Selasa, 16 Februari 2016

Saksi Bisu


          Kulihat sepatu lusuh yang sudah kusimpan di lemari selama bertahun-tahun ini. Sepatu yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku, dimulai dari hidupku yang sulit hingga bisa sesukses ini. Sepatu ini selalu mengingatkanku akan betapa sulitnya hidup ini.
          Semua perjuangan hidupku sudah dimulai dari umur 7 tahun, disaat orang tuaku bekerja keras untuk membiayaiku dan kedua adikku sekolah. Sejak saat itu aku sudah mulai berpikir untuk membantu mereka. Aku membantunya dengan berjualan koran, memang sulit berjualan seperti itu ketika aku masih berada di sekolah dasar. Aku mencoba untuk tidak terlalu banyak meminta dari orangtuaku, karena aku tahu betapa sulitnya untuk mendapatkan uang. Aku selalu menggunakan hasil uang jualanku untuk membeli keperluan sehari-hariku.
          Pada suatu hari, saat aku sedang berjualan koran, ada orang yang membuka kaca mobilnya dan membeli koranku sambil bertanya.”Mengapa kau berjualan koran,Nak? Mengapa kamu tidak fokus saja pada sekolahmu?” Tanya seorang pria di dalam mobil karena melihatku menggunakan baju seragam sambil berjualan koran. ”Aku hanya sedang meringankan beban orang tuaku.” Jawabku sambil memberikannya sebuah koran. “Terima kasih.” Ucapnya sambil berlalu pergi karena lampu hijau sudah menyala.
          Aku berniat untuk membantu lebih banyak, karena itu aku mencoba mempelajari cara mengesol sepatu. Secara cepat aku dapat menguasainya dan berkeliling daerah perkampunganku “SOL SEPATU!!” Teriakku. Tiba-tiba ada yang berkata “Sol sepatu dong!” Ucap seorang perempuan yang berada di dalam rumahnya. Aku hanya tersenyum dan melangkahkan kakiku ke arah rumahnya.
          Sesampaiku di rumahnya aku langsung berkata “Sepatu mana yang ingin kuperbaiki?” Tanyaku padanya. Dia langsung menunjukkan sepatu yang harus kuperbaiki. Aku pun langsung memperbaikinya dan saat aku selesai, aku langsung memberikan sepatu itu dan mengatakan padanya bahwa aku sudah selesai. “Terima kasih, berapa aku harus membayarmu?” Tanyanya padaku. “Aku akan menerima berapa pun.” Ucapku padanya. Akhirnya perempuan itu memberiku selembar uang dua puluh ribuan. Aku tersenyum padanya dan pergi dari rumah itu sambil meneruskan langkahku berkeliling perkampungan.
          Setelah aku lulus sekolah dasar, aku tidak melanjutkan studiku melainkan bekerja untuk membantu keuangan keluargaku. Aku menjadi pekerja kasar di tempat bangunan yang ada di dekat rumahku. Untungnya aku mendapatkan upah yang lumayan besar jia dipakai untuk keperluan sehari-hariku, tetapi tetap saja aku tidak dapat menggunakan uang itu sepenuhnya untukku, karena aku masih mempunyai adik yang harus kupenuhi keperluan sekolahnya.
          Selain bekerja menjadi penjual koran, tukang sol sepatu, dan pekerja kasar di tempat pembangunan, aku tetap mengikuti beberapa pelajaran di SMP negeri. Aku tidak belajar di dalam kelas melainkan hanya memperhatikan dari luar. Aku tidak sanggup membeli seragam maka karena itu aku tidak diperbolehkan sekolah disana. Aku bekerja sambil belajar agar aku masih bisa mempunyai masa depan yang cerah. Aku ingin membanggakan orang tuaku dengan prestasi yang kupunya. Aku belajar pada pagi hari, menjual koran pada siang hari, dan menjadi pekerja kasar di sore hari, sedangkan aku menjadi tukang sol sepatu pada hari libur saja.
          Pada suatu hari, saat aku sedang memperbaiki sepatu di rumah seorang saudagar kaya, ada seseorang yang mengajakku bicara dan dia menawarkan sebuah pekerjaan. Aku menerimanya karena dia menawarkan upah yang besar, setelah itu aku diajak masuk ke dalam rumah dan aku dipertemukan oleh seseorang – yang menurutku orang yang mempunyai rumah ini- dia memberitahu apa yang harus kulakukan. Ternyata, aku dipekerjakan menjadi bodyguard nya. Aku selalu mengikuti kemanapun orang itu pergi, aku selalu pulang di hari libur saja.
          Setelah beberapa bulan aku berkerja dengannya, aku diperbolehkan untuk bekerja di perusahaannya, menjadi seorang OB. Menurutku, semua pekerjaan ini memang melelahkan tetapi aku melakukan ini semua untuk keluargaku. Beruntungnya, orang kaya itu membiayaiku sekolah. Aku belajar dengan sungguh-sungguh, setelah tiga tahun menjalani sekolahku dan bekerja, aku lulus dan dapat prestasi yang membanggakan.

          Setidaknya itu adalah beberapa perjuangan hidupku yang bisa membawaku hingga sesukses ini. Sekarang aku adalah penerus perusahaan dari papa mertuaku. Ya, aku menikah denga putrinya karena jasaku selama ini. Aku tidak akan pernah melupakan seluruh perjuangan dan pengorbanan yang pernah ada dalam hidupku. Terima kasih Tuhan karena telah menemani seluruh perjalanan hidupku.



-Laika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar