Setelah
kegelapan total yang terjadi karena cahaya bulan diredupkan, semua manusia yang
ada di bumi berlarian menyelamatkan diri dari monster yang keluar dari
kegelapan. Dari kejauhan Peri Bulan hanya mengamati seluruh kegiatan di bumi
dan mencari keberadaan anaknya. Seluruh pemimpin distrik berkumpul sesuai
dengan perjanjian jika ada yang terjadi terhadap bumi. Semua pemimpin distrik
berdiskusi mengenai penculikan anak Peri Bulan.
“Kita harus
segera menemukan penculik itu dan mengembalikan anak Peri Bulan, karena kutukan
ini tidak akan berhenti jika kita tidak menemukannya.” Kata pemimpin distrik
13.
“Kami tahu, tapi
masalahnya kita semua tidak mengetahui rupanya.” Ucap pemimpin ditrik 15.
“Betul sekali
itu, kita juga kan tidak mungkin bertanya pada Peri Bulan.” Ucap pemimpin dari
distrik 9.
“Bagaimana jika
kita mengumpulkan orang di aula perkumpulan setiap distrik dan setelah itu kita
akan mencari di setiap rumah yang ada di distrik itu.” Ucap pemimpin distrik 1.
“Aku setuju
dengan pendapatnya, tetapi bisa saja anak Peri Bulan tidak disembunyikan di
rumah tetapi di hutan atau tempat lainnya.” Ucap pemimpin distrik 5.
“Kita akan
mencari di hutan jika kita tidak menemukannya di rumah yang kita periksa.” Ucap
pemimpin distrik 14.
“Baiklah, kita
akan melakukan pemeriksaan serentak di setiap distrik mulai besok pagi.” Ucap
pemimpin distrik 13.
Disaat yang sama di hutan selatan 13,
ada 2 orang anak yang sedang berjalan ke rumahnya hanya dengan penerangan dari
lampu pijar. Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari arah semak-semak.
“Apa kau
mendengar bunyi itu?” Tanya anak pertama.
“Aku
mendengarnya. Kita harus bergegas!” Ucap anak yang kedua.
Tiba-tiba keluar
seorang anak kecil dari semak-semak.
“Tunggu!” Seru
anak itu saat melihat kedua orang didepannya akan berlari.
Kedua anak itu
langsung terdiam dan menoleh karena mendengar suara anak kecil.
“Kamu siapa?”
Tanya anak yang pertama.
“Aku adalah
Putri Bulan. Aku diculik oleh seseorang dan disembunyikan disini.” Jelas Putri
Bulan.
“Namaku Sasa dan
nama dia Kevin. Senang bertemu denganmu putri. Tapi mengapa engkau
disembunyikan disini putri?” Tanya Sasa.
“Mungkin orang
itu berpikir tidak akan ada yang menemukannya disini. Dihutan ini kan jarang
ada orang yang lewat.” Ucap Kevin.
“Kami harus
membawamu kembali, bumi menjadi gelap karena bulan diredupkan oleh Peri Bulan.
Jika kita tidak membawamu sekarang dia akan membuat bumi gelap selamanya.” Ucap
Sasa.
“Aku sangat
ingin kembali, tetapi aku tidak tahu caranya.” Ucap Putri Bulan.
“Setidaknya kita
harus mendapatkan tempat untuk bermalam.” Ucap Kevin.
“Bagaimana
dengan rumah nenekku, dia pasti akan dengan senang hati menerima kita.” Ucap
Sasa.
“Baiklah, kita
akan bermalam disana. Aku juga akan memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa
kembali ke Bulan.” Ucap Putri Bulan.
“Kita harus
sudah sampai di rumah neneknya Sasa sebelum tengah malam, karena monster
kegelapan keluar dari dalam hutan kegelapan tepat tengah malam.” Ucap Kevin.
“Baiklah, mulai
dari sekarang kita harus diam. Aku takut ada binatang buas di sekitar hutan
ini.” Ucap Sasa.
Setelah mereka
menentukan tujuan, mereka langsung berjalan kearah rumah nenek Sasa atau lebih
dikenal dengan nenek Puri. Sesampainya mereka di depan rumah nenek Puri, tanpa
mengetuk atau menyerukan nama nenek Puri, mereka langsung masuk ke dalam rumah.
“Selamat malam
cucu-cucuku, ada apa kalian malam-malam datang kesini?” Tanya Nenek.
“Kami hanya
ingin bermalam disini sehari saja boleh ya, Nek? Kalau kami harus berjalan ke
rumah kami sendiri pasti akan lama dan kami takut monster kegelapan mengejar
kami.” Jelas Sasa kepada nenek.
“Lalu siapakah
gadis cantik yang bersama kalian ini?” Tanya nenek Puri.
“Namaku Putri.”
Jawab Putri Bulan.
“Baiklah, kalian
boleh bermalam disini tetapi hanya sehari saja ya! Kalau kalian bermalam lebih
lama lagi pasti orang tua kalian akan berpikir bahwa kalian hilang.” Ucap nenek
Puri sambil terkekeh.
“Siap nek! Kami
tidur dulu ya. Selamat Malam.” Ucap Kevin.
Saat pagi tiba,
mereka langsung terbangun dan meminta izin ke nenek Puri untuk pergi. Mereka
langsung berjalan tanpa tujuan sambil menunggu Putri Bulan memberitahu apa yang
akan mereka lakukan. Tiba-tiba terdengar bunyi jentikan jari dari Putri Bulan.
“Aku tahu
caranya untuk kembali ke bulan!” Seru Putri Bulan dengan riang.
“Bagaimana?”
Ucap Sasa dan Kevin bersamaan.
“Sekarang
tanggal berapa?” Tanya Putri Bulan kepada kedua anak itu.
“Aku tidak tahu
sekarang tanggal berapa tapi kalau dilihat dari bentuk bulan kemarin malam sebelum
redup mungkin sudah akhir bulan” Ucap Sasa sambil mengangkat bahunya.
“Baiklah, jika
bulan purnama terjadi besok aku harus berada di tempat yang tepat agar bisa
kembali ke bulan. Aku juga membutuhkan bantuan kalian untuk melakukan itu.”
Jelas Putri Bulan.
“Apa yang kau
perlukan?” Tanya Kevin.
“Aku hanya
memerlukan beberapa bahan yang bisa membawaku kembali ke bulan.” Ucap Putri
Bulan sambil berusaha mengingat.
“Iya, maksudku
apa bahan yang kau perlukan?” Tanya Kevin kembali.
“Sepertinya, aku
hanya membutuhkan bunga daisy, anggrek, dan air sungai yang mengalir.” Ucap
Putri Bulan
“Sepertinya itu
adalah bahan yang akan kita dapatkan dengan mudah.” Ucap Sasa.
“Tunggu dulu!
Aku juga membutuhkan sebuah cawan yang berlapiskan perak untuk menaruh hasil
ramuan itu.” Ucap Putri Bulan.
“Mungkin hal
yang satu itu agak sulit untuk didapatkan.” Ucap Kevin.
“Benar, jika
kita mencari cawan yang biasa mungkin mudah karena bisa ada dimana saja, tetapi
jika kita mencari cawan yang berlapiskan perak kita akan sulit mendapatkannya
karena cawan itu hanya dibuat untuk orang-orang kaya.” Ucap Sasa.
“Jadi maksudmu
kita harus mencari di rumah orang-orang kaya?” Tanya Putri Bulan bingung.
“Maksudku memang
itu. Maaf jika bahasaku terlalu rumit.” Ucap Sasa menyesal.
“Tidak apa. Tapi
bagaimana cara kita bisa mendapatkan cawan itu di dalam rumah orang lain?”
Tanya Kevin.
“Setahuku hari ini
akan diadakan pencarian besar-besaran di setiap distrik dan seluruh orang
dikumpulkan di aula perkumpulan jadi kita bisa mengambilnya tanpa sepengetahuan
orang lain.” Jelas Sasa.
“Baiklah,
setidaknya kita sudah tahu cara mendapatkan cawan itu. Sekarang, Dimana kita
bisa menemukan bunga daisy dan anggrek?” Tanya Putri Bulan.
“Ibuku mempunyai
kebun bunga di halamannya, mungkin kita bisa menemukan kedua bunga itu disana.”
Ucap Kevin.
“Baiklah, tujuan
kita sekarang menuju rumah Kevin.” Ucap Sasa.
Setelah mereka
menentukan tujuan, mereka langsung berjalan dengan semangat. Sesampainya
disana, Kevin langsung mencari ibunya. Kevin telah mencari di seluruh penjuru
rumahnya tapi dia masih tidak menemukan tanda-tanda ada orang di rumahnya.
“Sepertinya
orang tuaku sedang dalam perjalanan ke aula.” Ucap Kevin.
“Jadi sepertiya
kita harus mencari sendiri bunga daisy dan bunga anggrek.” Ucap Sasa
“Kurasa bunga
daisy ada di sekitar sana.” Ucap Kevin sambil menunjuk ujung kanan halaman
rumahnya.
“Aku akan
mengambil bunga itu dan kalian akan mencari bunga anggrek.” Ucap Sasa.
“Kurasa bunga
anggrek disini masih belum terlalu mekar jadi bunganya masih belum terlalu
banyak.” Ucap Kevin.
“Aku tidak
memerlukan terlalu banyak, aku hanya membutuhkan sedikit saja untuk membuat ramuan
itu.” Ucap Putri Bulan.
“Aku akan
mengambilkannya untukmu.” Ucap Kevin.
“Bahan yang
pertama dan yang kedua sudah kita dapatkan, kita hanya memerlukan cawan dan air
yang mengalir.” Ucap Kevin kembali.
“Kita akan pergi
ke rumah orang kaya yang ada di ujung jalan ini, karena rumah itu adalah yang
terdekat.” Ucap Sasa.
“Mungkin kita
harus berpencar supaya bisa lebih cepat mengumpulkan semua yang kita butuhkan.”
Saran Putri Bulan.
“Itu adalah ide
yang bagus. Aku akan pergi sendiri dan kalian akan tetap bersama. Kita hanya
perlu bertemu di suatu tempat.” Ucap Kevin
“Kita akan
bertemu di bukit sana.” Ucap Sasa sambil menunjuk bukit tertinggi diantara
bukit lainnya.
“Baiklah, kita
akan berpisah dan bertemu disana.” Ucap Kevin sambil meninggalkan Sasa dan
Putri Bulan.
“Kita harus
melakukannya dengan cepat karena seluruh penjaga sedang memeriksa seluruh rumah
di distrik ini.” Ucap Sasa.
“Lebih baik kau
berjaga dan aku akan mengabilkannya untukmu, Putri.” Ucap Sasa sambil memanjat
jendela yang tidakterkunci dan masuk ke dalamnya.
“Lebih baik kau
bergegas!” Seru Putri Bulan.
Setelah menunggu
beberapa menit diluar rumah akhirnya Sasa kembali dengan membawa cawan di
tangannya.
“Ayo, kita harus
segera ke bukit.” Ucap Putri Bulan sambil menarik tangan Sasa.
“Apa yang harus
kau lakukan setelah kau membuat ramuan itu, Putri?” Tanya Sasa.
“Aku hanya perlu
meminumnya, menghilang, dan muncul di bulan.” Ucap Putri Bulan.
“Lalu bagaimana
dengan penculikmu?” Tanya Sasa kembali.
“Aku hampir lupa
dengan itu…..” Ucap Putri Bulan sambil menghela nafas.
“Aku akan
mencarinya dengan bantuan ibuku, aku juga ingin mengajukan pertanyaan padamu.”
Sambung Putri Bulan.
“Apa?” Tanya
Sasa penasaran.
“Apakah kamu mau
ikut denganku ke bulan? Aku kesepian disana tidak ada yang bisa kuajak bicara.”
Ucap Putri Bulan.
“Aku sangat
ingin pergi denganmu dan merasakan kehidupan di bulan, tetapi aku tidak dapat
meninggalkan keluargaku disini.” Ucap Sasa sendu.
“Baiklah, aku
mengerti.” Ucap Putri Bulan.
“Ngomong-ngomong
Kevin kemana ya? Dari tadi belum kelihatan, padahal kan dia hanya mencari air
sungai saja.” Tanya Sasa.
“Aku juga tidak
tahu tapi lebih baik kita memulai membuat ramuannya dari sekarang.” Ucap Putri
Bulan sambil menyodorkan tangannya ke arah Sasa.
“Apa yang bisa
kubantu?” Ucap Sasa saat melihat Putri sibuk dengan bunga yang tadi diambil
dari halaman rumah Kevin.
“Kau bisa
membantuku dengan menumbuk bunga anggrek itu, tetapi jangan sampai terlalu
hancur.” Ucap Putri Bulan tanpa menoleh ke arah Sasa karena sibuk dengan bunga
daisy ditangannya.
“Hei kalian! Aku
sudah mendapatkan airnya.” Seru Kevin dari kejauhan.
“Kau darimana
saja hah?!” Protes Sasa.
“Aku hanya
mengambil air ini kok.” Ucap Kevin.
“Tetepi mengapa
lama sekali?” Tanya Sasa.
“Sudah, sudah
tidak usah bertengkar. Yang penting dia sudah berada disini.” Ucap Putri Bulan
menengahi. ”Sekarang mana airnya?” Tanya Putri Bulan kepada Kevin.
“Nih!” Ucap
Kevin sambil menyodorkan gelas plastik yang sedari tadi dipegangnya.
“Baiklah, semua
bahannya sudah terkumpul. Aku hanya perlu memasukkan bunga ini kedalam cawan
dan mencampurnya dengan air.” Ucap Putri sambil menaruh bunga yang tadi
ditumbuk olehnya dan Sasa.
Setelah
memasukkan bunga ke dalam cawan, Putri Bulan menuangkan air kedalam cawan perak
itu.
“Terima kasih
telah membantuku. Aku tidak akan melupakan kalian.” Ucap Putri Bulan sebelum
meminum ramuan yang dia buat.
“Semoga kita
bisa bertemu di lain waktu.” Ucap Sasa.
“Sampai jumpa!”
Ucap Kevin.
“Baiklah, kalian
baik-baik disini ya! Aku pegi dulu.” Ucap Putri Bulan lalu meminum ramuan yang
dipegangnya.
Tiba-tiba keluar
cahaya biru dari dalam tubuh Putri Bulan. Sasa dan Kevin hanya bisa
memperhatikan. Terdengar suara cawan terjatuh, menandakan bahwa orang yang
memegangnya sudah tidak ada.
“Sekarang dia
sudah kembali ke bulan.” Ucap Sasa sambil menatap ke bulan yang sudah terlihat
cahayanya kembali.
“Sepertinya Peri
Bulan sudah menarik kutukannya.” Ucap Kevin
-Laika