Selasa, 16 Februari 2016

Danau Kehidupan

Gadis itu berjalan pelan menyusuri danau. Hatinya gundah. Matanya kosong, seolah sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat penting di hidupnya. Menurutnya, sudah terlalu banyak beban yang ia pikul. Terlalu banyak masalah yang ia tanggung. Terlalu banyak ujian yang tuhan berikan padanya.
            Gadis itu melihat ke arah danau. Air yang begitu tenang, seolah tak ada beban di hidupya. Air selalu mengalir, tanpa ada hambatan apapun.
            Tanpa sadar, gadis itu sudah memasukkan kedua kakinya ke dalam air, di tepian danau. Suhu dingin air dingin terasa di kulitnya. Umur empat belas tahun termasuk hidup yang sangat singkat. Tapi apa daya, ia hanya ingin melepas semua bebannya, melepaskan beban pikirannya. Lari dari masalahnya.
            Air sudah mencapai lutut gadis itu. Ia sama sekali tidak berniat kembali ke daratan. Keputusannya sudah bulat, meski sejuta ketakutan masih ada di dalam hatinya. Ia ingin mati. Ia ingin mengakhiri hidupnya di danau ini.
Tiba-tiba, terdengar cipratan air dari seberang danau. Gadis itu menoleh, melihat seorang anak perempuan yang terlihat lebih muda darinya, sedang mencuci baju. Tubuhnya terllihat penuh dengan luka. Beberapa sayatan di pergelangan tangan, lebam di mata, hingga luka di dahinya terlihat dengan jelas. Jelas sekali anak perempuan itu sudah beberapa kali mencoba bunuh diri.
Di belakang anak perempuan itu, terlihat tiga—bahkan empat anak kecil yang sangat manis, namun masih terlihat beberapa bekas luka. Sepertinya itu adalah adik dari  anak perempuan itu. Mereka terlihat ceria, bermain dengan satu sama lain. Ekspresi itu berbeda sekali dangan kakaknya, yang berekspresi sangat serius—seolah sangat menghayati pekerjaannya saat ini, mecuci baju.

Gadis itu melangkah sekali lagi. Kini, air danau sudah mencapai pinggulnya. Pandangan gadis itu masih menetapkan pandangannya pada anak perempuan di tepi danau. Air dingin semakin menyengat kulitnya.



-Nilda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar