Di sebuah taman yang penuh dengan bunga, adalah tempatku tinggal. Tidak banyak orang yang sadar akan keberadaanku. Semua orang yang datang ke taman ini sibuk dengan urusannya masing-masing. Sibuk dengan kisahnya masing-masing. Bukan bermaksud menonton kisah seseorang tanpa izin, namun, kisah mereka yang datang ke taman ini setiap harinya sangat menarik. Untuk mendengar dan melihat kisah itu, aku selalu duduk di suatu sudut. Sudut yang hampir tidak disadari orang sekitar. Dari sini, aku bisa menonton semua kisah mereka.
Seperti kisah seorang gadis di kursi taman yang sedang memainkan gitarnya itu.
Kisah miliknya sangat menarik. Kisah itu merupakan salah satu kisah favoritku. Kisah tentang seorang gadis yang sangat menyukai gitar.
***
Gadis itu datang lagi. Gadis yang selalu membawa gitar ke taman ini setiap hari Sabtu pagi, lalu duduk dan memainkannya. Ia bukan pengamen, meski banyak orang yang mengira ia pengamen. Ia juga tidak tergabung dalam band manapun, meski permainannya cukup bagus. Dia hanyalah gadis biasa yang sangat menyukai gitar.
Veronica, nama gadis itu. Aku mengetahuinya dari orang-orang yang mengenalnya dan memanggilnya begitu. Ia menggerakkan tangannya, memetik senar gitar dan memulai sebuah lagu. Matanya terpejam, menghayati lagu dengan sepenuh hati. Bibirnya tersenyum, melukiskan betapa senangnnya ia memainkan gitar kesayangannya itu, sekaligus menggambarkan sifatnya yang ceria.
Waktu akan terasa berlalu dengan cepat jika kita dilewati dengan hal menyenangkan yang kita sukai, atau mendengarkan musik. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, tepat waktu makan siang. Matahari sudah terasa menyengat di atas kepala. Veronica menghentikan permainan gitarnya. Ia berdiri, lalu buru-buru berlari meninggalkan taman.
***
Sabtu pagi ini, Veronica datang lagi. Ia duduk, lalu memainkann gitarnya. Matanya terpejam lagi. Namun, saat ia sudah mulai mendalami lagu, seorang laki-laki duduk di sebelahnya.
Veronica berusaha tidak peduli, dan terus memainkan gitarnya. Gagal. Usahanya berujung sia-sia, karena lagunya menjadi berantakan. Menyerah, ia berhenti memainkan gitarnya.
“Ada apa?” ujar sang lelaki di sampingnya.
Verica menoleh, dan berujar pelan, “Hah?”
“Kenapa berhenti?” ujar laki-laki itu. “Padahal bagus.” lanjutnya.
Pipi Veronica terlihat sedikit memerah. Ia lalu tersenyum lebar. “Udah nggak konsen.”
Laki-laki itu tertawa kecil. Ia lalu mengulurkan tangannya. “Anton. Kamu Veronica kan?” Ujarnya.
Veronica tertawa ikut tertawa kecil. Ia menjabat tangan Anton dan berujar, “Iya. Kok tau? Aku terkenal banget ya, disini?”
“Tau aja.” Ujar laki laki yang bernama Anton itu, menyenderkan punggungnya di kursi. “Ajarin main gitar dong.” Lanjutnya.
Veronica mengerutkan dahinya. “Maksudnya?”
“Ya… Ajarin aku main gitar.” ucap Anton. Ia berdiri dari kursi taman. “Sabtu pagi minggu depan ya. Aku bawa gitarnya deh!” Lanjutnya, lalu berlari keluar dari taman penuh bunga itu. Meninggalkan Veronica yang masih berusaha mencerna perkataannya.
***
Sabtu pagi.
Veronica datang lagi, dengan sebuah gitar berwarna cokelat muda di tangannya. Ia duduk di salah satu kursi taman, dan memangku gitarnya.
“Hai.”
Seorang laki-laki duduk di sebelah Veronica, dengan gitar di tangannya. Ialah Anton, laki-laki yang kemarin meminta Veronica mengajarinya bermain gitar.
“Mulai sekarang ya?” Ujar Anton. Veronica mengangguk setuju, lalu mulai mengajari Anton bermain gitar.
***
-Nilda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar