“Lo mau sampe kapan meluk gue?” Tanya Tian.
“Eh, enggak kok. Kita udah sampe rumah ya?” Tanyaku balik.
“Iyalah udah nyampe, elo sih melukin gue mulu.” Ucapnya dengan jahil.
“Udah ya, gue masuk duluan.” Ucapku sambil meninggalkannya di depan rumah.
Saat
masuk ke dalam rumah aku masih menemukan rumah yang sepi. Aku pun
langsung bertanya pada Bi Inah yang sedang berada di meja makan.
“Bi, mama sama papa belom pulang?” Tanyaku pada bibi.
“Belom non.” Jawab Bi Inah.
“Ya udah aku ke kamar dulu ya bi.” Ucapku sambil meninggalkan Bi Inah di meja makan.
Saat
masuk ke dalam kamar aku langsung meletakkan buku yang kubeli di atas
meja belajar dan mengganti baju dengan baju tidur. Setelah itu aku
langsung berbaring di atas tempat tidur karena kelelahan.Tiba-tiba handphoneku berbunyi.
“Halo.” Ucapku.
“Halo Sha, lo belom tidur kan?” Tanya Lucy.
“Belom, udah cepetan kenapa?” Tanyaku pada Lucy.
“Gue minta besok lo dateng pagi ya.” Pinta Lucy.
“Gue gak tau bisa atau enggak, kan gue berangkat bareng Tian.” Ucapku.
“Ya udah nanti gue bilang ke Tian, nyuruh dia biar berangkat lebih cepet.” Ucap Lucy.
“Udah kan Luc? Cuma mau ngomong itu doang? Gue matiin ya?” Tanyaku pada Lucy.
“Tunggu dulu gue mau cerita.” Ucap Lucy.
“Ya
udah kenapa? Tapi kalo ditengah-tengah lo cerita udah gak ada suara
berarti gue udah tidur ya.” Ucapku sebelum mendengarkan ceritanya.
“Yee lu mah, ya udah deh. Jadi tiba-tiba Rafa ngeadd gue di line.” Ucap Lucy.
“Terus?” Tanyaku.
“Ya otomatis gue seneng lah. Kan harusnya gue yang ngeadd dia tapi ternyata dia ngeadd gue duluan.” Ucap Lucy senang.
“Oke. Sekarang gue juga mau cerita.” Ucapku.
“Apaan?” Tanya Lucy.
“Kayaknya gue suka sama Tian.” Ucapku santai.
“HAH?!? Lo suka sama Tian?” Tanya Lucy memastikan.
“Kan masih kayaknya. Siapa tau gue cuma sayang doang sama dia.” Ucapku mengelak.
“Udah lo pasti suka deh sama dia.” Ucap Lucy meyakinkan.
“Loh! Emang kalo ciri-ciri gue suka sama dia gimana?” Tanyaku pada Lucy
“Lo
bakal blushing kalo dipuji, bakalan nyaman kalo di deket dia, trus pas
dia ngobrol atau megang tangan lo, lo bakalan deg-degan.” Jelas Lucy.
“Gue sih emang ngerasain itu semua….” Ucapku.
“Tuh kan bener.” Ucap Lucy menyela ucapanku.
“Tapi bisa jadi gue ngerasa kaya gitu karena gue gak pernah ngerasain deket sama cowok sebelumnya.” Ucapku berusaha mengelak.
“Tapi sudah dipastikan bahwa lo suka sama dia, walaupun lo belum nyadar.” Ucap Lucy.
“Udah ya, gue mau tidur.” Ucapku sebelum memutuskan sambungan teleponku dengan Lucy.
“Ya udah, sweet dream. Ayesha Brigitta.” Ucap Lucy sebelum memutuskan sambungannya.
Setelah beberapa menit, tiba-tiba teleponku berbunyi kembali, tetapi kali ini adalah bunyi pesan masuk.
‘Sha, kata Lucy besok kita disuruh dateng lebih pagi. Jangan ngaret ya!’ Itulah bunyi pesan Tian yang ada di whatsapp.
‘Oke, Lo udah mau tidur?’ Tanyaku padanya.
‘Gue masih banyak tugas, lo udah mau tidur?’ Tanya Tian.
‘Baru aja gue mau tidur, eh lo nge whatsapp’ Jawabku.
‘Oke maaf. Sleep tight Ayesha Brigitta. Jangan lupa mimpiin gue ya’ Tulis Tian pada pesan yang dikirimkannya
‘Mau banget dimimpiin lo!’ Balasku sambil tersenyum sendiri.
Setelah berbalas pesan dengan Tian aku pun langsung menaruh handphoneku di meja samping tempat tidurku. Aku pun langsung terlelap karena kelelahan.
*****************
Keesokan
paginya, aku terbangun pukul 06.00. Aku langsung bersiap-siap untuk ke
sekolah karena hari ini aku harus datang lebih cepat. Aku menghabiskan
20 menit untuk bersiap-siap dan setelah selesai aku langsung keluar dari
kamar dan berjalan ke meja makan untuk sarapan.
“Pagi ma, pa.” Ucapku saat melihat mama dan papaku sedang duduk di meja makan untuk sarapan.
“Ayo sarapan dulu Sha.” Ucap mama sambil menyuruhku duduk.
Aku
langsung duduk dan memakan sarapanku. Sarapan pagi ini dipenuhi canda
tawa karena biasanya kami tidak pernah sarapan bersama kecuali saat hari
libur. Pada pukul 06.30, Tian datang menjemput dan aku langsung pamit
untuk pergi ke sekolah.
“Gue
kira bakal nungguin lo lama, ternyata gue baru dateng lo udah selesai.
Udah yok ke sekolah daripada nanti kita diomelin sama Lucy.” Ucap Tian
saat melihatku keluar rumah.
“Gue juga tau kali kalo hari ini harus dateng pagi makanya gue lebih pagi bangunnya.” Ucapku kesal.
“Lo gak mau meluk gue lagi? Ntar jatoh aja.” Ucap Tian dengan jahil.
“Kemaren kan terpaksa, kalo lo enggak kenceng-kenceng gue gak bakal pegangan kali.” Elakku.
“Jadi kalo gue kenceng-kenceng lagi bawa motornya, lo bakal meluk gue?” Tanya Tian.
“Iyalah daripada gue jatoh.” Ucapku.
“Ya udah gue kenceng aja bawa motornya biar lo meluk gue.” Ucap Tian.
“Awas aja lo sampe kenceng-kenceng.” Ucapku.
Setelah
perdebatan kecil kami selesai, dia segera melajukan motornya dengan
kencang, otomatis aku langsung memeluknya lagi supaya tidak terjatuh.
Setelah 5 menit perjalanan, kami pun sampai di depan gerbang sekolah,
aku langsung turun dari motor, sedangkan Tian memakirkan motornya di
parkiran samping sekolah. Aku menunggu sekitar 3 menit sebelum Tian
datang dengan berlari kecil.
“Lo kenapa lari-lari gitu?” Tanyaku pada Tian.
“Gue takut lo nunggu kelamaan, soalnya tadi gue ngobrol agak lama sama Rafa. Ntar lo ngambek kalo gue kelamaan.”ucap Tian.
“Ya udah deh terserah, ayo ke kelas.” Ucapku sambil menarik tangan Tian.
*********
Setelah
liburan kenaikan kelas, aku memeriksa namaku di daftar siswa dan
menemukan nama ‘Ayesha Brigitta’ di kelas XI IPA 2 sedangkan aku tidak
dapat menemukan nama christian Morten di kelas manapun. Aku pun bertanya
pada Lucy “Luc, Tian kok gak ada dimana-mana ya?” Tanyaku pada Lucy.
“Emang lo gak tau?” Tanya Lucy.
“Emang kenapa?” Tanyaku kembali.
“Tian kan pindah ke Aussie tahun ini.” Jawab Lucy.
“Hah! Pindah?” Tanyaku.
“Iya, dia berangkat besok, lo Tanya aja sama dianya.” Jawab Lucy.
“Oke, thanks infonya.” Jawabku lalu berjalan pergi ke kelas.
Setelah sampai di kelas, aku langsung mengirim pesan untuk Tian.
‘Tian, lo mau pergi ke Aussie besok?’
Setelah setengah menit menunggu, akhirnya Tian membalas pesanku.
‘Iya, gue mau pindah besok. Gue mohon lo dateng.’
‘Lo pergi jam berapa?’
‘Jam 5.’
‘Oke’
********
Jam
menunjukkan pukul 4.30 sore. Aku pun langsung bergegas pergi ke
bandara. Setelah 25 menit perjalanan, aku langsung bergegas pergi ke
terminal 2D. Aku berharap, Tian masih belum pergi.
“Tiann!” Teriakku saat melihat Tian sedang berjalan memasuki pintu keberangkatan. Aku pun langsung bergegas meyusulnya.
“Lo bakal balik lagi gak kesini?” Tanyaku saat sudah di hadapannya.
“Gue bakal balik kok.” Ucapnya.
“Kalo begitu sampai jumpa.” Ucapku lesu.
“Lo mau gak nungguin gue?” Tanya Tian sebelum kami berpisah.
“Gue pasti bakal nungguin lo.” Ucapku sedih
Kami pun berpelukan dan kami saling berbisik,”I Love You”
Setelah kami saling melepaskan pelukan, Tian pun pergi ke Aussie dan aku langsung pulang ke rumah.
Saat
di rumah, aku hanya mengucapkan salam kepada orang tuaku dan berjalan
pergi ke kamarku. Aku hanya memandangi foto Tian dan berharap bahwa dia
tetap di Indonesia. Aku merasa lega karena telah menungkapkan perasaanku
terhadapnya dan aku juga merasa senang karena dia merasakan hal yang
sama. Setahuku perjalanan dari Indonesia ke Australia tidak terlalu
lama, maka aku menunggu Tian untuk mengirimkan pesan bahwa dia sudah
berada disana, karena terlalu lama menunggu aku pun tertidur.
********
Keesokan harinya, aku lansgsung mengambil handphone untuk
melihat ada pesan atau tidak. Aku berharap bahwa Tian baik-baik saja
karena dia masih belum juga mengirimkan pesan. Saat siang hari pun aku
menunggu pesan darinya, karena bosan aku menyempatkan diri untuk pergi
ke toko buku. Disana aku hanya terdiam sambil membaca halaman belakang
sebuah novel, tanpa berniat untuk membelinya. Saat pulang dari toko buku
aku masih menunggu pesan dari Tian tetapi yang kudapatkan hanya pesan
dari Lucy.
‘Sha, Tian sha’
Aku pun langsung menjawab ‘Tian kenapa Luc?’
‘Tian kecelakan’
Aku pun langsung shock setelah membaca pesan itu ‘Gak mungkin, Tian gak mungkin kecelakaan’
‘Lo mending liat berita deh’
Setelah
membaca pesan itu, aku langsung berlari secepat yang aku bisa ke rumah
dan menyalakan TV. Ternyata berita yang diberitahukan Lucy memang benar.
Lo gak bisa ninggalin gue secepat ini.
-Laika