Selasa, 16 Februari 2016

Mimpi

    Mataku memandang keluar jendela. Menerawang keatas langit, berharap menemukan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak yakin, apa yang kucari. Mataku terus menerawang hingga suara wanita terdengar ke pendengaranku.
    “Apakah kau sudah selesai dengan kue tiramisu ini?” katanya sambil menunjuk kue tiramisu yang ada diatas meja.
    “Aku sudah selesai, terimakasih.” ucapku sambil tersenyum dan berdiri.
Kulangkahkan kaki ke pintu keluar. Aku mendongakkan kepalaku, melihat langit yang sudah mulai menggelap. Kutundukkan kepalaku, dan saat itu juga aku mulai merasakan rintik-rintik hujan mengenai kepalaku. Dengan gerakan cepat aku membuka payung yang sudah kupegang di tangan kananku. Setelah membuka payungnya, aku mulai berjalan kerumah. Jarak dari café ini kerumahku memang cukup dekat. Setelah berjalan 5 menit, aku berhasil sampai didepan gerbang rumahku.
Tas yang ada di pundak kutaruh di atas kursi, dan aku pun langsung berjalan menuju kamar. Kamar bernuansa coklat putih membawa ketenangan bagiku. Aku pun berganti baju dan merebahkan tubuh diatas kasur berwarna putih tulang. Tidak lama setelah berbaring, aku langsung jatuh tertidur.
Aku terbangun karena cahaya yang menganggu tidurku. Cahaya mentari itu masuk melalui celah-celah tirai kamarku. Aku langsung bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai, aku duduk di ruang keluarga, dan pada saat itu juga kesunyian menyergapku. Kupandang sekitarku dan tidak menemukan hal yang biasanya membuat rumah ini ramai. Hal ini membuatku bertanya-tanya, dan beberapa saat kemudian aku baru menyadari penyebab kesunyian ini.
Mataku memejam, mencoba menikmati suasana sunyi ini. Suasana yang dahulu sangat kubenci, namun sekarang sangat kusukai. Setelah terdiam beberapa saat, aku kembali bangkit dan bersiap untuk pergi kuliah. Kuliahku dimulai dari jam 8 pagi hingga jam 11 siang. Setelah kuliahku selesai, dengan segera aku kembali pergi ke café tempat yang sering kudatangi akhir-akhir ini. Kupesan kue tiramisu dengan coklat panas untuk menemani kunjunganku di café ini. Kupilih tempat duduk yang berada dekat dengan jendela. Aku menyukai pemandangan ini. Melihat orang berjalan kesana-kemari melakukan kegiatannya. Melihat mobil yang berhenti dan melaju sesuai dengan rambu. Langit yang berwarna biru cerah yang mengundang manusia untuk menikmatinya.
Seperti biasa, kue tiramisu yang kupesan selalu tidak habis. Aku langsung pergi meninggalkan café dan berjalan kerumah. Kembali kutemukan keadaan yang sama seperti pagi hari. Aku tidak terlalu memperdulikan kesunyian ini dan berjalan menuju taman belakang. Taman belakang yang dipenuhi banyak bunga dan memori. Kupejamkan mataku saat duduk di ayunan, mengingat memori yang membuatku menitikkan air mata. Kilasan diriku yang kecil berlari kesana-kemari sembari tertawa, mencoba megejar bunda yang sedang berlari didepanku. Dari belakang, tiba-tiba saja ada tangan yang memelukku dan mengangkatku ke udara. Aku tersenyum dengan lebar. Kubuka lagi mataku dan menghapus air mataku. Mataku kembali menerawang ke langit biru yang indah dengan banyak awan yang menghiasinya. Aku mengucapkan permohonanku dan berjalan masuk ke kamar di dalam rumah. Kurebahkan badanku dan menutup mataku, mencoba jatuh kedalam alam mimpi.


-Laika

Kembalinya Cahaya Sang Bulan

Setelah kegelapan total yang terjadi karena cahaya bulan diredupkan, semua manusia yang ada di bumi berlarian menyelamatkan diri dari monster yang keluar dari kegelapan. Dari kejauhan Peri Bulan hanya mengamati seluruh kegiatan di bumi dan mencari keberadaan anaknya. Seluruh pemimpin distrik berkumpul sesuai dengan perjanjian jika ada yang terjadi terhadap bumi. Semua pemimpin distrik berdiskusi mengenai penculikan anak Peri Bulan.
“Kita harus segera menemukan penculik itu dan mengembalikan anak Peri Bulan, karena kutukan ini tidak akan berhenti jika kita tidak menemukannya.” Kata pemimpin distrik 13.
“Kami tahu, tapi masalahnya kita semua tidak mengetahui rupanya.” Ucap pemimpin ditrik 15.
“Betul sekali itu, kita juga kan tidak mungkin bertanya pada Peri Bulan.” Ucap pemimpin dari distrik 9.
“Bagaimana jika kita mengumpulkan orang di aula perkumpulan setiap distrik dan setelah itu kita akan mencari di setiap rumah yang ada di distrik itu.” Ucap pemimpin distrik 1.
“Aku setuju dengan pendapatnya, tetapi bisa saja anak Peri Bulan tidak disembunyikan di rumah tetapi di hutan atau tempat lainnya.” Ucap pemimpin distrik 5.
“Kita akan mencari di hutan jika kita tidak menemukannya di rumah yang kita periksa.” Ucap pemimpin distrik 14.
“Baiklah, kita akan melakukan pemeriksaan serentak di setiap distrik mulai besok pagi.” Ucap pemimpin distrik 13.

          Disaat yang sama di hutan selatan 13, ada 2 orang anak yang sedang berjalan ke rumahnya hanya dengan penerangan dari lampu pijar. Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari arah semak-semak.
“Apa kau mendengar bunyi itu?” Tanya anak pertama.
“Aku mendengarnya. Kita harus bergegas!” Ucap anak yang kedua.
Tiba-tiba keluar seorang anak kecil dari semak-semak.
“Tunggu!” Seru anak itu saat melihat kedua orang didepannya akan berlari.
Kedua anak itu langsung terdiam dan menoleh karena mendengar suara anak kecil.
“Kamu siapa?” Tanya anak yang pertama.
“Aku adalah Putri Bulan. Aku diculik oleh seseorang dan disembunyikan disini.” Jelas Putri Bulan.
“Namaku Sasa dan nama dia Kevin. Senang bertemu denganmu putri. Tapi mengapa engkau disembunyikan disini putri?” Tanya Sasa.
“Mungkin orang itu berpikir tidak akan ada yang menemukannya disini. Dihutan ini kan jarang ada orang yang lewat.” Ucap Kevin.
“Kami harus membawamu kembali, bumi menjadi gelap karena bulan diredupkan oleh Peri Bulan. Jika kita tidak membawamu sekarang dia akan membuat bumi gelap selamanya.” Ucap Sasa.
“Aku sangat ingin kembali, tetapi aku tidak tahu caranya.” Ucap Putri Bulan.
“Setidaknya kita harus mendapatkan tempat untuk bermalam.” Ucap Kevin.
“Bagaimana dengan rumah nenekku, dia pasti akan dengan senang hati menerima kita.” Ucap Sasa.
“Baiklah, kita akan bermalam disana. Aku juga akan memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke Bulan.” Ucap Putri Bulan.
“Kita harus sudah sampai di rumah neneknya Sasa sebelum tengah malam, karena monster kegelapan keluar dari dalam hutan kegelapan tepat tengah malam.” Ucap Kevin.
“Baiklah, mulai dari sekarang kita harus diam. Aku takut ada binatang buas di sekitar hutan ini.” Ucap Sasa.
Setelah mereka menentukan tujuan, mereka langsung berjalan kearah rumah nenek Sasa atau lebih dikenal dengan nenek Puri. Sesampainya mereka di depan rumah nenek Puri, tanpa mengetuk atau menyerukan nama nenek Puri, mereka langsung masuk ke dalam rumah.
“Selamat malam cucu-cucuku, ada apa kalian malam-malam datang kesini?” Tanya Nenek.
“Kami hanya ingin bermalam disini sehari saja boleh ya, Nek? Kalau kami harus berjalan ke rumah kami sendiri pasti akan lama dan kami takut monster kegelapan mengejar kami.” Jelas Sasa kepada nenek.
“Lalu siapakah gadis cantik yang bersama kalian ini?” Tanya nenek Puri.
“Namaku Putri.” Jawab Putri Bulan.
“Baiklah, kalian boleh bermalam disini tetapi hanya sehari saja ya! Kalau kalian bermalam lebih lama lagi pasti orang tua kalian akan berpikir bahwa kalian hilang.” Ucap nenek Puri sambil terkekeh.
“Siap nek! Kami tidur dulu ya. Selamat Malam.” Ucap Kevin.

Saat pagi tiba, mereka langsung terbangun dan meminta izin ke nenek Puri untuk pergi. Mereka langsung berjalan tanpa tujuan sambil menunggu Putri Bulan memberitahu apa yang akan mereka lakukan. Tiba-tiba terdengar bunyi jentikan jari dari Putri Bulan.
“Aku tahu caranya untuk kembali ke bulan!” Seru Putri Bulan dengan riang.
“Bagaimana?” Ucap Sasa dan Kevin bersamaan.
“Sekarang tanggal berapa?” Tanya Putri Bulan kepada kedua anak itu.
“Aku tidak tahu sekarang tanggal berapa tapi kalau dilihat dari bentuk bulan kemarin malam sebelum redup mungkin sudah akhir bulan” Ucap Sasa sambil mengangkat bahunya.
“Baiklah, jika bulan purnama terjadi besok aku harus berada di tempat yang tepat agar bisa kembali ke bulan. Aku juga membutuhkan bantuan kalian untuk melakukan itu.” Jelas Putri Bulan.
“Apa yang kau perlukan?” Tanya Kevin.
“Aku hanya memerlukan beberapa bahan yang bisa membawaku kembali ke bulan.” Ucap Putri Bulan sambil berusaha mengingat.
“Iya, maksudku apa bahan yang kau perlukan?” Tanya Kevin kembali.
“Sepertinya, aku hanya membutuhkan bunga daisy, anggrek, dan air sungai yang mengalir.” Ucap Putri Bulan
“Sepertinya itu adalah bahan yang akan kita dapatkan dengan mudah.” Ucap Sasa.
“Tunggu dulu! Aku juga membutuhkan sebuah cawan yang berlapiskan perak untuk menaruh hasil ramuan itu.” Ucap Putri Bulan.
“Mungkin hal yang satu itu agak sulit untuk didapatkan.” Ucap Kevin.
“Benar, jika kita mencari cawan yang biasa mungkin mudah karena bisa ada dimana saja, tetapi jika kita mencari cawan yang berlapiskan perak kita akan sulit mendapatkannya karena cawan itu hanya dibuat untuk orang-orang kaya.” Ucap Sasa.
“Jadi maksudmu kita harus mencari di rumah orang-orang kaya?” Tanya Putri Bulan bingung.
“Maksudku memang itu. Maaf jika bahasaku terlalu rumit.” Ucap Sasa menyesal.
“Tidak apa. Tapi bagaimana cara kita bisa mendapatkan cawan itu di dalam rumah orang lain?” Tanya Kevin.
“Setahuku hari ini akan diadakan pencarian besar-besaran di setiap distrik dan seluruh orang dikumpulkan di aula perkumpulan jadi kita bisa mengambilnya tanpa sepengetahuan orang lain.” Jelas Sasa.
“Baiklah, setidaknya kita sudah tahu cara mendapatkan cawan itu. Sekarang, Dimana kita bisa menemukan bunga daisy dan anggrek?” Tanya Putri Bulan.
“Ibuku mempunyai kebun bunga di halamannya, mungkin kita bisa menemukan kedua bunga itu disana.” Ucap Kevin.
“Baiklah, tujuan kita sekarang menuju rumah Kevin.” Ucap Sasa.
Setelah mereka menentukan tujuan, mereka langsung berjalan dengan semangat. Sesampainya disana, Kevin langsung mencari ibunya. Kevin telah mencari di seluruh penjuru rumahnya tapi dia masih tidak menemukan tanda-tanda ada orang di rumahnya.
“Sepertinya orang tuaku sedang dalam perjalanan ke aula.” Ucap Kevin.
“Jadi sepertiya kita harus mencari sendiri bunga daisy dan bunga anggrek.” Ucap Sasa
“Kurasa bunga daisy ada di sekitar sana.” Ucap Kevin sambil menunjuk ujung kanan halaman rumahnya.
“Aku akan mengambil bunga itu dan kalian akan mencari bunga anggrek.” Ucap Sasa.
“Kurasa bunga anggrek disini masih belum terlalu mekar jadi bunganya masih belum terlalu banyak.” Ucap Kevin.
“Aku tidak memerlukan terlalu banyak, aku hanya membutuhkan sedikit saja untuk membuat ramuan itu.” Ucap Putri Bulan.
“Aku akan mengambilkannya untukmu.” Ucap Kevin.
“Bahan yang pertama dan yang kedua sudah kita dapatkan, kita hanya memerlukan cawan dan air yang mengalir.” Ucap Kevin kembali.
“Kita akan pergi ke rumah orang kaya yang ada di ujung jalan ini, karena rumah itu adalah yang terdekat.” Ucap Sasa.
“Mungkin kita harus berpencar supaya bisa lebih cepat mengumpulkan semua yang kita butuhkan.” Saran Putri Bulan.
“Itu adalah ide yang bagus. Aku akan pergi sendiri dan kalian akan tetap bersama. Kita hanya perlu bertemu di suatu tempat.” Ucap Kevin
“Kita akan bertemu di bukit sana.” Ucap Sasa sambil menunjuk bukit tertinggi diantara bukit lainnya.
“Baiklah, kita akan berpisah dan bertemu disana.” Ucap Kevin sambil meninggalkan Sasa dan Putri Bulan.
“Kita harus melakukannya dengan cepat karena seluruh penjaga sedang memeriksa seluruh rumah di distrik ini.” Ucap Sasa.
“Lebih baik kau berjaga dan aku akan mengabilkannya untukmu, Putri.” Ucap Sasa sambil memanjat jendela yang tidakterkunci dan masuk ke dalamnya.
“Lebih baik kau bergegas!” Seru Putri Bulan.
Setelah menunggu beberapa menit diluar rumah akhirnya Sasa kembali dengan membawa cawan di tangannya.
“Ayo, kita harus segera ke bukit.” Ucap Putri Bulan sambil menarik tangan Sasa.
“Apa yang harus kau lakukan setelah kau membuat ramuan itu, Putri?” Tanya Sasa.
“Aku hanya perlu meminumnya, menghilang, dan muncul di bulan.” Ucap Putri Bulan.
“Lalu bagaimana dengan penculikmu?” Tanya Sasa kembali.
“Aku hampir lupa dengan itu…..” Ucap Putri Bulan sambil menghela nafas.
“Aku akan mencarinya dengan bantuan ibuku, aku juga ingin mengajukan pertanyaan padamu.” Sambung Putri Bulan.
“Apa?” Tanya Sasa penasaran.
“Apakah kamu mau ikut denganku ke bulan? Aku kesepian disana tidak ada yang bisa kuajak bicara.” Ucap Putri Bulan.
“Aku sangat ingin pergi denganmu dan merasakan kehidupan di bulan, tetapi aku tidak dapat meninggalkan keluargaku disini.” Ucap Sasa sendu.
“Baiklah, aku mengerti.” Ucap Putri Bulan.
“Ngomong-ngomong Kevin kemana ya? Dari tadi belum kelihatan, padahal kan dia hanya mencari air sungai saja.” Tanya Sasa.
“Aku juga tidak tahu tapi lebih baik kita memulai membuat ramuannya dari sekarang.” Ucap Putri Bulan sambil menyodorkan tangannya ke arah Sasa.
“Apa yang bisa kubantu?” Ucap Sasa saat melihat Putri sibuk dengan bunga yang tadi diambil dari halaman rumah Kevin.
“Kau bisa membantuku dengan menumbuk bunga anggrek itu, tetapi jangan sampai terlalu hancur.” Ucap Putri Bulan tanpa menoleh ke arah Sasa karena sibuk dengan bunga daisy ditangannya.



“Hei kalian! Aku sudah mendapatkan airnya.” Seru Kevin dari kejauhan.
“Kau darimana saja hah?!” Protes Sasa.
“Aku hanya mengambil air ini kok.” Ucap Kevin.
“Tetepi mengapa lama sekali?” Tanya Sasa.
“Sudah, sudah tidak usah bertengkar. Yang penting dia sudah berada disini.” Ucap Putri Bulan menengahi. ”Sekarang mana airnya?” Tanya Putri Bulan kepada Kevin.
“Nih!” Ucap Kevin sambil menyodorkan gelas plastik yang sedari tadi dipegangnya.
“Baiklah, semua bahannya sudah terkumpul. Aku hanya perlu memasukkan bunga ini kedalam cawan dan mencampurnya dengan air.” Ucap Putri sambil menaruh bunga yang tadi ditumbuk olehnya dan Sasa.
Setelah memasukkan bunga ke dalam cawan, Putri Bulan menuangkan air kedalam cawan perak itu.
“Terima kasih telah membantuku. Aku tidak akan melupakan kalian.” Ucap Putri Bulan sebelum meminum ramuan yang dia buat.
“Semoga kita bisa bertemu di lain waktu.” Ucap Sasa.
“Sampai jumpa!” Ucap Kevin.
“Baiklah, kalian baik-baik disini ya! Aku pegi dulu.” Ucap Putri Bulan lalu meminum ramuan yang dipegangnya.
Tiba-tiba keluar cahaya biru dari dalam tubuh Putri Bulan. Sasa dan Kevin hanya bisa memperhatikan. Terdengar suara cawan terjatuh, menandakan bahwa orang yang memegangnya sudah tidak ada.
“Sekarang dia sudah kembali ke bulan.” Ucap Sasa sambil menatap ke bulan yang sudah terlihat cahayanya kembali.
“Sepertinya Peri Bulan sudah menarik kutukannya.” Ucap Kevin






-Laika

Penjagaku Ketenanganku

Namaku Thea dan aku mempunyai seorang penjaga saat aku kecil. Saat pertama kali melihatnya aku berpikir dia adalah orang suruhan ayah untuk menjagaku. Aku selalu bertanya namanya tetapi dia selalu saja diam seperti patung dan hanya bergerak jika aku bergerak. Saat ayah pulang, aku langsung bertanya padanya tentang penjaga itu tetapi ayah selalu mengatakan bahwa dia tidak menyuruh siapapun untuk menjagaku. Aku terus bertanya dan ayah selalu memberikanku jawaban yang sama. Pada akhirnya aku menyerah untuk bertanya karena selalu mendapat jawaban yang sama dan tetap membiarkan penjaga itu menjagaku.
          Pada suatu hari dia berbicara padaku dan dia mengatakan bahwa dia menjagaku agar aku tidak merasa ketakutan. Dia juga mengatakan untuk tidak bertanya lagi pada siapapun tentangnya karena hanya aku yag dapat melihatnya. Aku langsung menyetujui perkataannya untuk tidak bertanya pada siapapun dan sejak saat itu dia selalu berbicara padaku. Seperti menanyakan kabarku atau bercerita pada saat aku mau tidur.
          Saat umurku 10 tahun aku mulai jarang melihatnya karena dia hanya datang sesekali. Aku sering mempertanyakan keberadaannya saat dia tidak ada di sisiku karena sebelum umurku 10 tahun dia selalu bersamaku dan tidak pernah meninggalkanku. Pada suatu malam dia mengatakan bahwa dia sudah tidak bisa menjagaku lagi dan dia juga mengatakan bahwa malam itu adalah malam terakhir kali aku bisa melihatnya. Setelah dia mengatakan kedua hal itu, dia langsung menghilang dan aku tidak dapat melihatnya lagi. Aku pun langsung berpikir bahwa dia hanya meninggalkanku sebentar saja tetapi dia tetap tidak kembali hingga umurku 18 tahun.
*********

         
Aku langsung tersadar dari lamunanku karena ada yang menepuk pundakku. Aku menoleh dan mendapati Laura sedang berdiri dibelakangku.
“Apa kau tidak mempunyai jadwal setelah ini?” Tanya Laura Padaku.
“Aku mempunyai kelas seni setelah ini. Memangnya ada apa?” Jawabku.
“Apakah tidak sebaiknya kau pergi sekarang? Kelas seni akan dimulai sebentar lagi.” Ucapnya.
“Bukankah bel pergantian jam masih belum berbunyi?” Tanyaku.
“Kelas ini sudah berbunyi 10 menit yang  lalu.” Jawabnya.
“Terima kasih sudah memberitahuku, aku akan pergi sekarang.” Ucapku sambil mengambil peralatanku dan berjalan ke arah pintu.
          Sesampainya aku di depan pintu, aku melihat ada seorang gadis yang memakai baju yang sangat ketinggalan zaman. Aku tidak terlalu menghiraukannya dan berjalan pergi. Saat aku mencapai lorong sekolah, aku bertemu dengan petugas kebersihan sekolah dan aku langsung mengucapkan salam. Aku sudah terbiasa untuk menyapa setiap petugas kebersihan dan biasanya saat aku mengucapkan salam, orang itu akan balas menyapaku. Ada yang aneh dengannya, mukanya sangat datar dan berekspresi. Aku tidak terlalu memikirkannya dan melanjutkan jalanku ke ruang seni.
          Setelah 2 menit berjalan, aku sampai di ruang seni dan aku langsung merasakan kejanggalan dengan lorong yang kulewati tadi. Tidak seharusnya lorong itu ramai karena bel pergantian kelas sudah berbunyi. Setelah kuingat-ingat, semua orang yang ada di lorang itu memakai baju yang sangat ketinggalan zaman seperti yang digunakan oleh gadis yang kutemui di depan pintu ruang sastra. Saat aku sedang sibuk memikirkan hal itu, tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku.
“Thea, apa kau memperhatikan?” Tanya guru seniku.
“Ya, saya akan memperhatikan.” Ucapku sambil memperhatikan ke arah papan tulis.
         


          Kurasa aku terlalu serius memikirkan kejadian di lorong sekolah hingga tidak menyadari bahwa guru seniku sudah berada di ruang seni. Aku tetap memperhatikan penjelasan guru musikku hingga terdengar suara yang sangat berisik. Kupikir itu dari kelas disebelahku tetapi setelah aku pikir-pikir di ujung barat universitasku hanya ada tiga kelas dan yang sedang ada jadwal hanya kelas seni. Aku pun langsung melihat ke sekeliling ruang kelasku dan mendapati banyak orang yang sedang berbicara satu sama lain. Aku teringat dengan peraturan kelas ini, jika guru sedang menjelaskan tidak ada yang boleh berbicara.
          Aku kembali melihat ke papan tulis dan mendapati orang lain selain guru seniku berdiri. Aku mempertanyakan pada teman sebelahku dan kulihat dia hanya diam sambil memandang papan tulis. Tiba-tiba saat aku melihat kembali ke arah papan tulis orang yang berdiri disana sudah tiada dan guruku kembali disana. Keadaan kelas ini sudah sunyi kembali. Terdengar suara bel pulang berbunyi, aku pun langsung merapihkan barang-barangku dan keluar dari ruang seni.
          Aku berjalan ke parkiran sekolahku dan mencari keberadaan mobil yang menjemputku. Setelah menunggu 20 menit, akhirnya mobil yang biasa menjemputku datang. Butuh waktu 30 menit untuk sampai rumahku tanpa ada kemacetan. Ditengah-tengah perjalanan, tiba-tiba aku mendengar suara klakson mobil dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap lalu aku tidak sadarkan diri.
          Aku terbangun di sebuah tempat tetapi aku tidak dapat mengenali tempat itu karena semuanya gelap. Aku pun menyerukan nama ibu dan ayahku dan tiba-tiba ada yang memegang tanganku. Aku langsung bertanya dimana aku sekarang dan orang itu menjawab bahwa aku ada di rumah sakit. Aku mengenali suara yang disebelahku dan aku langsung bertanya mengapa semuanya menjadi gelap. Langsung terdengar isak tangis dari ibuku.
“Apakah ibu baik-baik saja?” Tanyaku.
“Ibu baik-baik saja tetapi kau tidak.” Jawabnya.
“Memangnya apa yang terjadi padaku?” Tanyaku kembali.
“Kau mengalami kecelakaan dan sekarang…..” Jawab ibuku kembali.
“Sekarang kenapa bu?” Tanyaku penasaran.
“Kau mengalami kebutaan. Itulah yang membuatmu melihat segalanya menjadi gelap” Jawabnya.
          Aku langsung bersedih karena tidak dapat melihat lagi. Aku langsung mempertanyakan kemungkinan aku bisa sembuh lagi dan ibuku memberitahu jika aku ingin bisa melihat kembali aku harus mendapatkan donor untuk mataku. Aku langsung merasa baikan setelah ibuku mengatakan hal itu. Aku meminta ibuku untuk mencarikan pendonor itu secepat mungkin karena tidak mungkin aku bisa belajar atau melakukan kegiatanku jika yang kulihat hanyalah kegelapan.
          Setelah menginap beberapa hari di rumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan untuk kembali ke rumah. Dokter memintaku untuk belajar mengenali keadaan sekelilingku selama aku masih belum mendapatkan donor untuk mataku. Aku pun menyetujui permintaannya karena menurutku itu bisa membantuku untuk berjalan atau mengambil sesuatu di sekitarku tanpa bantuan orang lain.
          Sesampainya aku di rumah, aku langsung meminta bantuan pembantuku untuk membantuku ke kamar. Di dalam kamar aku langsung merebahkan badanku dia atas tempat tidur. Terdengar ada ketukan pintu aku pun langsung meneriakkan kata masuk untuk memberikan tanda pada orang itu untuk masuk ke dalam kamarku. Saat itu aku mendengar ada suara pintu terbuka dan anehnya aku bisa melihat ada orang yang masuk. Aku langsung bingung dengan keadaanku, seharusnya aku tidak dapat melihat apapun. Orang itu semakin mendekat dan memperlihatkan mukanya. Ingin rasanya aku berteriak karena muka orang itu sangatlah menyeramkan.
          Biasanya jika aku ketakutan aku akan menutup mataku atau berlari tetapi kedua hal itu sangatlah tidak mungkin untuk dilakukan sekarang. Jika aku menutup mataku itu sama saja dengen melihat kegelapan juga. Kalau aku berlari aku bisa menabrak apapun yang ada di kamarku. Lalu aku hanya berteriak sekeras yang aku bisa dan tiba-tiba ada yang mengenggam tanganku erat. Teriakanku semakin kencang karena genggaman itu, tetapi ada suara yang bisa membuatku tenang. Itu adalah suara ibuku.
         


          Aku tidak dapat melihat ibuku seperti aku melihat orang bermuka menyeramkan tadi. Ini sangat aneh. Aku langsung bertanya pada ibuku apakah dia melihat ada orang lain yang bersamaku sebelum dia masuk ke dalam kamar ini. Ibuku menjawab bahwa saat dia masuk dia haya melihatku sendirian sedang berteriak. Setelah mendengar jawabannya, aku langsung menceritakan apa yang kulihat tetapi ibuku mengatakan mungkin itu hanyalah mimpi. Aku mempunyai pendapat yang berbeda dengan ibuku karena tidak mungkin kalau itu hanya mimpi. Aku bahkan tidak tertidur tadi.
          Aku kembali merebahkan badanku di atas kasur ditemani oleh ibuku disamping kananku sambil menggenggam erat tanganku. Aku kembali memikirkan kejadian yang tadi kualami. Aku tidak mungkin bisa merasakan semuanya sangat nyata jika itu semua hanya mimpi. Aku tidak terlalu lama memikirkannya karena aku tertidur.
          Keesokan harinya aku terbangun dengan suasana yang sama yaitu gelap. Aku kembali melihat ada orang di kamarku tetapi kali ini ada 2 orang. Dengan keras aku berteriak dan kurasa ada yang masuk ke kamar tapi aku tidak dapat melihat orang itu. Aku kembali merasakan ada yang menggenggam tanganku. Aku kembali merasakan ketenangan karena ada orang disebelahku.
          Sejak saat itu aku selalu bisa melihat sesuatu yang seharusnya tidak bisa kulihat saat aku mengalami kebutaan. Aku menginginkan semua ini berakhir karena aku merasa mereka selalu ada dimanapun aku pergi. Aku mulai menyadari aku mempunyai sebuah keistimewaan dan aku langsung teringat tujuan penjagaku untuk menjagaku pada saat aku kecil.  Dia mengatakan bahwa dia menjagaku agar aku tidak merasa ketakutan dan benar saat ini aku sering merasa ketakutan karena yang bisa kulihat hanya ‘mereka’.
          Aku selalu mempertanyakan ibuku tentang perkembangan donor mataku. Ibuku selalu mengatakan bahwa pihak rumah sakit masih belum menemukan donor mata yang cocok untukku. Aku selalu berdoa agar aku bisa melihat lagi. Hingga suatu saat ibuku memberikan kabar bahwa pihak rumah sakit mendapatkan donor yang cocok. Aku langsung mengajak ibuku untuk ke rumah sakit dan melakukan operasi tanpa memikirkan yang lain.
         
         

          Keesokan harinya, aku berangkat ke rumah sakit pada pagi hari dan disana dokter mengatakan bahwa aku bisa melakukan operasiku di sore hari. Di perselingan jam itu aku hanya berdiam diri di kamar rumah sakit. Aku sering melihat mereka di sekitarku tetapi kali ini aku tidak berteriak karena aku sudah terbiasa melihatnya.
          Setelah matahari mulai tenggelam, kudengar ada langkah kaki yang mendekatiku dan kurasa itu adalah dokter dan para suster. Aku langsung dibawa ke ruang operasi dan sesampainya aku di ruang operasi, dokter langsung membiusku dan aku jatuh pingsan.
          Aku terbangun dengan sebuah perban yang menutupi mataku. Dokter mengatakan bahwa aku bisa membuka perbanku. Dengan perlahan, dokter membuka perbanku dan setelah semuanya sudah terbuka dokter menyuruhku untuk membuka mataku dengan perlahan. Selanjutnya, aku bisa melihat cahaya yang sudah agak lama tidak kulihat. Aku bisa melihat orang yang ada di sekitarku. Ada seorang perempuan di belakang ibuku yang tidak pernah kukenal. Mungkin dia adalah salah seorang keluarga dari orang yang mendonorkan mata ini untukku.
          Perempuan itu keluar dari ruang rawatku dan berjalan ke arah kiri. Aku merasa sangat senang karena yang aku lihat tidak hanya kegelapan dan mereka tetapi aku bisa melihat semuanya. Sebenarnya, aku masih penasaran dengan perempuan tadi kalau memang dia adalah keluarga dari orang yang mendonorkan matanya untukku mengapa dia pergi secepat itu dan tidak menungguku untuk berterima kasih padanya.
          Aku tidak terlalu memikirkannya dan melanjutkan kegiatanku. Aku diperbolehkan pulang setelah 2 hari berada di rumah sakit. Sesampainya aku dirumah, aku langsung diambut oleh pembantuku. Kulihat ada pembantu baru di rumah ini. Aku langsung berjalan ke kamarku dan merebahkan badanku di kasur. Aku memainkan telefon selulerku hingga aku tertidur.
          Aku terbangun karena alarm yang kunyalakan kemarin malam sudah berbunyi. Aku langsung menyambar handukku dan berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, aku langsung memakai baju untuk ke sekolah karena hari ini adalah hari kerja. Aku melihat pembantu baru itu lagi dan aku menyapanya tetapi dia tidak menjawabku melainkan berjalan pergi menjauhiku.
          Aku langsung meminta sopirku untuk mengantarku ke universitasku. Untuk sampai kesana memakan waktu hingga 20 menit. Aku pun turun dari mobil dan berjalan menuju kelas pertamaku. Aku melihat seorang gadis yang mukanya mirip dengan pembantu yang bekerja di rumahku. Kupikir itu hanya kebetulan dan aku melanjutkan langkahku. Sesampainya aku di kelas, aku melihat gadis yang sama di kelasku. Aku memikirkan bahwa ini hanya kebetulan juga maka aku tidak menghiraukannya. Aku melewati 1 jam pelajaran di kelas sastra tanpa ada masalah.

          Saat pergantian kelas, aku selalu melihat gadis itu. Dia seperti mengikutiku kemanapun aku pergi. Aku merasa tidak pernah melihatnya di kelas ataupun di kampus sebelumnya. Aku bahkan bertanya pada temanku tetapi temanku selalu bertanya siapa gadis yang kumaksud. Aku menyerah untuk bertanya karena kuyakin gadis itu hanya bisa dilihat olehku karena bakat yang kudapatkan. Aku juga tidak merasa terganggu dengan kehadirannya, oleh karena itu aku membiarkannya tetap berada di dekatku.




-Laika

Saksi Bisu


          Kulihat sepatu lusuh yang sudah kusimpan di lemari selama bertahun-tahun ini. Sepatu yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku, dimulai dari hidupku yang sulit hingga bisa sesukses ini. Sepatu ini selalu mengingatkanku akan betapa sulitnya hidup ini.
          Semua perjuangan hidupku sudah dimulai dari umur 7 tahun, disaat orang tuaku bekerja keras untuk membiayaiku dan kedua adikku sekolah. Sejak saat itu aku sudah mulai berpikir untuk membantu mereka. Aku membantunya dengan berjualan koran, memang sulit berjualan seperti itu ketika aku masih berada di sekolah dasar. Aku mencoba untuk tidak terlalu banyak meminta dari orangtuaku, karena aku tahu betapa sulitnya untuk mendapatkan uang. Aku selalu menggunakan hasil uang jualanku untuk membeli keperluan sehari-hariku.
          Pada suatu hari, saat aku sedang berjualan koran, ada orang yang membuka kaca mobilnya dan membeli koranku sambil bertanya.”Mengapa kau berjualan koran,Nak? Mengapa kamu tidak fokus saja pada sekolahmu?” Tanya seorang pria di dalam mobil karena melihatku menggunakan baju seragam sambil berjualan koran. ”Aku hanya sedang meringankan beban orang tuaku.” Jawabku sambil memberikannya sebuah koran. “Terima kasih.” Ucapnya sambil berlalu pergi karena lampu hijau sudah menyala.
          Aku berniat untuk membantu lebih banyak, karena itu aku mencoba mempelajari cara mengesol sepatu. Secara cepat aku dapat menguasainya dan berkeliling daerah perkampunganku “SOL SEPATU!!” Teriakku. Tiba-tiba ada yang berkata “Sol sepatu dong!” Ucap seorang perempuan yang berada di dalam rumahnya. Aku hanya tersenyum dan melangkahkan kakiku ke arah rumahnya.
          Sesampaiku di rumahnya aku langsung berkata “Sepatu mana yang ingin kuperbaiki?” Tanyaku padanya. Dia langsung menunjukkan sepatu yang harus kuperbaiki. Aku pun langsung memperbaikinya dan saat aku selesai, aku langsung memberikan sepatu itu dan mengatakan padanya bahwa aku sudah selesai. “Terima kasih, berapa aku harus membayarmu?” Tanyanya padaku. “Aku akan menerima berapa pun.” Ucapku padanya. Akhirnya perempuan itu memberiku selembar uang dua puluh ribuan. Aku tersenyum padanya dan pergi dari rumah itu sambil meneruskan langkahku berkeliling perkampungan.
          Setelah aku lulus sekolah dasar, aku tidak melanjutkan studiku melainkan bekerja untuk membantu keuangan keluargaku. Aku menjadi pekerja kasar di tempat bangunan yang ada di dekat rumahku. Untungnya aku mendapatkan upah yang lumayan besar jia dipakai untuk keperluan sehari-hariku, tetapi tetap saja aku tidak dapat menggunakan uang itu sepenuhnya untukku, karena aku masih mempunyai adik yang harus kupenuhi keperluan sekolahnya.
          Selain bekerja menjadi penjual koran, tukang sol sepatu, dan pekerja kasar di tempat pembangunan, aku tetap mengikuti beberapa pelajaran di SMP negeri. Aku tidak belajar di dalam kelas melainkan hanya memperhatikan dari luar. Aku tidak sanggup membeli seragam maka karena itu aku tidak diperbolehkan sekolah disana. Aku bekerja sambil belajar agar aku masih bisa mempunyai masa depan yang cerah. Aku ingin membanggakan orang tuaku dengan prestasi yang kupunya. Aku belajar pada pagi hari, menjual koran pada siang hari, dan menjadi pekerja kasar di sore hari, sedangkan aku menjadi tukang sol sepatu pada hari libur saja.
          Pada suatu hari, saat aku sedang memperbaiki sepatu di rumah seorang saudagar kaya, ada seseorang yang mengajakku bicara dan dia menawarkan sebuah pekerjaan. Aku menerimanya karena dia menawarkan upah yang besar, setelah itu aku diajak masuk ke dalam rumah dan aku dipertemukan oleh seseorang – yang menurutku orang yang mempunyai rumah ini- dia memberitahu apa yang harus kulakukan. Ternyata, aku dipekerjakan menjadi bodyguard nya. Aku selalu mengikuti kemanapun orang itu pergi, aku selalu pulang di hari libur saja.
          Setelah beberapa bulan aku berkerja dengannya, aku diperbolehkan untuk bekerja di perusahaannya, menjadi seorang OB. Menurutku, semua pekerjaan ini memang melelahkan tetapi aku melakukan ini semua untuk keluargaku. Beruntungnya, orang kaya itu membiayaiku sekolah. Aku belajar dengan sungguh-sungguh, setelah tiga tahun menjalani sekolahku dan bekerja, aku lulus dan dapat prestasi yang membanggakan.

          Setidaknya itu adalah beberapa perjuangan hidupku yang bisa membawaku hingga sesukses ini. Sekarang aku adalah penerus perusahaan dari papa mertuaku. Ya, aku menikah denga putrinya karena jasaku selama ini. Aku tidak akan pernah melupakan seluruh perjuangan dan pengorbanan yang pernah ada dalam hidupku. Terima kasih Tuhan karena telah menemani seluruh perjalanan hidupku.



-Laika

Carter

Cahaya menghilang. Kegelapan pun menyapa. Monster dan hantu yang takut akan cahaya pun keluar dari persembunyiannya. Manusia yang ketakutan langsung bersembunyi dan berlarian menyelamatkan diri. Mereka terus berfikir, bahwa malam ini adalah malam terburuk dalam hidup mereka.
            Bahkan, mereka tidak bisa menyalakan api karena Peri Api adalah sahabat baik Peri Bulan. Kunang-kunang yang menyala dalam gelap pun bersembunyi karena ketakutan.
            Setelah sekian lama para manusia bersembunyi, akhirnya matahari terbit dari ufuk Timur. Monster dan hantu kembali ke persembunyiannya. Manusia pun keluar daari persembunyiannya. Kini, mereka bisa menjalani hari ditemani matahari.
            Hari itu juga, diadakan pertemuan beberapa negara. Memang tak semua, karena ada beberapa negara yang masih diterpa gelapnya malam. Wakil dari negara-negara yang sudah diterangi matahari langsung berlayar menuju tempat pertemuan.
            “Apa yang harus kita lakukan? Jika begini terus, setiap malam kita akan diserang monster dan hantu!” Ujar seorang perwakilan dari Vietnam.
            “Sebentar, Peri Bulan berkata bahwa anaknya, Luna, telah diculik oleh manusia bumi. Kalau begitu, kita harus mencari penculik itu, dan membawa kembali Luna kepada ibunya.” Kata seorang perwakilan dari Malaysia.
            “Lalu kita akan menghukum penculik itu.” Ujar seorang perwakilan dari Indonesia.
            “Baiklah. Kita akan buat kesepakatan. Jika seseorang menemukan Luna, segera kembalikan kepada ibunya  dan beritahu seluruh dunia. Hukuman untuk penculiknya akan kita rundingkan.” Ucap seorang perwakilan dari Singapura. “Oh, bagi seseorang yang menemukan Luna, akan kuhadiahkan emas duapuluh empat  karat untuknya.”
            Pertemuan pun diakhiri. Semua perwakilan pun pulang dan memberitahukan tentang pertemuan itu kepada semua penduduk negaranya. Penduduk itu pun antusias dan bertekad akan menemukan Luna.
             Sama halnya dengan penduduk Negara Indonesia. Mereka sangat antusias akan sayembara ini.
            “Aku akan menemukan Luna!” Ujar seorang anak lelaki berusia tujuh tahun yang bernama Carter.
            Seorang pria di sebelahnya terkikik. “Hai, bocah kecil! Apakah kau pikir, bocah sepertimu bisa menemukan anak Peri Bulan dan mendapatkan emas duapuluh empat karat? Itu tidak mungkin!” Ujarnya.
            “Benar sekali! Paling, bocah sepertimu hanya mampu berlari sejauh lima meter!” Ujar seorang wanita di sebelah pria tadi.
            Carter hanya terdiam. Ia lalu masuk ke dalam hutan, berniat mencari anak Peri Bulan, Luna.
______________

            Petang sudah tiba. Namun, Carter belum kunjung menemukan Luna, anak sang Peri Bulan. Padahal, ia sudah mencari di sekeliling hutan, ke dekat danau, hingga ke dekat gua monster seraya berteriak, “Wahai Luna, anak dari Peri Bulan, kembalilah. Peri Bulan mencarimu. Ia mengira manusia membawamu pergi dan berhenti memantulkan sinar matahari. Moster-monster pun menyerang kami di malam hari!”
            Matahari hampir tenggelam. Carter pun menyerah. Ia akan melanjutkan pencariannya esok hari. Dia pun langsung berlari menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan, ia terus berharap tidak terlambat sampai rumah.
            Namun sayang, harapannya tidak terkabul. Matahari sudah tenggelam saat ia hampir sampai di rumah. Monster dan hantu langsung mencegat langkahnya. Carter ketakutan. Dia mundur perlahan, hingga terpojok. Ia sudah tidak bisa kemana-mana lagi.
            “Menjauhlah dari anak itu!”
            Carter, hantu dan monster menoleh. Seorang gadis. Tubuhnya bercahaya bagai bulan. Pakaiannya pun terlihat sangat indah. Ialah Luna, anak Peri Bulan.
            Melihat cahaya, monster dan hantu langsung lari terbirit-birit.
            “Terimakasih!” Ujar  Carter.
            “Tidak, aku yang seharusnya berterimakasih.... Em… Siapa namamu?”
            “Carter, Kenapa?”
            “Sudahlah, ayo kita pergi ke tempat ibuku.” Ujar Luna seraya menarik tangan Carter. Mereka pergi dengan portal yang dibuat oleh Luna.
____________

            Sesampainya di bulan, mereka langsung disambut baik oleh penjaga. Tanpa basa-basi, Carter dan Luna langsung menemui Peri Bulan.
            Betapa antusiasnya Peri Bulan melihat anaknya kembali. Ia langsung memeluk Luna dan bertanya, “Dari mana saja kamu, Luna? Ada yang menculikmu? Ada yang menyakitimu?”
            Luna melepaskan pelukan ibunya dan berkata, “Aku tidak apa-apa, ibu. Maafkan aku karena pergi tidak pamit. Kemarin, aku berniat pergi ke bumi untuk berjalan-jalan. Sayangnya, aku tertidur di dekat danau karena serbuk bunga tidur. Untungnya, aku terbangun karena Carter yang berteriak di dekatku.”
            “Terimakasih, Carter.” Ujar Peri Bulan.
            “Oh, Ibu. Aku ingin ibu kembali memantulkan sinar matahari. Kasihan warga bumi. Mereka dikejar oleh hantu dan monster karena kegelapan.” Ujar Luna.
            Peri Bulan tersenyum dan mengangguk. Ia kembali menjalankan tugasnya, memantulkan sinar matahari untuk bumi.
            Luna kembali kepada ibunya. Peri Bulan kembali memantulkan sinar matahari. Monster dan hantu kembali ke tempat persembunyiannya. Manusia kembali hidup dengan tenang, nyaman dan damai. Carter pun hidup dengan senang, ditambah emas duapuluh empat karat, ia menjadi orang terkaya di desa, namun tetap murah hati.

____________________





-Nilda

Kenangan Lalu

Hujan turun dengan deras sore ini. Suara gemericik hujan terdengar, bersahutan dengan nyanyian katak yang senang akan datangnya hujan. Hawa dingin mulai terasa di kulit Cakra. Ia termenung menatap tugas sekolahnya yang tak kunjung selesai. Hidungnya mencium aroma rujak yang baru saja dihidangkan. Matanya beralih menatap gitar kesayangannya di pojok ruangan. Setelah berdiam beberapa saat, tangannya meraih gitar berwarna cokelat muda itu.
            Cakra perlahan memainkan sebuah lagu kesukaannya. Matanya melirik ke arah jendela, dimana terlihat sebuah pohon mangga yang cukup besar. Pikirannya melayang, mengingat suatu kejadian saat ia masih menduduki bangku  kelas lima sekolah dasar.
            Saat itu, teman-teman Cakra mengajaknya mencuri buah mangga dari pohon Pak RT. Perut Cakra memang sudah kelaparan, namun ia menolaknya dengan alasan ingin melatih kemampuannya bermain gitar. Teman-temannya tertawa, mengejek Cakra culun, lalu berlari menuju rumah Pak RT, meninggalkannya sendirian di padang rumput yang cukup luas.
            Tak lama setelah kepergian teman-temannya, Ibu RT datang dan menawarkannya rujak dari berbagai buah-buahan dengan porsi yang cukup banyak. Aroma rujak tercium jelas di indra penciuman Cakra, membuat perutnya  kembali berbunyi. Tentu saja ia menerimanya dengan hati senang, mengingat keadaan perutnya yang melolong minta diisi.
           Setelah Ibu RT pergi meninggalkan rujaknya bersama Cakra, terdengar suara yang cukup berisik. Ternyata, itu adalah suara teman-temannya yang ketakutan. Setelah melihat Cakra yang sedang memakan rujak dengan nikmat, mereka langsung duduk berhadapan dengannya dan menceritakan apa yang terjadi.
            Cakra tertawa mendengar cerita teman-temannya yang akhirnya gagal mencuri mangga, dan berakhir dengan kemarahan Pak RT. Ia mempersilahkan teman-temannya memakan rujak bersama, lalu mulai memetik senar gitar, memainkan sebuah lagu. Mendengar alunan lagu yang indah dari gitar Cakra, teman-temannya terpaku. Mereka yang semula mengejek Cakra, kini bangga akan kemampuannya bermain gitar.
            Tok! Tok!

Mendengar ketukan pintu, Cakra tersadar dari lamunannya. Hidungnya mencium bau khas hujan atau petrichor, bercampur dengan aroma rujak yang tak kunjung ia makan. Hari sudah malam, hujan sudah reda, dan tugasnya sama sekali belum terselesaikan. Benar kata orang, hujan bisa membuat kenangan lama kembali teringat.




-Nilda

Danau Kehidupan

Gadis itu berjalan pelan menyusuri danau. Hatinya gundah. Matanya kosong, seolah sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat penting di hidupnya. Menurutnya, sudah terlalu banyak beban yang ia pikul. Terlalu banyak masalah yang ia tanggung. Terlalu banyak ujian yang tuhan berikan padanya.
            Gadis itu melihat ke arah danau. Air yang begitu tenang, seolah tak ada beban di hidupya. Air selalu mengalir, tanpa ada hambatan apapun.
            Tanpa sadar, gadis itu sudah memasukkan kedua kakinya ke dalam air, di tepian danau. Suhu dingin air dingin terasa di kulitnya. Umur empat belas tahun termasuk hidup yang sangat singkat. Tapi apa daya, ia hanya ingin melepas semua bebannya, melepaskan beban pikirannya. Lari dari masalahnya.
            Air sudah mencapai lutut gadis itu. Ia sama sekali tidak berniat kembali ke daratan. Keputusannya sudah bulat, meski sejuta ketakutan masih ada di dalam hatinya. Ia ingin mati. Ia ingin mengakhiri hidupnya di danau ini.
Tiba-tiba, terdengar cipratan air dari seberang danau. Gadis itu menoleh, melihat seorang anak perempuan yang terlihat lebih muda darinya, sedang mencuci baju. Tubuhnya terllihat penuh dengan luka. Beberapa sayatan di pergelangan tangan, lebam di mata, hingga luka di dahinya terlihat dengan jelas. Jelas sekali anak perempuan itu sudah beberapa kali mencoba bunuh diri.
Di belakang anak perempuan itu, terlihat tiga—bahkan empat anak kecil yang sangat manis, namun masih terlihat beberapa bekas luka. Sepertinya itu adalah adik dari  anak perempuan itu. Mereka terlihat ceria, bermain dengan satu sama lain. Ekspresi itu berbeda sekali dangan kakaknya, yang berekspresi sangat serius—seolah sangat menghayati pekerjaannya saat ini, mecuci baju.

Gadis itu melangkah sekali lagi. Kini, air danau sudah mencapai pinggulnya. Pandangan gadis itu masih menetapkan pandangannya pada anak perempuan di tepi danau. Air dingin semakin menyengat kulitnya.



-Nilda

Taman Kisah

Di sebuah taman yang penuh dengan bunga, adalah tempatku tinggal. Tidak banyak orang yang sadar akan keberadaanku. Semua orang yang datang ke taman ini sibuk dengan urusannya masing-masing. Sibuk dengan kisahnya masing-masing. Bukan bermaksud menonton kisah seseorang tanpa izin, namun, kisah mereka yang datang ke taman ini setiap harinya sangat menarik. Untuk mendengar dan melihat kisah itu, aku selalu duduk di suatu sudut. Sudut yang hampir tidak disadari orang sekitar. Dari sini, aku bisa menonton semua kisah mereka.
Seperti kisah seorang gadis di kursi taman yang sedang memainkan gitarnya itu.
Kisah miliknya sangat menarik. Kisah itu merupakan salah satu kisah favoritku. Kisah tentang seorang gadis yang sangat menyukai gitar.
***

Gadis itu datang lagi. Gadis yang selalu membawa gitar ke taman ini setiap hari Sabtu pagi, lalu duduk dan memainkannya. Ia bukan pengamen, meski banyak orang yang mengira ia pengamen. Ia juga tidak tergabung dalam band manapun, meski permainannya cukup bagus. Dia hanyalah gadis biasa yang sangat menyukai gitar.
Veronica, nama gadis itu. Aku mengetahuinya dari orang-orang yang mengenalnya dan memanggilnya begitu. Ia menggerakkan tangannya, memetik senar gitar dan memulai sebuah lagu. Matanya terpejam, menghayati lagu dengan sepenuh hati. Bibirnya tersenyum, melukiskan betapa  senangnnya ia memainkan gitar kesayangannya itu, sekaligus menggambarkan sifatnya yang ceria.
Waktu akan terasa berlalu dengan cepat jika kita dilewati dengan hal menyenangkan yang kita sukai, atau mendengarkan musik. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, tepat waktu makan siang. Matahari sudah terasa menyengat di atas kepala. Veronica menghentikan permainan gitarnya. Ia berdiri, lalu buru-buru berlari meninggalkan taman.
***

Sabtu pagi ini, Veronica datang lagi. Ia duduk, lalu memainkann gitarnya. Matanya terpejam lagi. Namun, saat ia sudah mulai mendalami lagu, seorang laki-laki duduk di sebelahnya.
Veronica berusaha tidak peduli, dan terus memainkan gitarnya. Gagal. Usahanya berujung sia-sia,  karena lagunya menjadi berantakan. Menyerah, ia berhenti memainkan gitarnya.
“Ada apa?” ujar sang lelaki di sampingnya.
Verica menoleh, dan berujar pelan, “Hah?”
“Kenapa berhenti?” ujar laki-laki itu. “Padahal bagus.” lanjutnya.
Pipi Veronica terlihat sedikit memerah. Ia lalu tersenyum lebar. “Udah nggak konsen.”
Laki-laki itu tertawa kecil. Ia lalu mengulurkan tangannya. “Anton. Kamu Veronica kan?” Ujarnya.
Veronica tertawa ikut tertawa kecil. Ia menjabat tangan Anton dan berujar, “Iya. Kok tau? Aku terkenal banget ya, disini?”
“Tau aja.” Ujar laki laki yang bernama Anton itu, menyenderkan punggungnya di kursi. “Ajarin main gitar dong.” Lanjutnya.
Veronica mengerutkan dahinya. “Maksudnya?”
“Ya… Ajarin aku main gitar.” ucap Anton. Ia berdiri dari kursi taman. “Sabtu pagi minggu depan ya. Aku bawa gitarnya deh!” Lanjutnya, lalu berlari keluar dari taman penuh bunga itu. Meninggalkan Veronica yang masih berusaha mencerna perkataannya.
***

Sabtu pagi.
Veronica datang lagi, dengan sebuah gitar berwarna cokelat muda di tangannya. Ia duduk di salah satu kursi taman, dan memangku gitarnya.
“Hai.”
Seorang laki-laki duduk di sebelah Veronica, dengan gitar di tangannya. Ialah Anton, laki-laki yang kemarin meminta Veronica mengajarinya bermain gitar.
“Mulai sekarang ya?” Ujar Anton. Veronica mengangguk setuju, lalu mulai mengajari Anton bermain gitar.
***



-Nilda