Gadis itu berjalan pelan menyusuri danau.
Hatinya gundah. Matanya kosong, seolah sedang memikirkan sesuatu hal yang
sangat penting di hidupnya. Menurutnya, sudah terlalu banyak beban yang ia
pikul. Terlalu banyak masalah yang ia tanggung. Terlalu banyak ujian yang tuhan
berikan padanya.
Gadis
itu melihat ke arah danau. Air yang begitu tenang, seolah tak ada beban di
hidupya. Air selalu mengalir, tanpa ada hambatan apapun.
Tanpa
sadar, gadis itu sudah memasukkan kedua kakinya ke dalam air, di tepian danau. Suhu
dingin air dingin terasa di kulitnya. Umur empat belas tahun termasuk hidup
yang sangat singkat. Tapi apa daya, ia hanya ingin melepas semua bebannya,
melepaskan beban pikirannya. Lari dari masalahnya.
Air
sudah mencapai lutut gadis itu. Ia sama sekali tidak berniat kembali ke
daratan. Keputusannya sudah bulat, meski sejuta ketakutan masih ada di dalam
hatinya. Ia ingin mati. Ia ingin mengakhiri hidupnya di danau ini.
Tiba-tiba, terdengar cipratan
air dari seberang danau. Gadis itu menoleh, melihat seorang anak perempuan yang
terlihat lebih muda darinya, sedang mencuci baju. Tubuhnya terllihat penuh
dengan luka. Beberapa sayatan di pergelangan tangan, lebam di mata, hingga luka
di dahinya terlihat dengan jelas. Jelas sekali anak perempuan itu sudah
beberapa kali mencoba bunuh diri.
Di belakang anak
perempuan itu, terlihat tiga—bahkan empat anak kecil yang sangat manis, namun
masih terlihat beberapa bekas luka. Sepertinya itu adalah adik dari anak perempuan itu. Mereka terlihat ceria,
bermain dengan satu sama lain. Ekspresi itu berbeda sekali dangan kakaknya,
yang berekspresi sangat serius—seolah sangat menghayati pekerjaannya saat ini,
mecuci baju.
Gadis itu melangkah
sekali lagi. Kini, air danau sudah mencapai pinggulnya. Pandangan gadis itu masih
menetapkan pandangannya pada anak perempuan di tepi danau. Air dingin semakin
menyengat kulitnya.
-Nilda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar