Selasa, 16 Februari 2016

Kenangan Lalu

Hujan turun dengan deras sore ini. Suara gemericik hujan terdengar, bersahutan dengan nyanyian katak yang senang akan datangnya hujan. Hawa dingin mulai terasa di kulit Cakra. Ia termenung menatap tugas sekolahnya yang tak kunjung selesai. Hidungnya mencium aroma rujak yang baru saja dihidangkan. Matanya beralih menatap gitar kesayangannya di pojok ruangan. Setelah berdiam beberapa saat, tangannya meraih gitar berwarna cokelat muda itu.
            Cakra perlahan memainkan sebuah lagu kesukaannya. Matanya melirik ke arah jendela, dimana terlihat sebuah pohon mangga yang cukup besar. Pikirannya melayang, mengingat suatu kejadian saat ia masih menduduki bangku  kelas lima sekolah dasar.
            Saat itu, teman-teman Cakra mengajaknya mencuri buah mangga dari pohon Pak RT. Perut Cakra memang sudah kelaparan, namun ia menolaknya dengan alasan ingin melatih kemampuannya bermain gitar. Teman-temannya tertawa, mengejek Cakra culun, lalu berlari menuju rumah Pak RT, meninggalkannya sendirian di padang rumput yang cukup luas.
            Tak lama setelah kepergian teman-temannya, Ibu RT datang dan menawarkannya rujak dari berbagai buah-buahan dengan porsi yang cukup banyak. Aroma rujak tercium jelas di indra penciuman Cakra, membuat perutnya  kembali berbunyi. Tentu saja ia menerimanya dengan hati senang, mengingat keadaan perutnya yang melolong minta diisi.
           Setelah Ibu RT pergi meninggalkan rujaknya bersama Cakra, terdengar suara yang cukup berisik. Ternyata, itu adalah suara teman-temannya yang ketakutan. Setelah melihat Cakra yang sedang memakan rujak dengan nikmat, mereka langsung duduk berhadapan dengannya dan menceritakan apa yang terjadi.
            Cakra tertawa mendengar cerita teman-temannya yang akhirnya gagal mencuri mangga, dan berakhir dengan kemarahan Pak RT. Ia mempersilahkan teman-temannya memakan rujak bersama, lalu mulai memetik senar gitar, memainkan sebuah lagu. Mendengar alunan lagu yang indah dari gitar Cakra, teman-temannya terpaku. Mereka yang semula mengejek Cakra, kini bangga akan kemampuannya bermain gitar.
            Tok! Tok!

Mendengar ketukan pintu, Cakra tersadar dari lamunannya. Hidungnya mencium bau khas hujan atau petrichor, bercampur dengan aroma rujak yang tak kunjung ia makan. Hari sudah malam, hujan sudah reda, dan tugasnya sama sekali belum terselesaikan. Benar kata orang, hujan bisa membuat kenangan lama kembali teringat.




-Nilda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar