Seorang gadis kecil berlari riang menuju pekarangan rumah. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ketujuh. Ia tak sabar melihat hadiahnya. Kemarin ibunya berkata bahwa telah membelikan hadiah yang sangat indah untuk gadis kecil itu.
Betapa kagetnya ia melihat sesuatu di tengah pekarangan rumah. Sebuah bibit bunga anggrek beserta pot kecil bertuliskan namanya, Lasianthera. Seketika gadis kecil bernama Lasianthera atau Anthera ini langsung melompat kegirangan. Sudah lama ia ingin menanam dan merawat suatu bunga, khususnya bunga anggrek.
Orang tua Anthera yang melihat kejadian itu hanya bisa tertawa geli. Mereka berharap Anthera menyukai hadiahnya, karena itu adalah bunga anggrek pot, bukan anggrek stuberi seperti yang ia inginkan.
…
Dengan susah payah, Anthera mengangkat karung pupuk dan gembor. Tak jarang juga ia menurunkan barang-barang itu dan beristirahat. Walau baru berjalan 3 meter, keringatnya sudah bercucuran. Tubuhnya yang kecil kesulitan membawa barang berat seperti itu. Namun, Anthera tidak ingin orang membantunya, karena ia ingin mencoba dan berusaha.
Barulah 5 menit kemudian, Anthera sampai di pekarangan. Tempat tanaman kecilnya berada. Tanpa banyak bicara, ia langsung menuruti kata Ayah, untuk mengambil pupuk dan tanah dengan sekop kecil, lalu memasukannya ke dalam pot kecil. Setelah potnya terisi penuh, ia mengambil bibit bunga dengan hati-hati, lalu menaburkannya di atas tanah. Dengan sigap, Ayah Anthera langsung menutup bibit itu dengan tanah.
Setelah selesai berurusan dengan pupuk dan pot, Anthera mengisi penuh gembor plastiknya. Setelah itu ia berjalan kembali dengan pelan, tidak membiarkan airnya tumpah satu tetes pun.
Ayah Anthera tersenyum melihat kerja keras anaknya. Ia lalu berseru, “Bagus sekali, Anthera! Kau melakukannya dengan sangat baik! Sekarang, siramlah perlahan tanamanmu! Jangan berhenti sebelum Ayah bilang berhenti.”
Anthera menurut. Ia memiringkan gembornya, menyiram perlahan tanamannya, dan tidak berhenti sebelum Ayahnya berkata ‘berhenti’.
“Berhenti!” Seru Ayah. Mendengar itu, Anthera langsung mengangkat gembornya. Berhenti menyiram. Ia lalu tersenyum. Bangga akan tanaman pertama yang ia tanam sendiri. Membuat ayahnya ikut tersenyum bangga dan mengelus puncak kepala putrinya itu.
…
“Ayah! Ibu!” Teriak Anthera. Ia tak sabar menunjukkan orang tuanya akan hal yang dia lihat sekarang.
Tak lama, Ayah dan Ibunya datang dengan wajah panik. “Ada apa?”
Anthera tersenyum. Bibirnya memang mengatup, tapi tangannya menunjuk tanaman anggreknya.
Tanamannya sudah berbunga. Bunga berwarna ungu terang, dengan warna putih di tengahnya. Sungguh cantik. Usaha Anthera sudah terbayar dengan mekarnya bunga ini.
Ibu Anthera tersenyum. “Cantik sekali bunganya.” Ia berjeda. “Tapi masih lebih cantik orang yang menanam dan merawat bunga ini.” Lanjutnya.
Anthera tersenyum. Pipinya merona. Ayahnya sendiri sudah mengelus puncak kepala Anthhera dan berkata, “Bagus sekali. Usahamu tidak sia-sia.”
…
Bulan Mei. Musim kemarau sudah tiba. Matahari bersinar terik. Udara lebih panas dari biasanya. Di cuaca seperti ini, air sulit ditemui.
Anthera menatap tanaman anggreknya dengan sedih. Tanamannya itu kini agak mengering. Beberapa daunnya berwarna cokelat, tangkai bunganya juga sedikit bengkok.
“Anggrek pot, kau pasti haus. Daunmu sampai berwarna cokelat begitu.” Ujar Anthera, seolah bisa berbicara dengan tumbuhan. “Tunggu sebentar, ya. Aku akan mengambilkan air untukmu.” Lanjutnya.
Bunga anggrek itu semakin menunduk, seolah menjawab iya.
Anthera berdiri. Ia mengambil gembor, lalu berlari menuju keran air, dan memutarnya sekuat tenaga. Namun, nihil. Keran itu tidak mengeluarkan apa-apa. Tidak menyerah, dia berlari masuk ke dalam rumah, memasuki dapur, dan memutar keran air di wastafel. Percuma. Hanya beberapa tetes yang keluar. Ia tak putus asa. Anthera berlari lagi ke kamar mandi dan memutar keran air. Nihil. Tak ada yang keluar. Buru-buru Anthera berlari ke kamar mandi orangtuanya dan memutar keran airnya. Kali ini, air keluar, meski hanya sedikit. Tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian air berhenti. Dengan cepat, dia membawa gembornya ke pekarangan, lalu menyiram tanaman anggrek pot.
“Maaf ya, air yang tersisa hanya segini. Besok kau akan kuberikan air lebih banyak lagi.” Ujar Anthera pelan. Ia mengelus kelopak bunga anggreknya dengan sayang.
Tapi percuma. Kejadian tersebut terus terulang. Besok, dan besoknya lagi, minggu depannya, dan minggu depannya lagi, hingga satu bulan.
…
Di pagi hari, Anthera berjalan menuju pekarangan. Ia ingin melihat keadaan tanamannya. Namun, yang ia temukan adalah Ayahnya yang memandangi anggrek pot Anthera.“Ayah… Ayah sedang apa? Ayah sedang merawat bunga aggrek pot Anthera, ya?” Tanyanya polos.
Ayahnya menoleh dengan tatapan kaget. “Anthera, kapan terakhir kali Anthera menyiram Anggrek pot?” Ayah Anthera balik bertanya.
Raut Anthera terlihat bingung. “Anthera siram anggrek pot setiap hari kok, Yah. Tapi hanya sedikit. Kan airnya lagi habis. Emang kenapa, Yah?”
Ayah Anthera tidak menjawab. Ia hanya mendesah pelan.
“Kenapa, Yah?” Tanya Anthera lagi.
“Maaf,” Ujar Ayah lirih. Ia lalu menunjukkan tanaman anggrek pot milik Anthera yang sedari tadi ia sembunyikan di balik punggungnya. “Anggrek pot Anthera… Mati.”
Raut wajah Anthera langgsung berubah. Ia menatap ayahnya tidak percaya, lalu melihat tanaman anggreknya. Tanaman itu kini sudah berwarna cokelat dan seluruhnya mongering. Tangkainya bengkok dan daunnya merunduk semua.
“Ayah… Ini salah Anthera, ya?” Tanya Anthera.
“Bukan, ini bukan salahmu. Salah keadaan sehingga kita kehabisan air.” Jawab ayahnya.
Anthera menggelenng. “Harusnya Anthera mencari air lebih banyak lagi, ya? Kalau Anthera berusaha lagi, anggrek pot tidak akan mati, kan?” Air matanya mulai menggenang. Ia lalu berlari ke kamar, dan mengunci dirinya.
…
“Anthera, ayo keluar.” Ajak Ibu Anthera.
Anthera menggeleng. Ia tidak mau keluar dari kamarnya. “Tidak.”
Ibunya mendesah. “Ayolah, anggrek pot itu sudah mati.”
“Tidak!”
“Ibu akan membelikan anggrek yang lebih bagus dari itu.”
“Anthera tidak mau anggrek lain! Anthera ingin anggrek pot!”
Ibu Anthera menggaruk kepalanya. Ia bingung terhadap putrinya ini.
…
“Anthera?”
“Ada apa?”
“Keluarlah, ibu membawakan sesuatu. Kamu pasti menyukainya.” Bujuk Ibu Anthera.
“Iya. Ayo, keluarlah.” Kali ini ayahnya yang membujuknya.
Anthera menyerah. Ia membuka pintu, dan melihat keluar. Betapa kagetnya, ia menemukan ayah dan ibunya, membawa sebuah pot kecil bertuliskan Lasianthera dan sebungkus bibit bunga anggrek pot.
“Ayah lihat kau sudah sangat berusaha menanam bunga itu. Tak ada salahya mencoba sekali lagi, bukan?” Ujar Ayah.
Anthera tersenyum. Ia mengambil pot dan bibit itu dari tangan orang tuanya, lalu berlari menuju pekarangan.
…
-Nilda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar