Kamis, 11 Agustus 2016

Dekat Namun Jauh 2

“Lo mau sampe kapan meluk gue?” Tanya Tian.
“Eh, enggak kok. Kita udah sampe rumah ya?” Tanyaku balik.
“Iyalah udah nyampe, elo sih melukin gue mulu.” Ucapnya dengan jahil.
“Udah ya, gue masuk duluan.” Ucapku sambil meninggalkannya di depan rumah.
Saat masuk ke dalam rumah aku masih menemukan rumah yang sepi. Aku pun langsung bertanya pada Bi Inah yang sedang berada di meja makan.
“Bi, mama sama papa belom pulang?” Tanyaku pada bibi.
“Belom non.” Jawab Bi Inah.
“Ya udah aku ke kamar dulu ya bi.” Ucapku sambil meninggalkan Bi Inah di meja makan.
Saat masuk ke dalam kamar aku langsung meletakkan buku yang kubeli di atas meja belajar dan mengganti baju dengan baju tidur. Setelah itu aku langsung berbaring di atas tempat tidur karena kelelahan.Tiba-tiba handphoneku berbunyi.
“Halo.” Ucapku.
“Halo Sha, lo belom tidur kan?” Tanya Lucy.
“Belom, udah cepetan kenapa?” Tanyaku pada Lucy.
“Gue minta besok lo dateng pagi ya.” Pinta Lucy.
“Gue gak tau bisa atau enggak, kan gue berangkat bareng Tian.” Ucapku.
“Ya udah nanti gue bilang ke Tian, nyuruh dia biar berangkat lebih cepet.” Ucap Lucy.
“Udah kan Luc? Cuma mau ngomong itu doang? Gue matiin ya?” Tanyaku pada Lucy.
“Tunggu dulu gue mau cerita.” Ucap Lucy.
“Ya udah kenapa? Tapi kalo ditengah-tengah lo cerita udah gak ada suara berarti gue udah tidur ya.” Ucapku sebelum mendengarkan ceritanya.
“Yee lu mah, ya udah deh. Jadi tiba-tiba Rafa ngeadd gue di line.” Ucap Lucy.
“Terus?” Tanyaku.
“Ya otomatis gue seneng lah. Kan harusnya gue yang ngeadd dia tapi ternyata dia ngeadd gue duluan.” Ucap Lucy senang.
“Oke. Sekarang gue juga mau cerita.” Ucapku.
“Apaan?” Tanya Lucy.
“Kayaknya gue suka sama Tian.” Ucapku santai.
“HAH?!? Lo suka sama Tian?” Tanya Lucy memastikan.
“Kan masih kayaknya. Siapa tau gue cuma sayang doang sama dia.” Ucapku mengelak.
“Udah lo pasti suka deh sama dia.” Ucap Lucy meyakinkan.
“Loh! Emang kalo ciri-ciri gue suka sama dia gimana?” Tanyaku pada Lucy
“Lo bakal blushing kalo dipuji, bakalan nyaman kalo di deket dia, trus pas dia ngobrol atau megang tangan lo, lo bakalan deg-degan.” Jelas Lucy.
“Gue sih emang ngerasain itu semua….” Ucapku.
“Tuh kan bener.” Ucap Lucy menyela ucapanku.
“Tapi bisa jadi gue ngerasa kaya gitu karena gue gak pernah ngerasain deket sama cowok sebelumnya.” Ucapku berusaha mengelak.
“Tapi sudah dipastikan bahwa lo suka sama dia, walaupun lo belum nyadar.” Ucap Lucy.
“Udah ya, gue mau tidur.” Ucapku sebelum memutuskan sambungan teleponku dengan Lucy.
“Ya udah, sweet dream. Ayesha Brigitta.” Ucap Lucy sebelum memutuskan sambungannya.
Setelah beberapa menit, tiba-tiba teleponku berbunyi kembali, tetapi kali ini adalah bunyi pesan masuk.
‘Sha, kata Lucy besok kita disuruh dateng lebih pagi. Jangan ngaret ya!’ Itulah bunyi pesan Tian yang ada di whatsapp.
‘Oke, Lo udah mau tidur?’ Tanyaku padanya.
‘Gue masih banyak tugas, lo udah mau tidur?’ Tanya Tian.
‘Baru aja gue mau tidur, eh lo nge whatsapp’ Jawabku.
‘Oke maaf. Sleep tight Ayesha Brigitta. Jangan lupa mimpiin gue ya’ Tulis Tian pada pesan yang dikirimkannya
‘Mau banget dimimpiin lo!’ Balasku sambil tersenyum sendiri.
Setelah berbalas pesan dengan Tian aku pun langsung menaruh handphoneku di meja samping tempat tidurku. Aku pun langsung terlelap karena kelelahan.

*****************
Keesokan paginya, aku terbangun pukul 06.00. Aku langsung bersiap-siap untuk ke sekolah karena hari ini aku harus datang lebih cepat. Aku menghabiskan 20 menit untuk bersiap-siap dan setelah selesai aku langsung keluar dari kamar dan berjalan ke meja makan untuk sarapan.
“Pagi ma, pa.” Ucapku saat melihat mama dan papaku sedang duduk di meja makan untuk sarapan.
“Ayo sarapan dulu Sha.” Ucap mama sambil menyuruhku duduk.
Aku langsung duduk dan memakan sarapanku. Sarapan pagi ini dipenuhi canda tawa karena biasanya kami tidak pernah sarapan bersama kecuali saat hari libur. Pada pukul 06.30, Tian datang menjemput dan aku langsung pamit untuk pergi ke sekolah.
“Gue kira bakal nungguin lo lama, ternyata gue baru dateng lo udah selesai. Udah yok ke sekolah daripada nanti kita diomelin sama Lucy.” Ucap Tian saat melihatku keluar rumah.
“Gue juga tau kali kalo hari ini harus dateng pagi makanya gue lebih pagi bangunnya.” Ucapku kesal.
“Lo gak mau meluk gue lagi? Ntar jatoh aja.” Ucap Tian dengan jahil.
“Kemaren kan terpaksa, kalo lo enggak kenceng-kenceng gue gak bakal pegangan kali.” Elakku.
“Jadi kalo gue kenceng-kenceng lagi bawa motornya, lo bakal meluk gue?” Tanya Tian.
“Iyalah daripada gue jatoh.” Ucapku.
“Ya udah gue kenceng aja bawa motornya biar lo meluk gue.” Ucap Tian.
“Awas aja lo sampe kenceng-kenceng.” Ucapku.
Setelah perdebatan kecil kami selesai, dia segera melajukan motornya dengan kencang, otomatis aku langsung memeluknya lagi supaya tidak terjatuh. Setelah 5 menit perjalanan, kami pun sampai di depan gerbang sekolah, aku langsung turun dari motor, sedangkan Tian memakirkan motornya di parkiran samping sekolah. Aku menunggu sekitar 3 menit sebelum Tian datang dengan berlari kecil.
“Lo kenapa lari-lari gitu?” Tanyaku pada Tian.
“Gue takut lo nunggu kelamaan, soalnya tadi gue ngobrol agak lama sama Rafa. Ntar lo ngambek kalo gue kelamaan.”ucap Tian.
“Ya udah deh terserah, ayo ke kelas.” Ucapku sambil menarik tangan Tian.
*********
Setelah liburan kenaikan kelas, aku memeriksa namaku di daftar siswa dan menemukan nama ‘Ayesha Brigitta’ di kelas XI IPA 2 sedangkan aku tidak dapat menemukan nama christian Morten di kelas manapun. Aku pun bertanya pada Lucy “Luc, Tian kok gak ada dimana-mana ya?” Tanyaku pada Lucy.
“Emang lo gak tau?” Tanya Lucy.
“Emang kenapa?” Tanyaku kembali.
“Tian kan pindah ke Aussie tahun ini.” Jawab Lucy.
“Hah! Pindah?” Tanyaku.
“Iya, dia berangkat besok, lo Tanya aja sama dianya.” Jawab Lucy.
“Oke, thanks infonya.” Jawabku lalu berjalan pergi ke kelas.
Setelah sampai di kelas, aku langsung mengirim pesan untuk Tian.
‘Tian, lo mau pergi ke Aussie besok?’
Setelah setengah menit menunggu, akhirnya Tian membalas pesanku.
‘Iya, gue mau pindah besok. Gue mohon lo dateng.’
‘Lo pergi jam berapa?’
‘Jam 5.’
‘Oke’
********
Jam menunjukkan pukul 4.30 sore. Aku pun langsung bergegas pergi ke bandara. Setelah 25 menit perjalanan, aku langsung bergegas pergi ke terminal 2D. Aku berharap, Tian masih belum pergi.
“Tiann!” Teriakku saat melihat Tian sedang berjalan memasuki pintu keberangkatan. Aku pun langsung bergegas meyusulnya.
“Lo bakal balik lagi gak kesini?” Tanyaku saat sudah di hadapannya.
“Gue bakal balik kok.” Ucapnya.
“Kalo begitu sampai jumpa.” Ucapku lesu.
“Lo mau gak nungguin gue?” Tanya Tian sebelum kami berpisah.
“Gue pasti bakal nungguin lo.” Ucapku sedih
Kami pun berpelukan dan kami saling berbisik,”I Love You”
Setelah kami saling melepaskan pelukan, Tian pun pergi ke Aussie dan aku langsung pulang ke rumah.
Saat di rumah, aku hanya mengucapkan salam kepada orang tuaku dan berjalan pergi ke kamarku. Aku hanya memandangi foto Tian dan berharap bahwa dia tetap di Indonesia. Aku merasa lega karena telah menungkapkan perasaanku terhadapnya dan aku juga merasa senang karena dia merasakan hal yang sama. Setahuku perjalanan dari Indonesia ke Australia tidak terlalu lama, maka aku menunggu Tian untuk mengirimkan pesan bahwa dia sudah berada disana, karena terlalu lama menunggu aku pun tertidur.
********
Keesokan harinya, aku lansgsung mengambil handphone untuk melihat ada pesan atau tidak. Aku berharap bahwa Tian baik-baik saja karena dia masih belum juga mengirimkan pesan. Saat siang hari pun aku menunggu pesan darinya, karena bosan aku menyempatkan diri untuk pergi ke toko buku. Disana aku hanya terdiam sambil membaca halaman belakang sebuah novel, tanpa berniat untuk membelinya. Saat pulang dari toko buku aku masih menunggu pesan dari Tian tetapi yang kudapatkan hanya pesan dari Lucy.
‘Sha, Tian sha’
Aku pun langsung menjawab ‘Tian kenapa Luc?’
‘Tian kecelakan’
Aku pun langsung shock setelah membaca pesan itu ‘Gak mungkin, Tian gak mungkin kecelakaan’
‘Lo mending liat berita deh’
Setelah membaca pesan itu, aku langsung berlari secepat yang aku bisa ke rumah dan menyalakan TV. Ternyata berita yang diberitahukan Lucy memang benar. Lo gak bisa ninggalin gue secepat ini. 

-Laika

Dekat Namun Jauh

Saat pertama kali masuk SMA, ada seorang lelaki yang sangat baik dan ramah. Setelah beberapa bulan kenal, kami menjadi sangat akrab layaknya sahabat. Dia pun sering menjemputku di rumah untuk berangkat sekolah bersama. Aku sering merasa nyaman jika bersamanya dan kami saling menyayangi layaknya seorang kakak-beradik.
“Nanti lo mau pergi ke toko buku gak? Mumpung gue lagi mau nyari buku buat tugas.” Tanya Tian padaku.
“Ayo deh, lagian buku novel gue udah dibaca semua.” Jawabku.
“Yaudah, nanti kesananya mau langsung atau mau pulang dulu?” Tanya Tian kembali.
“Pulang dulu aja, soalnya gue mau ganti baju sekalian ngambil uang di rumah.” Jawabku kembali.
“Lo gak bosen apa baca terus? Kalo ngajak pergi paling cuma minta nemenin ke toko buku abis itu beli novel lagi.” Tanya Tian sambil memainkan handphone.
“Enggaklah, gue gak bakal bosen karena baca novel itu hobi gue.” Jawabku sambil mengeluarkan buku novel dari tas.
“Yaudah lo puas-puasin deh baca! Gue ke kantin dulu ya!” Ucap Tian sambil berjalan pergi.
Saat sedang asyik membaca buku berjudul ’A Song For Alexa’, tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku.
“Hai Sha, lo gak ke kantin?” Tanya Lucy mengagetkanku.
“Gue kirain Tian, ternyata elo. Gue lagi males ke kantin soalnya lagi baca.” Ucapku sambil melanjutkan membaca buku.
“Lo kenapa baca buku mulu sih? Gak bosen?” Tanya Lucy padaku.
“Denger ya Lucy sayang!! Baca buku itu hobi gue dan gue kasih tahu jangan pernah nanya itu lagi!” Jawabku kesal.
“Selow aja Mba bro, gue kan nanyanya pelan-pelan.” Jawab Lucy sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya padaku.
“Udah deh mending lo ke kantin!” Usirku halus.
“Lo kok gitu sih sama temen sendiri malah ngusir.” Jawab Lucy dengan kesal.
“Gue paling gak suka kalo lagi baca digangguin.” Jawabku dengan penuh penekanan agar Lucy segera pergi.
“Iya deh gue pergi.” Ucap Lucy sambil melangkah pergi.
Saat melanjutkan membaca buku ‘A Song For Alexa’, tiba-tiba ada suara yang mengejutkanku kembali
“Apaan sih? Gue kan udah bilang kalo lagi baca gak mau diganggu.” Ucapku tanpa menoleh ke tempat duduk disampingku.
“Kapan lo bilangnya? Gue kan baru aja dateng dari kantin.” Jawab orang disebelahku.
Karena mendengar suara yang berat, aku langsung menoleh dan mendapatkan Tian sedang meminum es tehnya.
“Oh, gue kirain si Lucy.” Jawabku sambil melanjutkan membaca buku kembali.
“Lo gak makan?” Tanya Tian kepadaku.
“Gue gak laper dan gue lagi anteng baca buku.” Jawabku.
“Pantesan aja, tadi gue dateng lo gak nyadar.” Balas Tian.
“Nanti gue gak nungguin ya. Gue mau ke rumah gue dulu abis itu baru balik jemput lo di rumah lo.” Ucap Tian.
“Nanti kita pergi jam berapa?” Tanyaku pada Tian.
“Jam 4.15 aja kali ya!” Ucap Tian.
“Jam setengah lima aja biar sekalian gue sempet ngeberesin barang-barang yang besok gue bawa.” Balasku.
“Yaudah.” Jawab Tian singkat sebelum bangkit dari tempat duduk di sebelahku dan berjalan ke tempat duduknya.
Tiba-tiba Lucy datang dengan nafas yang terengah-engah.
“Lo kenapa Luc? Kayak habis dikejar sama banci.” Ucapku sambil terkekeh.
“Gila, gue dikejar-kejar sama Bobby anak sebelah.” Ucap Lucy sambil mengatur nafasnya.
“Yang suka ngasih bunga dan surat ke elo?” Tanyaku pada Lucy.
“Iya.” Ucapnya sambil mengatur nafasnya kembali.
“Emang gimana kejadiannya sampe bisa dikejar sama Bobby?” Tanyaku kembali.
“Jadi, tadi pas gue jalan di kantin gue liat ada Bobby makanya gue langsung menghindar dan kayaknya dia ngeliat gue. Trus dia manggil-manggil nama gue dan gue pura-pura gak denger. Alhasil dia ngejar gue mungkin karena ada yang pengen dia omongin.” Jelas Lucy.
“Emang biasanya dia mau ngomongin apaan?” Tanyaku penasaran.
“Paling gak jauh dari ‘udah makan belom?’ atau ‘nanti lo ada acara gak?’.” Jawab Lucy.
“Ooh….emang kenapa lo gak nanggepin dia aja sih?” Tanyaku pada Lucy.
“Lagian males gue nanggepin dia dan gue juga lagi suka sama orang lain.” Jawab Lucy.
“Siapa?” Tanyaku antusias.
“Rafa.” Jawabnya singkat.
“Rafa siapa? Kan banyak Rafa di sekolah ini.” Tanyaku penasaran.
“Rafa Clymore.” Jawabnya kembali.
“Lo suka sama dia?” Tanyaku untuk memperjelas jawabannya.
“Iya!” Jawab Lucy.
“Lo mau gue bantuin deketin gak? Mumpung si Tian temen baiknya si Rafa.” Tawarku pada Lucy.
“Boleh deh, tapi jangan sekarang ya. Nanti aja.” Ucapnya.
“Oke.” Ucapku sambil mengeluarkan handphone dari saku rok.
‘Tian, si Lucy minta tolong deketin dia sama Rafa lo bisa gak?’ Tanyaku pada Tian di whatsapp.
Setelah 1 menit, tiba-tiba handphoneku berbunyi. ‘Bisa lah, apa sih yang gak bisa kalo Ayesha cantik yang minta’ Balas Tian
‘Apaan sih lo?’ Balasku  sambil terkekeh dan kurasakan pipiku memanas.
Tiba-tiba ada yang menyenggol lenganku “Lo kenapa Sha? Pipinya kok merah gitu?” Tanya Lucy penasaran.
“Gak ada apa-apa.” Jawabku bohong.
Lucy pun hanya mengangguk dan melanjutkan mencatat pelajaran karena bel sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Saat ditengah-tengah menjelaskan materi tiba-tiba terdengar bel pulang. Aku langsung bergegas keluar kelas, tetapi tiba-tiba ada yang menahan tanganku. ”Lo mau kemana kok cepet-cepet banget?” Tanya Lucy.
“Mau jalan-jalan.” Jawabku.
“Excited banget sih lo. Emang sama siapa jalannya?” Tanya Lucy.
“Sama Tian.” Jawabku singkat.
“Giliran sama gue aja ngaret, giliran sama Tian aja cepet-cepet. Emang dasar.” Ucap Lucy.
“Ya udah gue duluan ya, takut udah ditungguin.” Jawabku sambil berlalu.
“Ya udah gih sana jalan sama pacar tercintanya” Ucap Lucy dari kejauhan yang masih terdengar olehku.
Setelah mendengar perkataan Lucy tadi, aku berpikir mengapa aku selalu terburu-buru bila menyangkut Tian. Aku pun tidak mengambil pusing hal itu, dan tetap berjalan ke parkiran sekolah untuk menghampiri Tian. Disana aku melihatnya sedang berbicara dengan Rafa.
“Hai Raf!” Sapaku.
“Hai Sha.” Balas Rafa.
“Ya udah gue duluan ya bro. Ayeshanya udah dateng.” Ucap Tian sambil menarik tanganku untuk pergi dari situ.
“Kok lo main udahan gitu sih, gue kan masih mau ngobrol sama Rafa.” Protesku.
“Gue kirain lo mau cepet-cepet pulang.” Jawab Tian santai.
“Gue kan mau ngomongin tentang Lucy ke dia.” Ucapku.
“Udah gue omongin tadi.” Jawabnya.
“Huh, ya udah deh.” Ucapku sambil terus berjalan ke arah motor Tian.
“Sha, nanti pokoknya jangan lama ya. Biar bisa cepet balik ke rumah” Ucap Tian sambil menaiki motornya.
“Iya.” Jawabku singkat.
Aku langsung menaiki motornya tanpa bersuara, walaupun dia bertanya aku hanya menjawab dengan gumaman atau sekedar iya atau tidak. Akhirnya dia menyerah untuk bertanya karena jawabanku yang sangat singkat. Setelah 15 menit kami sampai di rumah, dan aku langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan apapun padanya.
“Assalamuaalaikum.” Ucapku saat memasuki rumah.
“Waalaikum salam,non.” Ucap bi Inah pembantuku.
“Mama sama papa kemana bi?” Tanyaku pada bi Inah.
“Lagi pergi, non. Katanya ada urusan di kantor.” Jelas Bi Inah.
“Ya udah. Nanti kalo ada Tian tolong panggil aku ke kamar ya Bi.” Ucapku sambil berjalan ke kamar.
“Siap non.” Ucap Bibi.
Dikamar, aku langsung memilih baju yang akan dipakai dan memasukkan barang ke dalam tas untuk kubawa pergi. Setelah 15 menit bersiap-siap, tiba-tiba ada yang mengetuk pintuku. tok…tok..tok ”Non, den Tiannya sudah dibawah.” Ucap Bi Inah dari luar pintu.
“Suruh tunggu depan aja bi. Bentar lagi aku keluar.” Ucapku sambil menyambar tas di atas tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
“Bi, aku pergi dulu ya. Titip rumah!” Ucapku saat bertemu bibi di dapur.
“Iya non, hati-hati.” Ucap bibi sebelum aku meninggalkan rumah.
Diluar aku melihat Tian sedang duduk di atas motornya sambil memandang lurus ke arah handphone yang dipegangnya. Aku pun berjalan pelan-pelan karena berencana mengagetkannya.
“Eh Sha ayok! Kok lo jalannya lambat banget sih.” Ucap Tian sambil memasukkan handphonenya ke kantung celana.
“Kok lo bisa tau ada gue sih, kan rencananya gue mau ngagetin lo.” Ucapku.
“Mana bisa ada cowo yang bisa gak ngerasain kehadiran cewe cantik kaya lo.” Goda Tian.
“Apaan sih lo?” Ucapku sambil terkekeh.
“Tetep aja kan lo blushing.” Ucapnya.
“Udah ah, ayok jalan.” Ucapku sambil menaiki motor Tian.
Di perjalanan menuju toko buku tidak ada yang memulai pembicaraan. Kami pun sampai setelah 15 menit perjalanan.
“Nanti kita pisah aja ya di dalem biar lo nyari novelnya cepet.” Ucap Tian sambil berjalan masuk ke toko buku.
“Emang lo gak jadi minta bantuan gue buat nyari buku?” Tanyaku pada Tian.
“Gak usah, gue kan tau kalo lo itu pasti lama nyari novelnya jadi kalo kita gak pisah makin lama kita pulang kan besok masih sekolah.” Jelas Tian.
“Ya udah.” Ucapku sambil berjalan menjauh darinya.
Aku pun langsung berjalan kearah rak novel dan memilih beberapa buku dengan membaca sinopsis yang ada di belakang buku itu. Saat sedang membaca sinopsis buku yang ke-5, tiba-tiba Tian datang menghampiriku.
“Sha, udah selesai belom?” Tanya Tian padaku.
“Belom, gue masih nyari buku lain.” Ucapku sambil mengambil buku yang lain.
“Bukannya itu udah banyak di tangan lo? Kenapa nambah lagi?” Tanyanya.
“Daripada gue bolak-balik ke toko buku mending beli sekalian.” Ucapku sambil mengambil buku yang lain.
“Sini gue bantuin daripada lo ribet.” Ucap Tian sambil mengambil beberapa buku di tanganku.
“Gak usah gue bisa sendiri kok, ntar malah ngerepotin lo.” Ucapku sambil berusaha merebut kembali buku yang dipegang Tian.
“Udah gapapa, kan tadi gue yang nawarin.” Jawabnya.
“Ok makasih. Btw katanya lo mau beli buku? Bukunya mana?” Tanyaku pada Tian saat menyadari tidak ada buku yang dipegangnya selain buku yang kubeli.
“Gue gak jadi beli.” Ucapnya
“Emang kenapa gak jadi?” Tanyaku.
“Bukunya gak ada.” Jawabnya singkat.
“Maaf ya! Padahal yang tadi ngajak ke toko buku elo tapi yang beli malah gue” Ucapku dengan nada menyesal
“Udahlah gapapa, lo udah kan? Bayar bukunya yok.” Ucap Tian sambil berjalan kearah kasir.
Saat berjalan kearah kasir tidak ada yang memulai percakapan karena takut buku yang dipegang malah jatuh berantakan. Saat sampai di kasir kami hanya menunggu buku yang kubeli dihitung dan langsung membayarnya.
“Makasih ya, udah mau bantuin gue.” Ucapku tulus.
“Gapapa kali.” Ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.
“Ngapain sih make ngacak-ngacak rambut gue? Jadi bernatakan tau!” Ucapku kesal
“Tadi perasaan lo manis banget tapi kok tiba-tiba jadi galak gini ya.” Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
Mendengar ucapannya, aku pun langsung merasakan pipiku memanas
“Ciee… blushing.” Ledeknya.
“Apaan sih? Udah yok pulang, besok kan masih sekolah.” Jawabku sambil naik ke atas motor Tian.
“Iya deh yang mau mengalihkan pembicaraan.” Ucapnya sambil menaiki motor.
Di perjalanan kami pun kembali terdiam tanpa ada yang memulai pembicaraan.Aku merasakan kecepatan motor yang semakin meninggi, aku pun langsung memeluk pinggang Tian karena takut terjatuh. Aku pun masih memeluk Tian sampai suaranya mengagetkanku.



Bersambung (Laika)

Rain

Kata orang, hujan itu mengganggu. Katanya, hujan menghambat pekerjaan. Kata mereka juga, hujan membuat perasaan gelisah. Namun, aku justru merasa damai dan tenang saat hujan datang. Mungkin, itu karena saat hujan datang, aku selalu teringat padamu.
Saat pertama kalinya aku bertemu denganmu pun, hujan turun dengan lembut. Pada kala itu, aku masih membenci hujan, karena hujan merusak acara dan juga baju yang baru saja kubeli. Saat aku berjalan pulang, ditemani payung merahku, aku melihatmu. Kamu yang berdiri di jalanan sepi, tersenyum pada awan yang sedang menangis. Badanmu basah kuyup, tapi kelihatannya kamu tidak peduli akan hal itu.
    Kamu menatapku bingung tatkala aku memayungimu. Mungkin, kamu tidak menyangka, gadis yang tidak kamu kenal, tiba-tiba memayungimu seperti itu. Bahkan, aku sendiri pun bingung, mengapa aku memayungimu.
    Bukannya berterimakasih, kamu justru menolak payungku dan mundur menjauhiku. Kini, kamu terkena derasnya hujan lagi. Aku cemberut, dan berpura-pura marah. Aku berkata kamu tidak tahu terimakasih, dan bahkan memaki-makimu.
    Namun kamu tidak marah. Kamu tidak membalasku atau semacamnya. Daripada itu, kamu justru menarikku, hingga payungku terlepas dari tanganku dan terlempar jauh. Aku marah. Aku berteriak kencang, dan mengeluh keras atas basahnya bajuku.
    Kamu tersenyum, lalu tertawa. Kau lalu memberitahuku betapa asyiknya berada di tengah hujan. Aku tetap kesal. Aku memungut payungku, lalu berjalan pergi.
Saat pertemuan kedua kita pun, hujan sedang turun. Kali ini, hujan turun dengan ganas, disertai angin dan petir. Pada waktu pulang sekolah, aku menemukanmu saat berjalan pulang, berteduh di teras sebuah toko yang tutup.
    Aku menghampirimu dan tersenyum mengejek. “Di bawah hujan mengasyikkan ya? Apa kau sakit sekarang, bocah hujan?” ujarku saat itu.
    Kau cemberut. Kali itu, pertama kalinya aku melihatmu tidak tersenyum. Meski sedikit kaget, aku tetap melanjutkan mengejekmu habis-habisan.
    Tiba-tiba, guntur menggelegar. Aku berteriak, refleks menjatuhkan payungku, yang membuatku basah kuyup. Kamu tertawa, kali ini kau yang mengejekku habis-habisan dan membuatku kesal.
    Sebuah ide terlintas di benakku. Aku memelukmu, yang membuatmu terkesiap. Saat aku melepaskan pelukanku, bajumu yang tadinya kering kini basah karenaku. Kamu langsung mengomel. Mengoceh betapa baju yang kau pakai adalah baju berharga, dan kau akan menghadiri acara penting, dan sebagainya. Kini, giliranku yang tertawa.
    Tanpa berfikir panjang, aku menarikmu dari teras, membuatmu kehujanan dan basah kuyup. Kau tambah mengomel, dan makin keras jugalah tawaku. Makin lama, kemarahanmu pun makin memudar. Kamu mulai tersenyum, lalu bermain bersamaku di tengah hujan. Bahkan, hujan yang tadinya deras, kini mulai melembut. Aku pun, mulai menyukai hujan.
    Dan sejak saat itu, kita menjadi semakin dan semakin dekat.

Saat kita mulai berpacaran pun, hujan sedang turun. Saat itu, aku sedang menikmati sore yang indah, di tengah hujan gerimis, bersamamu. Aku terlonjak kaget saat kamu berlutut dihadapanku.
    Ketika kamu mengucapkan tiga kata berharga itu, aku langsung memelukmu dengan erat. Perasaanku sungguh sangat senang saat itu, kau tahu. Mungkin, itulah saat-saat terbaik dalam hidupku. Dan saat itu juga, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Ketika orang lain sibuk berteduh, kita justru bermain-main di tengah hujan. Menikmati rintik-rintik hujan yang  membasahi tubuh.
Dan kini, kamu meninggalkanku juga di tengah hujan. Matamu terpejam, terlihat sangat damai. Aku memang sedih, namun air mataku sudah tidak bisa keluar lagi, seakan-akan tahu bahwa kau akan ikut sedih jika tahu aku menangis.
    Aku mendekat kehadapanmu, lalu mengecup pipimu, untuk terakhir kalinya. Ibumu menepuk pundakku, berusaha menenangkan. Ternyata, selama ini kau diam-diam menderita penyakit serius, dan menikmati saat-saat terakhir hidupmu bersamaku.
    Ketika kamu dikuburkan, tangisku pecah. Bunga melati kutaburkan, semacam penghormatan untukmu. Aroma melati tercium, samar-samar bersama aroma hujan. Kini, tak ada lagi dirimu yang biasa menemaniku bermain di tengah hujan. Kini, tidak ada lagi dirimu yang selalu ceria, apalagi saat hujan turun. Kini, aku hanya bisa mengenangmu, di tengah hujan.



-Nilda