Kamis, 11 Agustus 2016

Rain

Kata orang, hujan itu mengganggu. Katanya, hujan menghambat pekerjaan. Kata mereka juga, hujan membuat perasaan gelisah. Namun, aku justru merasa damai dan tenang saat hujan datang. Mungkin, itu karena saat hujan datang, aku selalu teringat padamu.
Saat pertama kalinya aku bertemu denganmu pun, hujan turun dengan lembut. Pada kala itu, aku masih membenci hujan, karena hujan merusak acara dan juga baju yang baru saja kubeli. Saat aku berjalan pulang, ditemani payung merahku, aku melihatmu. Kamu yang berdiri di jalanan sepi, tersenyum pada awan yang sedang menangis. Badanmu basah kuyup, tapi kelihatannya kamu tidak peduli akan hal itu.
    Kamu menatapku bingung tatkala aku memayungimu. Mungkin, kamu tidak menyangka, gadis yang tidak kamu kenal, tiba-tiba memayungimu seperti itu. Bahkan, aku sendiri pun bingung, mengapa aku memayungimu.
    Bukannya berterimakasih, kamu justru menolak payungku dan mundur menjauhiku. Kini, kamu terkena derasnya hujan lagi. Aku cemberut, dan berpura-pura marah. Aku berkata kamu tidak tahu terimakasih, dan bahkan memaki-makimu.
    Namun kamu tidak marah. Kamu tidak membalasku atau semacamnya. Daripada itu, kamu justru menarikku, hingga payungku terlepas dari tanganku dan terlempar jauh. Aku marah. Aku berteriak kencang, dan mengeluh keras atas basahnya bajuku.
    Kamu tersenyum, lalu tertawa. Kau lalu memberitahuku betapa asyiknya berada di tengah hujan. Aku tetap kesal. Aku memungut payungku, lalu berjalan pergi.
Saat pertemuan kedua kita pun, hujan sedang turun. Kali ini, hujan turun dengan ganas, disertai angin dan petir. Pada waktu pulang sekolah, aku menemukanmu saat berjalan pulang, berteduh di teras sebuah toko yang tutup.
    Aku menghampirimu dan tersenyum mengejek. “Di bawah hujan mengasyikkan ya? Apa kau sakit sekarang, bocah hujan?” ujarku saat itu.
    Kau cemberut. Kali itu, pertama kalinya aku melihatmu tidak tersenyum. Meski sedikit kaget, aku tetap melanjutkan mengejekmu habis-habisan.
    Tiba-tiba, guntur menggelegar. Aku berteriak, refleks menjatuhkan payungku, yang membuatku basah kuyup. Kamu tertawa, kali ini kau yang mengejekku habis-habisan dan membuatku kesal.
    Sebuah ide terlintas di benakku. Aku memelukmu, yang membuatmu terkesiap. Saat aku melepaskan pelukanku, bajumu yang tadinya kering kini basah karenaku. Kamu langsung mengomel. Mengoceh betapa baju yang kau pakai adalah baju berharga, dan kau akan menghadiri acara penting, dan sebagainya. Kini, giliranku yang tertawa.
    Tanpa berfikir panjang, aku menarikmu dari teras, membuatmu kehujanan dan basah kuyup. Kau tambah mengomel, dan makin keras jugalah tawaku. Makin lama, kemarahanmu pun makin memudar. Kamu mulai tersenyum, lalu bermain bersamaku di tengah hujan. Bahkan, hujan yang tadinya deras, kini mulai melembut. Aku pun, mulai menyukai hujan.
    Dan sejak saat itu, kita menjadi semakin dan semakin dekat.

Saat kita mulai berpacaran pun, hujan sedang turun. Saat itu, aku sedang menikmati sore yang indah, di tengah hujan gerimis, bersamamu. Aku terlonjak kaget saat kamu berlutut dihadapanku.
    Ketika kamu mengucapkan tiga kata berharga itu, aku langsung memelukmu dengan erat. Perasaanku sungguh sangat senang saat itu, kau tahu. Mungkin, itulah saat-saat terbaik dalam hidupku. Dan saat itu juga, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Ketika orang lain sibuk berteduh, kita justru bermain-main di tengah hujan. Menikmati rintik-rintik hujan yang  membasahi tubuh.
Dan kini, kamu meninggalkanku juga di tengah hujan. Matamu terpejam, terlihat sangat damai. Aku memang sedih, namun air mataku sudah tidak bisa keluar lagi, seakan-akan tahu bahwa kau akan ikut sedih jika tahu aku menangis.
    Aku mendekat kehadapanmu, lalu mengecup pipimu, untuk terakhir kalinya. Ibumu menepuk pundakku, berusaha menenangkan. Ternyata, selama ini kau diam-diam menderita penyakit serius, dan menikmati saat-saat terakhir hidupmu bersamaku.
    Ketika kamu dikuburkan, tangisku pecah. Bunga melati kutaburkan, semacam penghormatan untukmu. Aroma melati tercium, samar-samar bersama aroma hujan. Kini, tak ada lagi dirimu yang biasa menemaniku bermain di tengah hujan. Kini, tidak ada lagi dirimu yang selalu ceria, apalagi saat hujan turun. Kini, aku hanya bisa mengenangmu, di tengah hujan.



-Nilda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar