Sabtu, 09 Januari 2016

Kota Hutan

Aku tinggal di desa terpencil di Pulau Oakwawa. Kami hidup dikelilingi dengan hutan belantara. Namun, hidup kami cukup seperti di kota, kami mempunyai wifi, handphone, rumah mewah, mobil, dan kebutuhan lain yang dibutuhkan manusia. Keluargaku tergolong dalam keluarga yang lumayan berkecukupan. Aku tinggal di rumah yang cukup mewah berwarna merah di ujung jalan Chihuahua. Di rumahku ada kamar tidur dengan kasur berukuran besar. Keluargaku mempunyai tradisi yaitu, makan dengan alat makan khusus. Kami selalu makan dengan peralatan makan yang berwarna emas. Kami juga mempunyai binatang peliharaan, yaitu seekor ular phyton. Ayahku berencana untuk membeli ular baru agar bisa dinikahkan dengan ular yang kami punya.
            Mungkin setelah menceritakan tentang kehidupanku, pasti kalian bingung mengapa di desaku bisa seperti di kota. Hal itu masih menjadi misteri, tetapi aku senang bisa tinggal disini. Banyak keuntungan yang kudapatkan dengan tinggal di hutan ini. Setiap pagi, aku dapat mencium wangi pepohonan dan merasakan udara yang sejuk
            Aku mempunyai kebiasaan untuk berburu rusa setiap minggu pagi. Aku selalu sarapan sebelum pergi berburu. Seperti biasa, aku menggunakan alat makan emasku.
“Mbok, tolong bawain makanannya ke meja” ucapku.
“Baik!” seru Mbok dari dapur.
Setelah makanan itu ada dihadapanku, aku langsung memekannya dengan tergesa-gesa. Teman-temanku sudah menunggu sedari tadi. Setelah menyelesaikan makanku, aku langsung mengambil senapan berburu dan mengalungkan talinya di leherku. Aku mulai berlari dan aku tersandung sesuatu, aku langsung terjatuh. Senapan yang kukalungkan langsung berbunyi dengan nyaring tanda bahwa pelatuk telah ditarik.
“Untung saja tidak kena siapapun” ucapku sambil menghelas nafas lega. Aku langsung bangun dan memutar badanku. Aku menghela nafasku kembali. “Siapa sih yang membiarkan ular itu keluar dari kandangnya?” keluhku.
            “Sebentar yaa, aku mau balikin ularnya ke dalam dulu” ucapku sebelum mengambil ular itu dari lantai. Dapat kurasakan kulit ular yang kupegang. Kulitnya yang sedikit kasar tapi licin. Aku langsung berlari ke lantai atas dan membuka kamar ayahku. Aku membuka pintu kamar ayah dengan pelan- pelan. Terdengar bunyi pintu terbuka. Aku langsung masuk ke dalamnya dan menaruh ular itu di atas kasur ayah.
            “Diam yaa ular, jangan kemana-mana nanti susah loh dicarinya!” ucapku walaupun kupikir ular itu tidak akan mengerti. Aku langsung berjalan melalui pintu dan menutupnya. Aku kembali berlari dan terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru, langkah kakiku. Aku kembali berlari ke pintu keluar dan kejadian yang sama terulang namun kali ini aku dapat merasakan perih di kakiku.
            Aku menengok kebawah dan melihat keadaan kakiku. Untung saja, kakiku tidak berdarah hanya lecet saja. Aku langsung mengusap lukaku dengan air. “Ularnya sama aja yaa, gak yang ini gak yang itu. Sama-sama ngerepotin” keluhku untuk kedua kalinya. Mungkin karena suara keluhanku yang terlalu kencang terdengar suara Mama. “Udah kamu pergi aja biar mama yang naikin ke atas ulernya” ucap Mama.
            Aku langsung melanjutkan langkahku kea rah teman-temanku. “Maaf yaa kalo kelamaan” ucapku menyesal. Terdengar desahan nafas dari Doni, salah satu teman berburuku. “Kan maaf!” ucapku sekali lagi dengan nada yang sedikit ditekankan. “Yaudah deh, ayo nanti makin lama makin panas loh” ucap Momo.
            Kami langsung menaiki sepeda dan mengayuh pedalnya ke hutan. Perjalanan ke hutan mengambil waktu 10 menit, karena letak rumahku yang tidak jauh dari hutan. Kami meninggalkan sepedanya tepat dipinggir hutan. Kami langsung berjalan sambil mencari mangsa yang tepat.
“Kita hari ini mau berburu rusa lagi?” tanyaku di tengah-tengah kesunyian hutan.
“Terserah, kelinci juga boleh” ucap Doni
“Rusa aja ya, biar cepet” ucap Momo yang terlihat sedikit bosan. Akhirnya, kami memutuskan untuk berburu rusa seperti biasanya. Aku melihat ada 1 rusa yang lumayan besar dan aku langsung mengambil tempat untuk menembak rusa itu. Terdengar suara letupan senapan yang cukup keras. Kulihat ke arah rusa itu dan menemukan rusa itu sudah terkapar di atas tanah. Aku yakin bahwa bukan aku yang menembakkan senapan karena aku pasti akan menyadarinya. Aku langsung kembali berjalan tanpa memperdulikan rusa yang sudah berada di atas tanah. Aku kembali melihat seekor rusa, aku langsung memposisikan senapanku dan menembakkannya.
            Rusa itu terkapar di atas tanah. Dengan langkah yang kecil, aku berjalan mendekati rusa itu. Aku berusaha sebisa mungkin agar tidak terlalu berisik, aku takut harimau yang ada di hutan ini akan tertatik perhatiaannya. Aku memasangkan tali dan menarik rusa itu kea rah parkiran sepeda. Kulihat Doni dan Momo sudah berada disana dengan hewan hasil buruannya.

            Kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Setelah sampai di halaman aku melepaskan ikatan rusanya dan membawa rusa itu ke belakang rumah. Aku berjalan kembali ke halaman dan memposisikan sepedaku. Aku berjalan ke dalam rumah dengan langkah pelan. Aku berjalan ke kamar dan berbaring di atas tempat tidur. Aku merasa sangat lelah dan akhirnya aku jatuh tertidur.


-Laika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar