Selasa, 16 Februari 2016

Penjagaku Ketenanganku

Namaku Thea dan aku mempunyai seorang penjaga saat aku kecil. Saat pertama kali melihatnya aku berpikir dia adalah orang suruhan ayah untuk menjagaku. Aku selalu bertanya namanya tetapi dia selalu saja diam seperti patung dan hanya bergerak jika aku bergerak. Saat ayah pulang, aku langsung bertanya padanya tentang penjaga itu tetapi ayah selalu mengatakan bahwa dia tidak menyuruh siapapun untuk menjagaku. Aku terus bertanya dan ayah selalu memberikanku jawaban yang sama. Pada akhirnya aku menyerah untuk bertanya karena selalu mendapat jawaban yang sama dan tetap membiarkan penjaga itu menjagaku.
          Pada suatu hari dia berbicara padaku dan dia mengatakan bahwa dia menjagaku agar aku tidak merasa ketakutan. Dia juga mengatakan untuk tidak bertanya lagi pada siapapun tentangnya karena hanya aku yag dapat melihatnya. Aku langsung menyetujui perkataannya untuk tidak bertanya pada siapapun dan sejak saat itu dia selalu berbicara padaku. Seperti menanyakan kabarku atau bercerita pada saat aku mau tidur.
          Saat umurku 10 tahun aku mulai jarang melihatnya karena dia hanya datang sesekali. Aku sering mempertanyakan keberadaannya saat dia tidak ada di sisiku karena sebelum umurku 10 tahun dia selalu bersamaku dan tidak pernah meninggalkanku. Pada suatu malam dia mengatakan bahwa dia sudah tidak bisa menjagaku lagi dan dia juga mengatakan bahwa malam itu adalah malam terakhir kali aku bisa melihatnya. Setelah dia mengatakan kedua hal itu, dia langsung menghilang dan aku tidak dapat melihatnya lagi. Aku pun langsung berpikir bahwa dia hanya meninggalkanku sebentar saja tetapi dia tetap tidak kembali hingga umurku 18 tahun.
*********

         
Aku langsung tersadar dari lamunanku karena ada yang menepuk pundakku. Aku menoleh dan mendapati Laura sedang berdiri dibelakangku.
“Apa kau tidak mempunyai jadwal setelah ini?” Tanya Laura Padaku.
“Aku mempunyai kelas seni setelah ini. Memangnya ada apa?” Jawabku.
“Apakah tidak sebaiknya kau pergi sekarang? Kelas seni akan dimulai sebentar lagi.” Ucapnya.
“Bukankah bel pergantian jam masih belum berbunyi?” Tanyaku.
“Kelas ini sudah berbunyi 10 menit yang  lalu.” Jawabnya.
“Terima kasih sudah memberitahuku, aku akan pergi sekarang.” Ucapku sambil mengambil peralatanku dan berjalan ke arah pintu.
          Sesampainya aku di depan pintu, aku melihat ada seorang gadis yang memakai baju yang sangat ketinggalan zaman. Aku tidak terlalu menghiraukannya dan berjalan pergi. Saat aku mencapai lorong sekolah, aku bertemu dengan petugas kebersihan sekolah dan aku langsung mengucapkan salam. Aku sudah terbiasa untuk menyapa setiap petugas kebersihan dan biasanya saat aku mengucapkan salam, orang itu akan balas menyapaku. Ada yang aneh dengannya, mukanya sangat datar dan berekspresi. Aku tidak terlalu memikirkannya dan melanjutkan jalanku ke ruang seni.
          Setelah 2 menit berjalan, aku sampai di ruang seni dan aku langsung merasakan kejanggalan dengan lorong yang kulewati tadi. Tidak seharusnya lorong itu ramai karena bel pergantian kelas sudah berbunyi. Setelah kuingat-ingat, semua orang yang ada di lorang itu memakai baju yang sangat ketinggalan zaman seperti yang digunakan oleh gadis yang kutemui di depan pintu ruang sastra. Saat aku sedang sibuk memikirkan hal itu, tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku.
“Thea, apa kau memperhatikan?” Tanya guru seniku.
“Ya, saya akan memperhatikan.” Ucapku sambil memperhatikan ke arah papan tulis.
         


          Kurasa aku terlalu serius memikirkan kejadian di lorong sekolah hingga tidak menyadari bahwa guru seniku sudah berada di ruang seni. Aku tetap memperhatikan penjelasan guru musikku hingga terdengar suara yang sangat berisik. Kupikir itu dari kelas disebelahku tetapi setelah aku pikir-pikir di ujung barat universitasku hanya ada tiga kelas dan yang sedang ada jadwal hanya kelas seni. Aku pun langsung melihat ke sekeliling ruang kelasku dan mendapati banyak orang yang sedang berbicara satu sama lain. Aku teringat dengan peraturan kelas ini, jika guru sedang menjelaskan tidak ada yang boleh berbicara.
          Aku kembali melihat ke papan tulis dan mendapati orang lain selain guru seniku berdiri. Aku mempertanyakan pada teman sebelahku dan kulihat dia hanya diam sambil memandang papan tulis. Tiba-tiba saat aku melihat kembali ke arah papan tulis orang yang berdiri disana sudah tiada dan guruku kembali disana. Keadaan kelas ini sudah sunyi kembali. Terdengar suara bel pulang berbunyi, aku pun langsung merapihkan barang-barangku dan keluar dari ruang seni.
          Aku berjalan ke parkiran sekolahku dan mencari keberadaan mobil yang menjemputku. Setelah menunggu 20 menit, akhirnya mobil yang biasa menjemputku datang. Butuh waktu 30 menit untuk sampai rumahku tanpa ada kemacetan. Ditengah-tengah perjalanan, tiba-tiba aku mendengar suara klakson mobil dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap lalu aku tidak sadarkan diri.
          Aku terbangun di sebuah tempat tetapi aku tidak dapat mengenali tempat itu karena semuanya gelap. Aku pun menyerukan nama ibu dan ayahku dan tiba-tiba ada yang memegang tanganku. Aku langsung bertanya dimana aku sekarang dan orang itu menjawab bahwa aku ada di rumah sakit. Aku mengenali suara yang disebelahku dan aku langsung bertanya mengapa semuanya menjadi gelap. Langsung terdengar isak tangis dari ibuku.
“Apakah ibu baik-baik saja?” Tanyaku.
“Ibu baik-baik saja tetapi kau tidak.” Jawabnya.
“Memangnya apa yang terjadi padaku?” Tanyaku kembali.
“Kau mengalami kecelakaan dan sekarang…..” Jawab ibuku kembali.
“Sekarang kenapa bu?” Tanyaku penasaran.
“Kau mengalami kebutaan. Itulah yang membuatmu melihat segalanya menjadi gelap” Jawabnya.
          Aku langsung bersedih karena tidak dapat melihat lagi. Aku langsung mempertanyakan kemungkinan aku bisa sembuh lagi dan ibuku memberitahu jika aku ingin bisa melihat kembali aku harus mendapatkan donor untuk mataku. Aku langsung merasa baikan setelah ibuku mengatakan hal itu. Aku meminta ibuku untuk mencarikan pendonor itu secepat mungkin karena tidak mungkin aku bisa belajar atau melakukan kegiatanku jika yang kulihat hanyalah kegelapan.
          Setelah menginap beberapa hari di rumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan untuk kembali ke rumah. Dokter memintaku untuk belajar mengenali keadaan sekelilingku selama aku masih belum mendapatkan donor untuk mataku. Aku pun menyetujui permintaannya karena menurutku itu bisa membantuku untuk berjalan atau mengambil sesuatu di sekitarku tanpa bantuan orang lain.
          Sesampainya aku di rumah, aku langsung meminta bantuan pembantuku untuk membantuku ke kamar. Di dalam kamar aku langsung merebahkan badanku dia atas tempat tidur. Terdengar ada ketukan pintu aku pun langsung meneriakkan kata masuk untuk memberikan tanda pada orang itu untuk masuk ke dalam kamarku. Saat itu aku mendengar ada suara pintu terbuka dan anehnya aku bisa melihat ada orang yang masuk. Aku langsung bingung dengan keadaanku, seharusnya aku tidak dapat melihat apapun. Orang itu semakin mendekat dan memperlihatkan mukanya. Ingin rasanya aku berteriak karena muka orang itu sangatlah menyeramkan.
          Biasanya jika aku ketakutan aku akan menutup mataku atau berlari tetapi kedua hal itu sangatlah tidak mungkin untuk dilakukan sekarang. Jika aku menutup mataku itu sama saja dengen melihat kegelapan juga. Kalau aku berlari aku bisa menabrak apapun yang ada di kamarku. Lalu aku hanya berteriak sekeras yang aku bisa dan tiba-tiba ada yang mengenggam tanganku erat. Teriakanku semakin kencang karena genggaman itu, tetapi ada suara yang bisa membuatku tenang. Itu adalah suara ibuku.
         


          Aku tidak dapat melihat ibuku seperti aku melihat orang bermuka menyeramkan tadi. Ini sangat aneh. Aku langsung bertanya pada ibuku apakah dia melihat ada orang lain yang bersamaku sebelum dia masuk ke dalam kamar ini. Ibuku menjawab bahwa saat dia masuk dia haya melihatku sendirian sedang berteriak. Setelah mendengar jawabannya, aku langsung menceritakan apa yang kulihat tetapi ibuku mengatakan mungkin itu hanyalah mimpi. Aku mempunyai pendapat yang berbeda dengan ibuku karena tidak mungkin kalau itu hanya mimpi. Aku bahkan tidak tertidur tadi.
          Aku kembali merebahkan badanku di atas kasur ditemani oleh ibuku disamping kananku sambil menggenggam erat tanganku. Aku kembali memikirkan kejadian yang tadi kualami. Aku tidak mungkin bisa merasakan semuanya sangat nyata jika itu semua hanya mimpi. Aku tidak terlalu lama memikirkannya karena aku tertidur.
          Keesokan harinya aku terbangun dengan suasana yang sama yaitu gelap. Aku kembali melihat ada orang di kamarku tetapi kali ini ada 2 orang. Dengan keras aku berteriak dan kurasa ada yang masuk ke kamar tapi aku tidak dapat melihat orang itu. Aku kembali merasakan ada yang menggenggam tanganku. Aku kembali merasakan ketenangan karena ada orang disebelahku.
          Sejak saat itu aku selalu bisa melihat sesuatu yang seharusnya tidak bisa kulihat saat aku mengalami kebutaan. Aku menginginkan semua ini berakhir karena aku merasa mereka selalu ada dimanapun aku pergi. Aku mulai menyadari aku mempunyai sebuah keistimewaan dan aku langsung teringat tujuan penjagaku untuk menjagaku pada saat aku kecil.  Dia mengatakan bahwa dia menjagaku agar aku tidak merasa ketakutan dan benar saat ini aku sering merasa ketakutan karena yang bisa kulihat hanya ‘mereka’.
          Aku selalu mempertanyakan ibuku tentang perkembangan donor mataku. Ibuku selalu mengatakan bahwa pihak rumah sakit masih belum menemukan donor mata yang cocok untukku. Aku selalu berdoa agar aku bisa melihat lagi. Hingga suatu saat ibuku memberikan kabar bahwa pihak rumah sakit mendapatkan donor yang cocok. Aku langsung mengajak ibuku untuk ke rumah sakit dan melakukan operasi tanpa memikirkan yang lain.
         
         

          Keesokan harinya, aku berangkat ke rumah sakit pada pagi hari dan disana dokter mengatakan bahwa aku bisa melakukan operasiku di sore hari. Di perselingan jam itu aku hanya berdiam diri di kamar rumah sakit. Aku sering melihat mereka di sekitarku tetapi kali ini aku tidak berteriak karena aku sudah terbiasa melihatnya.
          Setelah matahari mulai tenggelam, kudengar ada langkah kaki yang mendekatiku dan kurasa itu adalah dokter dan para suster. Aku langsung dibawa ke ruang operasi dan sesampainya aku di ruang operasi, dokter langsung membiusku dan aku jatuh pingsan.
          Aku terbangun dengan sebuah perban yang menutupi mataku. Dokter mengatakan bahwa aku bisa membuka perbanku. Dengan perlahan, dokter membuka perbanku dan setelah semuanya sudah terbuka dokter menyuruhku untuk membuka mataku dengan perlahan. Selanjutnya, aku bisa melihat cahaya yang sudah agak lama tidak kulihat. Aku bisa melihat orang yang ada di sekitarku. Ada seorang perempuan di belakang ibuku yang tidak pernah kukenal. Mungkin dia adalah salah seorang keluarga dari orang yang mendonorkan mata ini untukku.
          Perempuan itu keluar dari ruang rawatku dan berjalan ke arah kiri. Aku merasa sangat senang karena yang aku lihat tidak hanya kegelapan dan mereka tetapi aku bisa melihat semuanya. Sebenarnya, aku masih penasaran dengan perempuan tadi kalau memang dia adalah keluarga dari orang yang mendonorkan matanya untukku mengapa dia pergi secepat itu dan tidak menungguku untuk berterima kasih padanya.
          Aku tidak terlalu memikirkannya dan melanjutkan kegiatanku. Aku diperbolehkan pulang setelah 2 hari berada di rumah sakit. Sesampainya aku dirumah, aku langsung diambut oleh pembantuku. Kulihat ada pembantu baru di rumah ini. Aku langsung berjalan ke kamarku dan merebahkan badanku di kasur. Aku memainkan telefon selulerku hingga aku tertidur.
          Aku terbangun karena alarm yang kunyalakan kemarin malam sudah berbunyi. Aku langsung menyambar handukku dan berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, aku langsung memakai baju untuk ke sekolah karena hari ini adalah hari kerja. Aku melihat pembantu baru itu lagi dan aku menyapanya tetapi dia tidak menjawabku melainkan berjalan pergi menjauhiku.
          Aku langsung meminta sopirku untuk mengantarku ke universitasku. Untuk sampai kesana memakan waktu hingga 20 menit. Aku pun turun dari mobil dan berjalan menuju kelas pertamaku. Aku melihat seorang gadis yang mukanya mirip dengan pembantu yang bekerja di rumahku. Kupikir itu hanya kebetulan dan aku melanjutkan langkahku. Sesampainya aku di kelas, aku melihat gadis yang sama di kelasku. Aku memikirkan bahwa ini hanya kebetulan juga maka aku tidak menghiraukannya. Aku melewati 1 jam pelajaran di kelas sastra tanpa ada masalah.

          Saat pergantian kelas, aku selalu melihat gadis itu. Dia seperti mengikutiku kemanapun aku pergi. Aku merasa tidak pernah melihatnya di kelas ataupun di kampus sebelumnya. Aku bahkan bertanya pada temanku tetapi temanku selalu bertanya siapa gadis yang kumaksud. Aku menyerah untuk bertanya karena kuyakin gadis itu hanya bisa dilihat olehku karena bakat yang kudapatkan. Aku juga tidak merasa terganggu dengan kehadirannya, oleh karena itu aku membiarkannya tetap berada di dekatku.




-Laika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar