Hujan
turun dengan deras sore ini. Suara gemericik hujan terdengar, bersahutan dengan
nyanyian katak yang senang akan datangnya hujan. Hawa dingin mulai terasa di
kulit Cakra. Ia termenung menatap tugas sekolahnya yang tak kunjung selesai. Hidungnya
mencium aroma rujak yang baru saja dihidangkan. Matanya beralih menatap gitar
kesayangannya di pojok ruangan. Setelah berdiam beberapa saat, tangannya meraih
gitar berwarna cokelat muda itu.
Cakra
perlahan memainkan sebuah lagu kesukaannya. Matanya melirik ke arah jendela,
dimana terlihat sebuah pohon mangga yang cukup besar. Pikirannya
melayang, mengingat suatu kejadian saat ia masih menduduki bangku kelas lima sekolah dasar.
Saat
itu, teman-teman Cakra mengajaknya mencuri buah mangga dari pohon Pak RT. Perut
Cakra memang sudah kelaparan, namun ia menolaknya dengan alasan ingin melatih
kemampuannya bermain gitar. Teman-temannya tertawa, mengejek Cakra culun, lalu
berlari menuju rumah Pak RT, meninggalkannya sendirian di padang rumput yang
cukup luas.
Tak
lama setelah kepergian teman-temannya, Ibu RT datang dan menawarkannya rujak
dari berbagai buah-buahan dengan porsi yang cukup banyak. Aroma rujak tercium
jelas di indra penciuman Cakra, membuat perutnya kembali berbunyi. Tentu saja ia menerimanya
dengan hati senang, mengingat keadaan perutnya yang melolong minta diisi.
Setelah
Ibu RT pergi meninggalkan rujaknya bersama Cakra, terdengar suara yang cukup
berisik. Ternyata, itu adalah suara teman-temannya yang ketakutan. Setelah
melihat Cakra yang sedang memakan rujak dengan nikmat, mereka langsung duduk
berhadapan dengannya dan menceritakan apa yang terjadi.
Cakra
tertawa mendengar cerita teman-temannya yang akhirnya gagal mencuri mangga, dan berakhir dengan kemarahan Pak RT. Ia mempersilahkan
teman-temannya memakan rujak bersama, lalu mulai memetik senar gitar, memainkan
sebuah lagu. Mendengar alunan lagu yang indah dari gitar Cakra, teman-temannya terpaku.
Mereka yang semula mengejek Cakra, kini bangga akan kemampuannya bermain gitar.
Tok!
Tok!
Mendengar ketukan pintu,
Cakra tersadar dari lamunannya. Hidungnya mencium bau khas hujan atau petrichor, bercampur dengan aroma rujak
yang tak kunjung ia makan. Hari sudah malam, hujan sudah reda, dan tugasnya
sama sekali belum terselesaikan. Benar kata orang, hujan bisa membuat kenangan
lama kembali teringat.
-Nilda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar