Kamis, 11 Agustus 2016

Dekat Namun Jauh

Saat pertama kali masuk SMA, ada seorang lelaki yang sangat baik dan ramah. Setelah beberapa bulan kenal, kami menjadi sangat akrab layaknya sahabat. Dia pun sering menjemputku di rumah untuk berangkat sekolah bersama. Aku sering merasa nyaman jika bersamanya dan kami saling menyayangi layaknya seorang kakak-beradik.
“Nanti lo mau pergi ke toko buku gak? Mumpung gue lagi mau nyari buku buat tugas.” Tanya Tian padaku.
“Ayo deh, lagian buku novel gue udah dibaca semua.” Jawabku.
“Yaudah, nanti kesananya mau langsung atau mau pulang dulu?” Tanya Tian kembali.
“Pulang dulu aja, soalnya gue mau ganti baju sekalian ngambil uang di rumah.” Jawabku kembali.
“Lo gak bosen apa baca terus? Kalo ngajak pergi paling cuma minta nemenin ke toko buku abis itu beli novel lagi.” Tanya Tian sambil memainkan handphone.
“Enggaklah, gue gak bakal bosen karena baca novel itu hobi gue.” Jawabku sambil mengeluarkan buku novel dari tas.
“Yaudah lo puas-puasin deh baca! Gue ke kantin dulu ya!” Ucap Tian sambil berjalan pergi.
Saat sedang asyik membaca buku berjudul ’A Song For Alexa’, tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku.
“Hai Sha, lo gak ke kantin?” Tanya Lucy mengagetkanku.
“Gue kirain Tian, ternyata elo. Gue lagi males ke kantin soalnya lagi baca.” Ucapku sambil melanjutkan membaca buku.
“Lo kenapa baca buku mulu sih? Gak bosen?” Tanya Lucy padaku.
“Denger ya Lucy sayang!! Baca buku itu hobi gue dan gue kasih tahu jangan pernah nanya itu lagi!” Jawabku kesal.
“Selow aja Mba bro, gue kan nanyanya pelan-pelan.” Jawab Lucy sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya padaku.
“Udah deh mending lo ke kantin!” Usirku halus.
“Lo kok gitu sih sama temen sendiri malah ngusir.” Jawab Lucy dengan kesal.
“Gue paling gak suka kalo lagi baca digangguin.” Jawabku dengan penuh penekanan agar Lucy segera pergi.
“Iya deh gue pergi.” Ucap Lucy sambil melangkah pergi.
Saat melanjutkan membaca buku ‘A Song For Alexa’, tiba-tiba ada suara yang mengejutkanku kembali
“Apaan sih? Gue kan udah bilang kalo lagi baca gak mau diganggu.” Ucapku tanpa menoleh ke tempat duduk disampingku.
“Kapan lo bilangnya? Gue kan baru aja dateng dari kantin.” Jawab orang disebelahku.
Karena mendengar suara yang berat, aku langsung menoleh dan mendapatkan Tian sedang meminum es tehnya.
“Oh, gue kirain si Lucy.” Jawabku sambil melanjutkan membaca buku kembali.
“Lo gak makan?” Tanya Tian kepadaku.
“Gue gak laper dan gue lagi anteng baca buku.” Jawabku.
“Pantesan aja, tadi gue dateng lo gak nyadar.” Balas Tian.
“Nanti gue gak nungguin ya. Gue mau ke rumah gue dulu abis itu baru balik jemput lo di rumah lo.” Ucap Tian.
“Nanti kita pergi jam berapa?” Tanyaku pada Tian.
“Jam 4.15 aja kali ya!” Ucap Tian.
“Jam setengah lima aja biar sekalian gue sempet ngeberesin barang-barang yang besok gue bawa.” Balasku.
“Yaudah.” Jawab Tian singkat sebelum bangkit dari tempat duduk di sebelahku dan berjalan ke tempat duduknya.
Tiba-tiba Lucy datang dengan nafas yang terengah-engah.
“Lo kenapa Luc? Kayak habis dikejar sama banci.” Ucapku sambil terkekeh.
“Gila, gue dikejar-kejar sama Bobby anak sebelah.” Ucap Lucy sambil mengatur nafasnya.
“Yang suka ngasih bunga dan surat ke elo?” Tanyaku pada Lucy.
“Iya.” Ucapnya sambil mengatur nafasnya kembali.
“Emang gimana kejadiannya sampe bisa dikejar sama Bobby?” Tanyaku kembali.
“Jadi, tadi pas gue jalan di kantin gue liat ada Bobby makanya gue langsung menghindar dan kayaknya dia ngeliat gue. Trus dia manggil-manggil nama gue dan gue pura-pura gak denger. Alhasil dia ngejar gue mungkin karena ada yang pengen dia omongin.” Jelas Lucy.
“Emang biasanya dia mau ngomongin apaan?” Tanyaku penasaran.
“Paling gak jauh dari ‘udah makan belom?’ atau ‘nanti lo ada acara gak?’.” Jawab Lucy.
“Ooh….emang kenapa lo gak nanggepin dia aja sih?” Tanyaku pada Lucy.
“Lagian males gue nanggepin dia dan gue juga lagi suka sama orang lain.” Jawab Lucy.
“Siapa?” Tanyaku antusias.
“Rafa.” Jawabnya singkat.
“Rafa siapa? Kan banyak Rafa di sekolah ini.” Tanyaku penasaran.
“Rafa Clymore.” Jawabnya kembali.
“Lo suka sama dia?” Tanyaku untuk memperjelas jawabannya.
“Iya!” Jawab Lucy.
“Lo mau gue bantuin deketin gak? Mumpung si Tian temen baiknya si Rafa.” Tawarku pada Lucy.
“Boleh deh, tapi jangan sekarang ya. Nanti aja.” Ucapnya.
“Oke.” Ucapku sambil mengeluarkan handphone dari saku rok.
‘Tian, si Lucy minta tolong deketin dia sama Rafa lo bisa gak?’ Tanyaku pada Tian di whatsapp.
Setelah 1 menit, tiba-tiba handphoneku berbunyi. ‘Bisa lah, apa sih yang gak bisa kalo Ayesha cantik yang minta’ Balas Tian
‘Apaan sih lo?’ Balasku  sambil terkekeh dan kurasakan pipiku memanas.
Tiba-tiba ada yang menyenggol lenganku “Lo kenapa Sha? Pipinya kok merah gitu?” Tanya Lucy penasaran.
“Gak ada apa-apa.” Jawabku bohong.
Lucy pun hanya mengangguk dan melanjutkan mencatat pelajaran karena bel sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Saat ditengah-tengah menjelaskan materi tiba-tiba terdengar bel pulang. Aku langsung bergegas keluar kelas, tetapi tiba-tiba ada yang menahan tanganku. ”Lo mau kemana kok cepet-cepet banget?” Tanya Lucy.
“Mau jalan-jalan.” Jawabku.
“Excited banget sih lo. Emang sama siapa jalannya?” Tanya Lucy.
“Sama Tian.” Jawabku singkat.
“Giliran sama gue aja ngaret, giliran sama Tian aja cepet-cepet. Emang dasar.” Ucap Lucy.
“Ya udah gue duluan ya, takut udah ditungguin.” Jawabku sambil berlalu.
“Ya udah gih sana jalan sama pacar tercintanya” Ucap Lucy dari kejauhan yang masih terdengar olehku.
Setelah mendengar perkataan Lucy tadi, aku berpikir mengapa aku selalu terburu-buru bila menyangkut Tian. Aku pun tidak mengambil pusing hal itu, dan tetap berjalan ke parkiran sekolah untuk menghampiri Tian. Disana aku melihatnya sedang berbicara dengan Rafa.
“Hai Raf!” Sapaku.
“Hai Sha.” Balas Rafa.
“Ya udah gue duluan ya bro. Ayeshanya udah dateng.” Ucap Tian sambil menarik tanganku untuk pergi dari situ.
“Kok lo main udahan gitu sih, gue kan masih mau ngobrol sama Rafa.” Protesku.
“Gue kirain lo mau cepet-cepet pulang.” Jawab Tian santai.
“Gue kan mau ngomongin tentang Lucy ke dia.” Ucapku.
“Udah gue omongin tadi.” Jawabnya.
“Huh, ya udah deh.” Ucapku sambil terus berjalan ke arah motor Tian.
“Sha, nanti pokoknya jangan lama ya. Biar bisa cepet balik ke rumah” Ucap Tian sambil menaiki motornya.
“Iya.” Jawabku singkat.
Aku langsung menaiki motornya tanpa bersuara, walaupun dia bertanya aku hanya menjawab dengan gumaman atau sekedar iya atau tidak. Akhirnya dia menyerah untuk bertanya karena jawabanku yang sangat singkat. Setelah 15 menit kami sampai di rumah, dan aku langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan apapun padanya.
“Assalamuaalaikum.” Ucapku saat memasuki rumah.
“Waalaikum salam,non.” Ucap bi Inah pembantuku.
“Mama sama papa kemana bi?” Tanyaku pada bi Inah.
“Lagi pergi, non. Katanya ada urusan di kantor.” Jelas Bi Inah.
“Ya udah. Nanti kalo ada Tian tolong panggil aku ke kamar ya Bi.” Ucapku sambil berjalan ke kamar.
“Siap non.” Ucap Bibi.
Dikamar, aku langsung memilih baju yang akan dipakai dan memasukkan barang ke dalam tas untuk kubawa pergi. Setelah 15 menit bersiap-siap, tiba-tiba ada yang mengetuk pintuku. tok…tok..tok ”Non, den Tiannya sudah dibawah.” Ucap Bi Inah dari luar pintu.
“Suruh tunggu depan aja bi. Bentar lagi aku keluar.” Ucapku sambil menyambar tas di atas tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
“Bi, aku pergi dulu ya. Titip rumah!” Ucapku saat bertemu bibi di dapur.
“Iya non, hati-hati.” Ucap bibi sebelum aku meninggalkan rumah.
Diluar aku melihat Tian sedang duduk di atas motornya sambil memandang lurus ke arah handphone yang dipegangnya. Aku pun berjalan pelan-pelan karena berencana mengagetkannya.
“Eh Sha ayok! Kok lo jalannya lambat banget sih.” Ucap Tian sambil memasukkan handphonenya ke kantung celana.
“Kok lo bisa tau ada gue sih, kan rencananya gue mau ngagetin lo.” Ucapku.
“Mana bisa ada cowo yang bisa gak ngerasain kehadiran cewe cantik kaya lo.” Goda Tian.
“Apaan sih lo?” Ucapku sambil terkekeh.
“Tetep aja kan lo blushing.” Ucapnya.
“Udah ah, ayok jalan.” Ucapku sambil menaiki motor Tian.
Di perjalanan menuju toko buku tidak ada yang memulai pembicaraan. Kami pun sampai setelah 15 menit perjalanan.
“Nanti kita pisah aja ya di dalem biar lo nyari novelnya cepet.” Ucap Tian sambil berjalan masuk ke toko buku.
“Emang lo gak jadi minta bantuan gue buat nyari buku?” Tanyaku pada Tian.
“Gak usah, gue kan tau kalo lo itu pasti lama nyari novelnya jadi kalo kita gak pisah makin lama kita pulang kan besok masih sekolah.” Jelas Tian.
“Ya udah.” Ucapku sambil berjalan menjauh darinya.
Aku pun langsung berjalan kearah rak novel dan memilih beberapa buku dengan membaca sinopsis yang ada di belakang buku itu. Saat sedang membaca sinopsis buku yang ke-5, tiba-tiba Tian datang menghampiriku.
“Sha, udah selesai belom?” Tanya Tian padaku.
“Belom, gue masih nyari buku lain.” Ucapku sambil mengambil buku yang lain.
“Bukannya itu udah banyak di tangan lo? Kenapa nambah lagi?” Tanyanya.
“Daripada gue bolak-balik ke toko buku mending beli sekalian.” Ucapku sambil mengambil buku yang lain.
“Sini gue bantuin daripada lo ribet.” Ucap Tian sambil mengambil beberapa buku di tanganku.
“Gak usah gue bisa sendiri kok, ntar malah ngerepotin lo.” Ucapku sambil berusaha merebut kembali buku yang dipegang Tian.
“Udah gapapa, kan tadi gue yang nawarin.” Jawabnya.
“Ok makasih. Btw katanya lo mau beli buku? Bukunya mana?” Tanyaku pada Tian saat menyadari tidak ada buku yang dipegangnya selain buku yang kubeli.
“Gue gak jadi beli.” Ucapnya
“Emang kenapa gak jadi?” Tanyaku.
“Bukunya gak ada.” Jawabnya singkat.
“Maaf ya! Padahal yang tadi ngajak ke toko buku elo tapi yang beli malah gue” Ucapku dengan nada menyesal
“Udahlah gapapa, lo udah kan? Bayar bukunya yok.” Ucap Tian sambil berjalan kearah kasir.
Saat berjalan kearah kasir tidak ada yang memulai percakapan karena takut buku yang dipegang malah jatuh berantakan. Saat sampai di kasir kami hanya menunggu buku yang kubeli dihitung dan langsung membayarnya.
“Makasih ya, udah mau bantuin gue.” Ucapku tulus.
“Gapapa kali.” Ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.
“Ngapain sih make ngacak-ngacak rambut gue? Jadi bernatakan tau!” Ucapku kesal
“Tadi perasaan lo manis banget tapi kok tiba-tiba jadi galak gini ya.” Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
Mendengar ucapannya, aku pun langsung merasakan pipiku memanas
“Ciee… blushing.” Ledeknya.
“Apaan sih? Udah yok pulang, besok kan masih sekolah.” Jawabku sambil naik ke atas motor Tian.
“Iya deh yang mau mengalihkan pembicaraan.” Ucapnya sambil menaiki motor.
Di perjalanan kami pun kembali terdiam tanpa ada yang memulai pembicaraan.Aku merasakan kecepatan motor yang semakin meninggi, aku pun langsung memeluk pinggang Tian karena takut terjatuh. Aku pun masih memeluk Tian sampai suaranya mengagetkanku.



Bersambung (Laika)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar