Selasa, 16 Februari 2016

Kembalinya Cahaya Sang Bulan

Setelah kegelapan total yang terjadi karena cahaya bulan diredupkan, semua manusia yang ada di bumi berlarian menyelamatkan diri dari monster yang keluar dari kegelapan. Dari kejauhan Peri Bulan hanya mengamati seluruh kegiatan di bumi dan mencari keberadaan anaknya. Seluruh pemimpin distrik berkumpul sesuai dengan perjanjian jika ada yang terjadi terhadap bumi. Semua pemimpin distrik berdiskusi mengenai penculikan anak Peri Bulan.
“Kita harus segera menemukan penculik itu dan mengembalikan anak Peri Bulan, karena kutukan ini tidak akan berhenti jika kita tidak menemukannya.” Kata pemimpin distrik 13.
“Kami tahu, tapi masalahnya kita semua tidak mengetahui rupanya.” Ucap pemimpin ditrik 15.
“Betul sekali itu, kita juga kan tidak mungkin bertanya pada Peri Bulan.” Ucap pemimpin dari distrik 9.
“Bagaimana jika kita mengumpulkan orang di aula perkumpulan setiap distrik dan setelah itu kita akan mencari di setiap rumah yang ada di distrik itu.” Ucap pemimpin distrik 1.
“Aku setuju dengan pendapatnya, tetapi bisa saja anak Peri Bulan tidak disembunyikan di rumah tetapi di hutan atau tempat lainnya.” Ucap pemimpin distrik 5.
“Kita akan mencari di hutan jika kita tidak menemukannya di rumah yang kita periksa.” Ucap pemimpin distrik 14.
“Baiklah, kita akan melakukan pemeriksaan serentak di setiap distrik mulai besok pagi.” Ucap pemimpin distrik 13.

          Disaat yang sama di hutan selatan 13, ada 2 orang anak yang sedang berjalan ke rumahnya hanya dengan penerangan dari lampu pijar. Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari arah semak-semak.
“Apa kau mendengar bunyi itu?” Tanya anak pertama.
“Aku mendengarnya. Kita harus bergegas!” Ucap anak yang kedua.
Tiba-tiba keluar seorang anak kecil dari semak-semak.
“Tunggu!” Seru anak itu saat melihat kedua orang didepannya akan berlari.
Kedua anak itu langsung terdiam dan menoleh karena mendengar suara anak kecil.
“Kamu siapa?” Tanya anak yang pertama.
“Aku adalah Putri Bulan. Aku diculik oleh seseorang dan disembunyikan disini.” Jelas Putri Bulan.
“Namaku Sasa dan nama dia Kevin. Senang bertemu denganmu putri. Tapi mengapa engkau disembunyikan disini putri?” Tanya Sasa.
“Mungkin orang itu berpikir tidak akan ada yang menemukannya disini. Dihutan ini kan jarang ada orang yang lewat.” Ucap Kevin.
“Kami harus membawamu kembali, bumi menjadi gelap karena bulan diredupkan oleh Peri Bulan. Jika kita tidak membawamu sekarang dia akan membuat bumi gelap selamanya.” Ucap Sasa.
“Aku sangat ingin kembali, tetapi aku tidak tahu caranya.” Ucap Putri Bulan.
“Setidaknya kita harus mendapatkan tempat untuk bermalam.” Ucap Kevin.
“Bagaimana dengan rumah nenekku, dia pasti akan dengan senang hati menerima kita.” Ucap Sasa.
“Baiklah, kita akan bermalam disana. Aku juga akan memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke Bulan.” Ucap Putri Bulan.
“Kita harus sudah sampai di rumah neneknya Sasa sebelum tengah malam, karena monster kegelapan keluar dari dalam hutan kegelapan tepat tengah malam.” Ucap Kevin.
“Baiklah, mulai dari sekarang kita harus diam. Aku takut ada binatang buas di sekitar hutan ini.” Ucap Sasa.
Setelah mereka menentukan tujuan, mereka langsung berjalan kearah rumah nenek Sasa atau lebih dikenal dengan nenek Puri. Sesampainya mereka di depan rumah nenek Puri, tanpa mengetuk atau menyerukan nama nenek Puri, mereka langsung masuk ke dalam rumah.
“Selamat malam cucu-cucuku, ada apa kalian malam-malam datang kesini?” Tanya Nenek.
“Kami hanya ingin bermalam disini sehari saja boleh ya, Nek? Kalau kami harus berjalan ke rumah kami sendiri pasti akan lama dan kami takut monster kegelapan mengejar kami.” Jelas Sasa kepada nenek.
“Lalu siapakah gadis cantik yang bersama kalian ini?” Tanya nenek Puri.
“Namaku Putri.” Jawab Putri Bulan.
“Baiklah, kalian boleh bermalam disini tetapi hanya sehari saja ya! Kalau kalian bermalam lebih lama lagi pasti orang tua kalian akan berpikir bahwa kalian hilang.” Ucap nenek Puri sambil terkekeh.
“Siap nek! Kami tidur dulu ya. Selamat Malam.” Ucap Kevin.

Saat pagi tiba, mereka langsung terbangun dan meminta izin ke nenek Puri untuk pergi. Mereka langsung berjalan tanpa tujuan sambil menunggu Putri Bulan memberitahu apa yang akan mereka lakukan. Tiba-tiba terdengar bunyi jentikan jari dari Putri Bulan.
“Aku tahu caranya untuk kembali ke bulan!” Seru Putri Bulan dengan riang.
“Bagaimana?” Ucap Sasa dan Kevin bersamaan.
“Sekarang tanggal berapa?” Tanya Putri Bulan kepada kedua anak itu.
“Aku tidak tahu sekarang tanggal berapa tapi kalau dilihat dari bentuk bulan kemarin malam sebelum redup mungkin sudah akhir bulan” Ucap Sasa sambil mengangkat bahunya.
“Baiklah, jika bulan purnama terjadi besok aku harus berada di tempat yang tepat agar bisa kembali ke bulan. Aku juga membutuhkan bantuan kalian untuk melakukan itu.” Jelas Putri Bulan.
“Apa yang kau perlukan?” Tanya Kevin.
“Aku hanya memerlukan beberapa bahan yang bisa membawaku kembali ke bulan.” Ucap Putri Bulan sambil berusaha mengingat.
“Iya, maksudku apa bahan yang kau perlukan?” Tanya Kevin kembali.
“Sepertinya, aku hanya membutuhkan bunga daisy, anggrek, dan air sungai yang mengalir.” Ucap Putri Bulan
“Sepertinya itu adalah bahan yang akan kita dapatkan dengan mudah.” Ucap Sasa.
“Tunggu dulu! Aku juga membutuhkan sebuah cawan yang berlapiskan perak untuk menaruh hasil ramuan itu.” Ucap Putri Bulan.
“Mungkin hal yang satu itu agak sulit untuk didapatkan.” Ucap Kevin.
“Benar, jika kita mencari cawan yang biasa mungkin mudah karena bisa ada dimana saja, tetapi jika kita mencari cawan yang berlapiskan perak kita akan sulit mendapatkannya karena cawan itu hanya dibuat untuk orang-orang kaya.” Ucap Sasa.
“Jadi maksudmu kita harus mencari di rumah orang-orang kaya?” Tanya Putri Bulan bingung.
“Maksudku memang itu. Maaf jika bahasaku terlalu rumit.” Ucap Sasa menyesal.
“Tidak apa. Tapi bagaimana cara kita bisa mendapatkan cawan itu di dalam rumah orang lain?” Tanya Kevin.
“Setahuku hari ini akan diadakan pencarian besar-besaran di setiap distrik dan seluruh orang dikumpulkan di aula perkumpulan jadi kita bisa mengambilnya tanpa sepengetahuan orang lain.” Jelas Sasa.
“Baiklah, setidaknya kita sudah tahu cara mendapatkan cawan itu. Sekarang, Dimana kita bisa menemukan bunga daisy dan anggrek?” Tanya Putri Bulan.
“Ibuku mempunyai kebun bunga di halamannya, mungkin kita bisa menemukan kedua bunga itu disana.” Ucap Kevin.
“Baiklah, tujuan kita sekarang menuju rumah Kevin.” Ucap Sasa.
Setelah mereka menentukan tujuan, mereka langsung berjalan dengan semangat. Sesampainya disana, Kevin langsung mencari ibunya. Kevin telah mencari di seluruh penjuru rumahnya tapi dia masih tidak menemukan tanda-tanda ada orang di rumahnya.
“Sepertinya orang tuaku sedang dalam perjalanan ke aula.” Ucap Kevin.
“Jadi sepertiya kita harus mencari sendiri bunga daisy dan bunga anggrek.” Ucap Sasa
“Kurasa bunga daisy ada di sekitar sana.” Ucap Kevin sambil menunjuk ujung kanan halaman rumahnya.
“Aku akan mengambil bunga itu dan kalian akan mencari bunga anggrek.” Ucap Sasa.
“Kurasa bunga anggrek disini masih belum terlalu mekar jadi bunganya masih belum terlalu banyak.” Ucap Kevin.
“Aku tidak memerlukan terlalu banyak, aku hanya membutuhkan sedikit saja untuk membuat ramuan itu.” Ucap Putri Bulan.
“Aku akan mengambilkannya untukmu.” Ucap Kevin.
“Bahan yang pertama dan yang kedua sudah kita dapatkan, kita hanya memerlukan cawan dan air yang mengalir.” Ucap Kevin kembali.
“Kita akan pergi ke rumah orang kaya yang ada di ujung jalan ini, karena rumah itu adalah yang terdekat.” Ucap Sasa.
“Mungkin kita harus berpencar supaya bisa lebih cepat mengumpulkan semua yang kita butuhkan.” Saran Putri Bulan.
“Itu adalah ide yang bagus. Aku akan pergi sendiri dan kalian akan tetap bersama. Kita hanya perlu bertemu di suatu tempat.” Ucap Kevin
“Kita akan bertemu di bukit sana.” Ucap Sasa sambil menunjuk bukit tertinggi diantara bukit lainnya.
“Baiklah, kita akan berpisah dan bertemu disana.” Ucap Kevin sambil meninggalkan Sasa dan Putri Bulan.
“Kita harus melakukannya dengan cepat karena seluruh penjaga sedang memeriksa seluruh rumah di distrik ini.” Ucap Sasa.
“Lebih baik kau berjaga dan aku akan mengabilkannya untukmu, Putri.” Ucap Sasa sambil memanjat jendela yang tidakterkunci dan masuk ke dalamnya.
“Lebih baik kau bergegas!” Seru Putri Bulan.
Setelah menunggu beberapa menit diluar rumah akhirnya Sasa kembali dengan membawa cawan di tangannya.
“Ayo, kita harus segera ke bukit.” Ucap Putri Bulan sambil menarik tangan Sasa.
“Apa yang harus kau lakukan setelah kau membuat ramuan itu, Putri?” Tanya Sasa.
“Aku hanya perlu meminumnya, menghilang, dan muncul di bulan.” Ucap Putri Bulan.
“Lalu bagaimana dengan penculikmu?” Tanya Sasa kembali.
“Aku hampir lupa dengan itu…..” Ucap Putri Bulan sambil menghela nafas.
“Aku akan mencarinya dengan bantuan ibuku, aku juga ingin mengajukan pertanyaan padamu.” Sambung Putri Bulan.
“Apa?” Tanya Sasa penasaran.
“Apakah kamu mau ikut denganku ke bulan? Aku kesepian disana tidak ada yang bisa kuajak bicara.” Ucap Putri Bulan.
“Aku sangat ingin pergi denganmu dan merasakan kehidupan di bulan, tetapi aku tidak dapat meninggalkan keluargaku disini.” Ucap Sasa sendu.
“Baiklah, aku mengerti.” Ucap Putri Bulan.
“Ngomong-ngomong Kevin kemana ya? Dari tadi belum kelihatan, padahal kan dia hanya mencari air sungai saja.” Tanya Sasa.
“Aku juga tidak tahu tapi lebih baik kita memulai membuat ramuannya dari sekarang.” Ucap Putri Bulan sambil menyodorkan tangannya ke arah Sasa.
“Apa yang bisa kubantu?” Ucap Sasa saat melihat Putri sibuk dengan bunga yang tadi diambil dari halaman rumah Kevin.
“Kau bisa membantuku dengan menumbuk bunga anggrek itu, tetapi jangan sampai terlalu hancur.” Ucap Putri Bulan tanpa menoleh ke arah Sasa karena sibuk dengan bunga daisy ditangannya.



“Hei kalian! Aku sudah mendapatkan airnya.” Seru Kevin dari kejauhan.
“Kau darimana saja hah?!” Protes Sasa.
“Aku hanya mengambil air ini kok.” Ucap Kevin.
“Tetepi mengapa lama sekali?” Tanya Sasa.
“Sudah, sudah tidak usah bertengkar. Yang penting dia sudah berada disini.” Ucap Putri Bulan menengahi. ”Sekarang mana airnya?” Tanya Putri Bulan kepada Kevin.
“Nih!” Ucap Kevin sambil menyodorkan gelas plastik yang sedari tadi dipegangnya.
“Baiklah, semua bahannya sudah terkumpul. Aku hanya perlu memasukkan bunga ini kedalam cawan dan mencampurnya dengan air.” Ucap Putri sambil menaruh bunga yang tadi ditumbuk olehnya dan Sasa.
Setelah memasukkan bunga ke dalam cawan, Putri Bulan menuangkan air kedalam cawan perak itu.
“Terima kasih telah membantuku. Aku tidak akan melupakan kalian.” Ucap Putri Bulan sebelum meminum ramuan yang dia buat.
“Semoga kita bisa bertemu di lain waktu.” Ucap Sasa.
“Sampai jumpa!” Ucap Kevin.
“Baiklah, kalian baik-baik disini ya! Aku pegi dulu.” Ucap Putri Bulan lalu meminum ramuan yang dipegangnya.
Tiba-tiba keluar cahaya biru dari dalam tubuh Putri Bulan. Sasa dan Kevin hanya bisa memperhatikan. Terdengar suara cawan terjatuh, menandakan bahwa orang yang memegangnya sudah tidak ada.
“Sekarang dia sudah kembali ke bulan.” Ucap Sasa sambil menatap ke bulan yang sudah terlihat cahayanya kembali.
“Sepertinya Peri Bulan sudah menarik kutukannya.” Ucap Kevin






-Laika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar