“Huft...” aku mendesah. Setelah bekerja dua hari dua malam hampir tanpa tidur, kini kepalaku pusing tujuh keliling. Mataku terasa berat sekali, perut pun terasa sakit karena pola makan yang tidak teratur. Bau ruangan ini sudah sangat parah dan kacau, sama seperti penampilannya, dan juga penampilanku sekarang yang sudah sangat lelah.
Meski begitu, aku tidak boleh istirahat barang satu jam pun. Pekerjaan yang menanti untuk dikerjakan masih banyak, belum lagi teman semasa SMA yang meminta dibuatkan sesuatu. Apalagi, ibu sudah meminta uang kiriman bulan ini, untuk membeli seragam baru untuk adikku tersayang. Dan, itu semua harus sudah selesai besok.
Aku menatap setumpuk pekerjaan kantor yang menumpuk di meja kerja di kamarku, menunggu untuk dikerjakan. Presentasi visi misi dan tugas perusahaan, laporan keuangan perusahaan, dan laporan tentang klasifikasi masalah perusahaan. Bila pekerjaan ini tidak aku serahkan besok, maka kemungkinan besar aku akan dipecat. Maklum, perusahaan tempat aku bekerja memang kecil, dan sedang masa-masanya PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja. Jika dipecat apa yang harus aku gunakan utuk membayar biaya kehidupan?
Dan, biaya seragam sekolah adikku. Membayar kontrakan kecil saja sudah menunggak tiga bulan, apalagi mengirim uang untuk ibu dan adik? Namun, jika aku tidak mengirim uang, apa yang akan dipakai oleh adikku besok? Mungkin, aku akan mengirimkan uangnya nanti, setelah menyelesaikan sebagian dari pekerjaan ini memakai uang cadangan yang berjumlah sangat sedikit.
Dan, teman SMA yang meminta dibuatkan sesuatu. Jika aku menolaknya, ia akan mempertanyakan pertemanan kita. Jika aku tidak mengerjakannya, ia akan mendapat masalah dan memutuskan pertemanan kita. Belum lagi, semua rahasiaku yang disimpannya, akan dibocorkan. Namun, bila aku memaksakan diri mengerjakannya dan menyelesaikannya sebelum esok hari, bisa-bisa aku menjadi gila.
“Dum! Lalala!”
Ah, ya. Tetangga yang baru tinggal di kamar sebelah sebulan terakhir ini. Ia—dan alat musiknya—sangatlah berisik dan mengganggu. Tak kenal waktu, setiap hari ia selalu menyanyi dan memainkan alat musiknya yang bersuara sumbang itu. Lain kali, aku akan protes kepada kepala kontrakan.
Yah, pokoknya, jika aku tidak menyelesaikan semua pekerjaan ini sebelum esok hari, tamatlah riwayatku. Aku harus mengerjakannya sekarang juga, dan menyelesaikannya sebelum besok.
Itulah niatku, tadinya. Namun, entah mengapa, mataku terasa semakin dan semakin berat, kepalaku yang sudah pusing terasa makin pusing, dan perlahan-lahan, aku memejamkan mata…
Besoknya, aku pulang kembali ke kontrakanku dengan wajah murung. Setelah kemarin aku tertidur dan tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku sama sekali, kini aku telah kehilangan pekerjaanku. Ibuku dan adikku memarahiku habis-habisan atas diejeknya adikku karena memakai seragam robek ke sekolah. Dan teman masa SMAku, kini sudah memutus pertemanan kami dan menyebarkan rahasia terbesaarku ke seluruh dunia.
Aku tidak tahu harus apa sekarang. Setelah dipecat, aku tidak akan bisa membayar kontrakan dan menghidupi diri sendiri. Tak lama lagi, aku pasti akan diusir oleh kepala kontrakan. Setelah rahasia terbesar sekaligus aibku dbongkar, kini aku tidak tahu mau ditaruh dimana lagi wajahku. Saat perjalanan dari kantor saja, aku sudah diejek habis-habisan oleh anak-anak desa. Kewibawaanku dan kehormatanku sudah hilang di mata orang-orang, dan pasti akan sulit sekali mencari pekerjaan yang layak. Dan, setelah keluargaku sendiri membenciku, kini aku tidak tahu lagi dimana tempat untuk bernaung, dimana lagi tempat untuk mengeluhkan keluh kesahku, dan dimana aku bisa tinggal.
Dan semua masalah itu, hanya disebabkan aku yang tertidur kemarin. Andai saja aku tetap terbangun waktu itu, dan mengerjakan semua pekerjaanku hingga tuntas. Andai saja… Atau… Andai saja aku tidak terbangun untuk menghadapi masalah besar seperti yang kualami sekarang…
Aku mengarahkan pandangan terhadap sebuah pisau cutter di atas meja, lalu mengambilnya. Ini, ide yang… brilian. Jika saja aku tidak terbangun lagi… Jika aku bisa saja lari dari semua masalah ini dan hidup tenang di alam sana…
[Koran pagi]
Selasa, 29 Maret 2016.
Diduga depresi, kemarin sore, 28 Maret 2016, seorang pemuda tewas bunuh diri. Korban ditemukan di sebuah kamar kontrakan miliknya dengan pisau cutter di tangan kanan dan luka goresan di pergelangan tangan kiri.
-Nilda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar