Namaku Thea dan aku
mempunyai seorang penjaga saat aku kecil. Saat pertama kali melihatnya aku
berpikir dia adalah orang suruhan ayah untuk menjagaku. Aku selalu bertanya
namanya tetapi dia selalu saja diam seperti patung dan hanya bergerak jika aku
bergerak. Saat ayah pulang, aku langsung bertanya padanya tentang penjaga itu
tetapi ayah selalu mengatakan bahwa dia tidak menyuruh siapapun untuk
menjagaku. Aku terus bertanya dan ayah selalu memberikanku jawaban yang sama.
Pada akhirnya aku menyerah untuk bertanya karena selalu mendapat jawaban yang
sama dan tetap membiarkan penjaga itu menjagaku.
Pada suatu hari dia berbicara padaku dan dia mengatakan
bahwa dia menjagaku agar aku tidak merasa ketakutan. Dia juga mengatakan untuk
tidak bertanya lagi pada siapapun tentangnya karena hanya aku yag dapat
melihatnya. Aku langsung menyetujui perkataannya untuk tidak bertanya pada siapapun
dan sejak saat itu dia selalu berbicara padaku. Seperti menanyakan kabarku atau
bercerita pada saat aku mau tidur.
Saat umurku 10 tahun aku mulai jarang melihatnya karena dia
hanya datang sesekali. Aku sering mempertanyakan keberadaannya saat dia tidak
ada di sisiku karena sebelum umurku 10 tahun dia selalu bersamaku dan tidak
pernah meninggalkanku. Pada suatu malam dia mengatakan bahwa dia sudah tidak
bisa menjagaku lagi dan dia juga mengatakan bahwa malam itu adalah malam
terakhir kali aku bisa melihatnya. Setelah dia mengatakan kedua hal itu, dia
langsung menghilang dan aku tidak dapat melihatnya lagi. Aku pun langsung
berpikir bahwa dia hanya meninggalkanku sebentar saja tetapi dia tetap tidak
kembali hingga umurku 18 tahun.
*********
Aku langsung tersadar dari lamunanku karena ada yang menepuk
pundakku. Aku menoleh dan mendapati Laura sedang berdiri dibelakangku.
“Apa kau tidak mempunyai
jadwal setelah ini?” Tanya Laura Padaku.
“Aku mempunyai kelas seni
setelah ini. Memangnya ada apa?” Jawabku.
“Apakah tidak sebaiknya
kau pergi sekarang? Kelas seni akan dimulai sebentar lagi.” Ucapnya.
“Bukankah bel pergantian
jam masih belum berbunyi?” Tanyaku.
“Kelas ini sudah berbunyi
10 menit yang lalu.” Jawabnya.
“Terima kasih sudah
memberitahuku, aku akan pergi sekarang.” Ucapku sambil mengambil peralatanku
dan berjalan ke arah pintu.
Sesampainya aku di depan pintu, aku melihat ada seorang
gadis yang memakai baju yang sangat ketinggalan zaman. Aku tidak terlalu
menghiraukannya dan berjalan pergi. Saat aku mencapai lorong sekolah, aku
bertemu dengan petugas kebersihan sekolah dan aku langsung mengucapkan salam.
Aku sudah terbiasa untuk menyapa setiap petugas kebersihan dan biasanya saat
aku mengucapkan salam, orang itu akan balas menyapaku. Ada yang aneh dengannya,
mukanya sangat datar dan berekspresi. Aku tidak terlalu memikirkannya dan
melanjutkan jalanku ke ruang seni.
Setelah 2 menit
berjalan, aku sampai di ruang seni dan aku langsung merasakan kejanggalan
dengan lorong yang kulewati tadi. Tidak seharusnya lorong itu ramai karena bel
pergantian kelas sudah berbunyi. Setelah kuingat-ingat, semua orang yang ada di
lorang itu memakai baju yang sangat ketinggalan zaman seperti yang digunakan
oleh gadis yang kutemui di depan pintu ruang sastra. Saat aku sedang sibuk
memikirkan hal itu, tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku.
“Thea, apa kau memperhatikan?” Tanya guru seniku.
“Ya, saya akan memperhatikan.” Ucapku sambil memperhatikan ke
arah papan tulis.
Kurasa aku
terlalu serius memikirkan kejadian di lorong sekolah hingga tidak menyadari bahwa
guru seniku sudah berada di ruang seni. Aku tetap memperhatikan penjelasan guru
musikku hingga terdengar suara yang sangat berisik. Kupikir itu dari kelas
disebelahku tetapi setelah aku pikir-pikir di ujung barat universitasku hanya
ada tiga kelas dan yang sedang ada jadwal hanya kelas seni. Aku pun langsung
melihat ke sekeliling ruang kelasku dan mendapati banyak orang yang sedang
berbicara satu sama lain. Aku teringat dengan peraturan kelas ini, jika guru
sedang menjelaskan tidak ada yang boleh berbicara.
Aku kembali
melihat ke papan tulis dan mendapati orang lain selain guru seniku berdiri. Aku
mempertanyakan pada teman sebelahku dan kulihat dia hanya diam sambil memandang
papan tulis. Tiba-tiba saat aku melihat kembali ke arah papan tulis orang yang
berdiri disana sudah tiada dan guruku kembali disana. Keadaan kelas ini sudah
sunyi kembali. Terdengar suara bel pulang berbunyi, aku pun langsung merapihkan
barang-barangku dan keluar dari ruang seni.
Aku berjalan ke
parkiran sekolahku dan mencari keberadaan mobil yang menjemputku. Setelah
menunggu 20 menit, akhirnya mobil yang biasa menjemputku datang. Butuh waktu 30
menit untuk sampai rumahku tanpa ada kemacetan. Ditengah-tengah perjalanan,
tiba-tiba aku mendengar suara klakson mobil dan tiba-tiba semuanya menjadi
gelap lalu aku tidak sadarkan diri.
Aku terbangun
di sebuah tempat tetapi aku tidak dapat mengenali tempat itu karena semuanya
gelap. Aku pun menyerukan nama ibu dan ayahku dan tiba-tiba ada yang memegang
tanganku. Aku langsung bertanya dimana aku sekarang dan orang itu menjawab
bahwa aku ada di rumah sakit. Aku mengenali suara yang disebelahku dan aku
langsung bertanya mengapa semuanya menjadi gelap. Langsung terdengar isak
tangis dari ibuku.
“Apakah ibu baik-baik saja?” Tanyaku.
“Ibu baik-baik saja tetapi kau tidak.” Jawabnya.
“Memangnya apa yang terjadi padaku?” Tanyaku kembali.
“Kau mengalami kecelakaan dan sekarang…..” Jawab ibuku
kembali.
“Sekarang kenapa bu?” Tanyaku penasaran.
“Kau mengalami kebutaan. Itulah yang membuatmu melihat
segalanya menjadi gelap” Jawabnya.
Aku langsung
bersedih karena tidak dapat melihat lagi. Aku langsung mempertanyakan
kemungkinan aku bisa sembuh lagi dan ibuku memberitahu jika aku ingin bisa
melihat kembali aku harus mendapatkan donor untuk mataku. Aku langsung merasa
baikan setelah ibuku mengatakan hal itu. Aku meminta ibuku untuk mencarikan
pendonor itu secepat mungkin karena tidak mungkin aku bisa belajar atau
melakukan kegiatanku jika yang kulihat hanyalah kegelapan.
Setelah
menginap beberapa hari di rumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan untuk kembali
ke rumah. Dokter memintaku untuk belajar mengenali keadaan sekelilingku selama
aku masih belum mendapatkan donor untuk mataku. Aku pun menyetujui
permintaannya karena menurutku itu bisa membantuku untuk berjalan atau
mengambil sesuatu di sekitarku tanpa bantuan orang lain.
Sesampainya aku
di rumah, aku langsung meminta bantuan pembantuku untuk membantuku ke kamar. Di
dalam kamar aku langsung merebahkan badanku dia atas tempat tidur. Terdengar
ada ketukan pintu aku pun langsung meneriakkan kata masuk untuk memberikan
tanda pada orang itu untuk masuk ke dalam kamarku. Saat itu aku mendengar ada
suara pintu terbuka dan anehnya aku bisa melihat ada orang yang masuk. Aku
langsung bingung dengan keadaanku, seharusnya aku tidak dapat melihat apapun.
Orang itu semakin mendekat dan memperlihatkan mukanya. Ingin rasanya aku
berteriak karena muka orang itu sangatlah menyeramkan.
Biasanya jika
aku ketakutan aku akan menutup mataku atau berlari tetapi kedua hal itu sangatlah
tidak mungkin untuk dilakukan sekarang. Jika aku menutup mataku itu sama saja
dengen melihat kegelapan juga. Kalau aku berlari aku bisa menabrak apapun yang
ada di kamarku. Lalu aku hanya berteriak sekeras yang aku bisa dan tiba-tiba
ada yang mengenggam tanganku erat. Teriakanku semakin kencang karena genggaman
itu, tetapi ada suara yang bisa membuatku tenang. Itu adalah suara ibuku.
Aku tidak dapat
melihat ibuku seperti aku melihat orang bermuka menyeramkan tadi. Ini sangat
aneh. Aku langsung bertanya pada ibuku apakah dia melihat ada orang lain yang
bersamaku sebelum dia masuk ke dalam kamar ini. Ibuku menjawab bahwa saat dia
masuk dia haya melihatku sendirian sedang berteriak. Setelah mendengar
jawabannya, aku langsung menceritakan apa yang kulihat tetapi ibuku mengatakan
mungkin itu hanyalah mimpi. Aku mempunyai pendapat yang berbeda dengan ibuku
karena tidak mungkin kalau itu hanya mimpi. Aku bahkan tidak tertidur tadi.
Aku kembali
merebahkan badanku di atas kasur ditemani oleh ibuku disamping kananku sambil
menggenggam erat tanganku. Aku kembali memikirkan kejadian yang tadi kualami.
Aku tidak mungkin bisa merasakan semuanya sangat nyata jika itu semua hanya
mimpi. Aku tidak terlalu lama memikirkannya karena aku tertidur.
Keesokan
harinya aku terbangun dengan suasana yang sama yaitu gelap. Aku kembali melihat
ada orang di kamarku tetapi kali ini ada 2 orang. Dengan keras aku berteriak
dan kurasa ada yang masuk ke kamar tapi aku tidak dapat melihat orang itu. Aku
kembali merasakan ada yang menggenggam tanganku. Aku kembali merasakan
ketenangan karena ada orang disebelahku.
Sejak saat itu
aku selalu bisa melihat sesuatu yang seharusnya tidak bisa kulihat saat aku
mengalami kebutaan. Aku menginginkan semua ini berakhir karena aku merasa
mereka selalu ada dimanapun aku pergi. Aku mulai menyadari aku mempunyai sebuah
keistimewaan dan aku langsung teringat tujuan penjagaku untuk menjagaku pada
saat aku kecil. Dia mengatakan bahwa dia
menjagaku agar aku tidak merasa ketakutan dan benar saat ini aku sering merasa
ketakutan karena yang bisa kulihat hanya ‘mereka’.
Aku selalu
mempertanyakan ibuku tentang perkembangan donor mataku. Ibuku selalu mengatakan
bahwa pihak rumah sakit masih belum menemukan donor mata yang cocok untukku.
Aku selalu berdoa agar aku bisa melihat lagi. Hingga suatu saat ibuku
memberikan kabar bahwa pihak rumah sakit mendapatkan donor yang cocok. Aku
langsung mengajak ibuku untuk ke rumah sakit dan melakukan operasi tanpa
memikirkan yang lain.
Keesokan
harinya, aku berangkat ke rumah sakit pada pagi hari dan disana dokter
mengatakan bahwa aku bisa melakukan operasiku di sore hari. Di perselingan jam
itu aku hanya berdiam diri di kamar rumah sakit. Aku sering melihat mereka di
sekitarku tetapi kali ini aku tidak berteriak karena aku sudah terbiasa
melihatnya.
Setelah
matahari mulai tenggelam, kudengar ada langkah kaki yang mendekatiku dan kurasa
itu adalah dokter dan para suster. Aku langsung dibawa ke ruang operasi dan
sesampainya aku di ruang operasi, dokter langsung membiusku dan aku jatuh
pingsan.
Aku terbangun
dengan sebuah perban yang menutupi mataku. Dokter mengatakan bahwa aku bisa
membuka perbanku. Dengan perlahan, dokter membuka perbanku dan setelah semuanya
sudah terbuka dokter menyuruhku untuk membuka mataku dengan perlahan.
Selanjutnya, aku bisa melihat cahaya yang sudah agak lama tidak kulihat. Aku
bisa melihat orang yang ada di sekitarku. Ada seorang perempuan di belakang
ibuku yang tidak pernah kukenal. Mungkin dia adalah salah seorang keluarga dari
orang yang mendonorkan mata ini untukku.
Perempuan itu
keluar dari ruang rawatku dan berjalan ke arah kiri. Aku merasa sangat senang
karena yang aku lihat tidak hanya kegelapan dan mereka tetapi aku bisa melihat
semuanya. Sebenarnya, aku masih penasaran dengan perempuan tadi kalau memang
dia adalah keluarga dari orang yang mendonorkan matanya untukku mengapa dia pergi
secepat itu dan tidak menungguku untuk berterima kasih padanya.
Aku tidak
terlalu memikirkannya dan melanjutkan kegiatanku. Aku diperbolehkan pulang
setelah 2 hari berada di rumah sakit. Sesampainya aku dirumah, aku langsung
diambut oleh pembantuku. Kulihat ada pembantu baru di rumah ini. Aku langsung
berjalan ke kamarku dan merebahkan badanku di kasur. Aku memainkan telefon
selulerku hingga aku tertidur.
Aku terbangun
karena alarm yang kunyalakan kemarin malam sudah berbunyi. Aku langsung
menyambar handukku dan berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, aku langsung
memakai baju untuk ke sekolah karena hari ini adalah hari kerja. Aku melihat
pembantu baru itu lagi dan aku menyapanya tetapi dia tidak menjawabku melainkan
berjalan pergi menjauhiku.
Aku langsung
meminta sopirku untuk mengantarku ke universitasku. Untuk sampai kesana memakan
waktu hingga 20 menit. Aku pun turun dari mobil dan berjalan menuju kelas
pertamaku. Aku melihat seorang gadis yang mukanya mirip dengan pembantu yang
bekerja di rumahku. Kupikir itu hanya kebetulan dan aku melanjutkan langkahku.
Sesampainya aku di kelas, aku melihat gadis yang sama di kelasku. Aku
memikirkan bahwa ini hanya kebetulan juga maka aku tidak menghiraukannya. Aku
melewati 1 jam pelajaran di kelas sastra tanpa ada masalah.
Saat pergantian
kelas, aku selalu melihat gadis itu. Dia seperti mengikutiku kemanapun aku
pergi. Aku merasa tidak pernah melihatnya di kelas ataupun di kampus
sebelumnya. Aku bahkan bertanya pada temanku tetapi temanku selalu bertanya
siapa gadis yang kumaksud. Aku menyerah untuk bertanya karena kuyakin gadis itu
hanya bisa dilihat olehku karena bakat yang kudapatkan. Aku juga tidak merasa
terganggu dengan kehadirannya, oleh karena itu aku membiarkannya tetap berada
di dekatku.
-Laika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar