Aku menatap senang café di hadapanku. Café Alcea, café yang dibangun oleh ayahku beberapa tahun yang lalu. Dengan bunga alcea yang dipajang dimana-mana, Susana café ini menjadi semakin meriah. Warna warni pastel terlihat disini. Wangi bunga pun tercium dari luar. Seakan menarik pengunjung untuk masuk kedalamnya.
Setelah puas memandangi café dari luar, aku melangkakan kaki untuk masuk kedalamnya. Bel berbunyi, menandakan ada seseorang yang masuk. Kali ini bukan hanya wangi bunga yang tercium, melainkan wangi kopi juga masuk ke indra penciumanku ini.
Aku menatap sekeliling. Dinding ruangan ini di cat hijau seperti dedaunan, dengan beberapa wallpaper bunga alcea, dan bunga alcea asli di beberapa sudut. Di ujung terlihat meja kasir dengan papan menu di atasnya. Di ujung sebelah kanan ada 3 buah sofa merah dengan meja kecil berbentuk bundar di depannya. Di sebelah kiri terdapat beberapa meja berbagai ukuran dan berbagai warna pastel, dengan beberapa kursi di sekelilingnya. Tak lupa 2 tangkai bunga alcea di setiap meja.
Tanpa basa-basi, aku langsung mengampiri meja kasir. Bukan untuk memesan, melainkan mengambil buku menu, pulpen dan sebuah buku catatan, dan menunggu ada seorang pelanggan yang memanggil. Ya, meskipun ayahku pemilik café ini, aku juga harus membantunya. Sebagai seorang pelayan.
Kling!
Bel berbunyi lagi. Aku langsung menoleh ke arah pintu dan berteriak, “Selamat datang di Café Alcea!”
Dan ternyata yang datang adalah seorang gadis.
Gadis yang akhir-akhir ini selalu datang ke café. Gadis yang selalu duduk di sudut terpojok café, di meja nomor sebelas. Gadis yang rambutnya selalu berantakan, dan menjuntai di bahunya. Gadis yang pakaiannya selalu berantakan, seolah tidak peduli akan penampilannya. Gadis yang parasnya sangat cantik, namun sayang ia hampir tidak pernah tersenyum. Gadis yang selalu memesan kue cokelat dan kopi, tapi tak pernah menyentuhnya. Gadis yang selalu menatap kosong kearah jendela, seolah ada beban berat yang ia pikul. Gadis yang akhir-akhir ini memenuhi pikiranku, dan tanpa kusadari ia juga telah memenuhi relung di hatiku.
Tanpa kusadari, kakiku melangkah menuju tempatnya duduk. Seolah sadar akan kehadiranku, ia menoleh. Dengan tatapan yang sangat menyedihkan. Jika ia tersenyum, pasti akan terlihat sangat cantik.
“Ada yang bisa dibantu?” Tanyaku gugup dan menyerahkan buku menu.
Ia membolak-balikkan buku menu itu, lalu menutupnya kembali. “Aku ingin memesan kue cokelat dan kopi panas.” Ujarnya pelan lalu kembali menatap jendela.
Setelah mencatat pesanannya, aku mengambil buku menu di hadapannya lalu berjalan ke meja kasir.
Ah, selalu seperti ini.
…
“Kue cokelat dan kopi untuk meja sebelas!” Teriak sang koki dari balik dapur.
Buru-buru aku menghampiri sang koki. “Pesanan ini untuk meja nomor sebelas kan?” Tanyaku.
Koki itu mendengus. “Tentu saja! Apa kau tidak mendengar kata-kataku tadi? Sudahlah, cepat bawa pesanan ini dan pergi dari sini! Aku masih punya banyak tugas!” Serunya.
Aku langsung mengambil pesanan yang dimaksud dan berjalan ke arah meja nomor sebelas. Meja gadis itu.
“Silahkan.” Ujarku seraya menaruh kue cokelat dan kopi di hadapannya.
Gadis itu sama sekali tidak merespon.
Aku mendesah, lalu duduk di sebelahya. “Kenapa tidak dimakan?” Tanyaku.
Tanpa menoleh, ia langsung berujar dingin, “Aku tidak lapar.”
“Lantas mengapa kau datang kesini? Bukankah kau tahu tempat ini adalah café, tempat orang mengisi perut?” Tanyaku, yang dijawab kebisuan olehnya.
“Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ada apa? Daripada kau memendamnya sendirian, bukankah seharusnya kau menceritakannya kepada orang lain?” Ujarku lagi.
Ia menoleh. Menatapku dengan kesedihan yang terpancar jelas di matanya. Setelah 1 menit menunggu, ia akhirnya membuka mulut, dan berujar pelan, “Aku memiliki seorang kekasih yang sibuk,” Gadis itu menghela nafas. “Dan sekarang, ia pergi.”
“Dia meninggal?” Tanyaku.
Gadis itu menggeleng. “Ia pergi dinas ke Belanda.”
“Lantas apa masalahnya?”
“Ibuku. Dia sedang sakit, dan dia sangat ingin aku cepat menikah. Kabarnya malah, ibuku berniat menjodohkanku dalam waktu dekat. Aku sangat ingin menolaknya. Tapi—yah, kau tahu pacarku sedang dinas di Belanda, dan ibuku sedang sakit. Aku takut kesehatan ibuku makin jatuh”
“Apa tidak bisa kembali sebentar ke Indonesia?”
“Sudah kubilang, dia sangat sibuk. Mungkin ia akan pulang 2 bulan lagi.”
Aku berfikir sebentar, lalu tersenyum. “Berbicaralah pada ibumu bahwa kau memiliki kekasih. Jika ibumu menyayangimu, ia akan membatalkan perjodohan itu.” Aku berjeda, menatap lekat-lekat gadis di sebelahku yang sudah menunduk. “Dan bicaralah pada kekasihmu tentang keadaanmu. Jika ia mementingkanmu lebih dari apa pun, ia akan rela meninggalkan tugasnya sebentar untuk menemui ibumu dan berbicara dengannya.”
Gadis itu terdiam sebentar. Dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum. Sudah kubilang, ia akan lebih cantik jika tersenyum.
“Terima kasih. Mungkin itu sangat sulit dilakukan. Tapi, aku menjadi lebih percaya diri mendengar saranmu. Jadi, aku akan mencobanya. Sekali lagi, terima kasih atas sarannya.” Ujarnya. Tanpa menghilangkan senyum manisnya. Gadis itu lalu berdiri, dan beranjak keluar dari café.
Meninggalkanku sendirian, dengan hati yang hangat sekaligus sakit.
…
Satu bulan berlalu. Sejak hari itu, gadis itu tidak pernah datang lagi. Seperti hari ini. Jam sudah menunjukan pukul satu siang. Padahal, biasanya gadis itu datang sekitar jam sepuluh pagi.
Karena tak tahan, aku pergi keluar café. Berniat mencari gadis itu. Siapa tahu ia sedang berjalan-jalan di sekitar sini. Tapi, aku harus bertanya apa pada orang sekitar? Tidak mungkin seperti, “Hai, kau tahu seorang gadis yang berpenampilan buruk dan berantakan, tapi wajahnya cantik?”
Setelah dua jam berkeliling, hasilnya tetap nihil. Aku tidak menemukan gadis itu. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Sepertinya, aku harus menyerah.
…
Sudah dua bulan berlalu. Selama dua bulan itu juga gadis itu tidak pernah datang lagi ke Café Alcea. Selama satu bulan aku menunggunya dan mencarinya, dan sebulan lagi kugunakan untuk berusaha melupakannya.
Kling!
“Selamat datang di Café Alcea!” Teriakku.
“Hai,”
Aku menoleh. Gadis itu. Gadis yang yang memenuhi pikiranku selama dua bulan terakhir. Gadis yang dua bulan lalu bercerita kepadaku tentang masalahnya. Gadis yang dulu datang ke café hanya untuk merenung. Gadis yang dulu berpenampilan acak-acakan.
Yah, itu dulu. Sekarang, gadis dihadapanku ini sangatlah cantik, dengan senyuman di bibirnya. Pakaiannya kini pun terlihat rapi dan bagus. Rambutnya kini juga tertata rapi. Sangat berbeda jika dibandingkan penampilannya dua bulan lalu.
“Hai?” Ujar gadis itu lagi.
Aku mengerjapkan mata. Membuyarkan lamunanku tadi. “Hai.” Ujarku.
“Kau masih ingat aku? Aku gadis yang dua bulan lalu sering datang kesini hanya memesan kue cokelat dan kopi, dan selalu duduk di ujung sana.” Gadis itu menunjuk salah satu meja di ujung café.
Aku mengangguk. “Tentu saja aku masih ingat. Kau adalah gadis yang dua bulan lalu bercerita kepadaku tentang pacarmu yang berada di Belanda.”
Gadisitu tersenyum kikuk. “Lupakan hal itu. Sekarang, aku datang untuk memberi kabar baik.”
“Kabar baik apa?” Tanyaku.
“Masalahku sekarang sudah selesai! Terima kasih banyak untukmu!” Ujarnya riang.
“Benarkah?”
“Iya! Oh ya, aku ingin memberimu sesuatu. Sebuah kabar baik untukku, dan aku ingin kau melihatnya.” Gadis itu merogoh tasnya, mengeluarkan sesuatu, dan meletakannya di hadapanku.
Undangan pernikahan.
…
-Nilda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar