan ayah dengn setengah hati karena aku tahu bahwa keputusan ini sudah final dan tidak bisa dirubah lagi.
Pada bulan Desember, aku dan ayah pergi. Aku mengucapkan selamat tinggal pada ibu dan Kira. Kulihat di mata Kira ada sebulir air mata yang menetes. Kami sudah mengikhlaskan keputusan ayah dan memang sudah seharusnya di saat perpisahan tidak ada sebulir air mata pun yang menetes. Ayah berkata sebelum kami pergi, bahwa Kira hanya aka nada disini sampai kenaikan kelas. Setelah itu semuanya akan pindah ke kota Paris, kota tujuanku dan ayah saat ini.
Saat kami sedang berpelukan, terdengar panggilang penumpang. Kami segera melepaskan pelukan dan mengucapkan selamat tinggal. Aku dan ayah berjalan ke pesawat yang membawa kami ke Paris. Kulihat keluar jendela, dan disana ada pemandangan indah dari kota yang sudah dari kecil aku tinggali. Berat rasanya meninggalkan kota ini, kota dengan berjuta-juta kenangan dari masa kecilku.
Selang beberapa jam, akhirnya aku dan ayah sampai di Paris. Selama disanaa, aku selalu melakukan kebiasaanku di Jakarta. Aku juga dapat mengobati rasa rinduku dengan ibu dan Kira, karena aku selalu berhubungan dengan mereka lewat media social. Hari demi hari berlalu, dan tidak terasa sudah waktunya ujian kenaikan kelas. Aku menjalani ujian ini dengan semangat, karena meningat Kira yang sebentar lagi akan datang dan menetap di Paris.
Dua minggu setelah ujian, aku dikejutkan dengan kedatangan Kira dan ibu yang secar tiba-tiba. Ayah tidak memberitahuku bahwa mereka akan datang hari ini. Aku menyambut mereka dengan gembira. Ternyata penantianku menunggu hari ini tidak sia-sia. Dan pada akhirnya aku tahu bahwa kami sekeluarga pasti akan bersama-sama kembali.



-Laika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar