Kulihat sepatu lusuh yang sudah
kusimpan di lemari selama bertahun-tahun ini. Sepatu yang menjadi saksi bisu
perjalanan hidupku, dimulai dari hidupku yang sulit hingga bisa sesukses ini.
Sepatu ini selalu mengingatkanku akan betapa sulitnya hidup ini.
Semua perjuangan hidupku sudah dimulai
dari umur 7 tahun, disaat orang tuaku bekerja keras untuk membiayaiku dan kedua
adikku sekolah. Sejak saat itu aku sudah mulai berpikir untuk membantu mereka.
Aku membantunya dengan berjualan koran, memang sulit berjualan seperti itu
ketika aku masih berada di sekolah dasar. Aku mencoba untuk tidak terlalu
banyak meminta dari orangtuaku, karena aku tahu betapa sulitnya untuk
mendapatkan uang. Aku selalu menggunakan hasil uang jualanku untuk membeli
keperluan sehari-hariku.
Pada suatu hari, saat aku sedang
berjualan koran, ada orang yang membuka kaca mobilnya dan membeli koranku
sambil bertanya.”Mengapa kau berjualan koran,Nak? Mengapa kamu tidak fokus saja
pada sekolahmu?” Tanya seorang pria di dalam mobil karena melihatku menggunakan
baju seragam sambil berjualan koran. ”Aku hanya sedang meringankan beban orang
tuaku.” Jawabku sambil memberikannya sebuah koran. “Terima kasih.” Ucapnya
sambil berlalu pergi karena lampu hijau sudah menyala.
Aku berniat untuk membantu lebih
banyak, karena itu aku mencoba mempelajari cara mengesol sepatu. Secara cepat
aku dapat menguasainya dan berkeliling daerah perkampunganku “SOL SEPATU!!”
Teriakku. Tiba-tiba ada yang berkata “Sol sepatu dong!” Ucap seorang perempuan
yang berada di dalam rumahnya. Aku hanya tersenyum dan melangkahkan kakiku ke
arah rumahnya.
Sesampaiku di rumahnya aku langsung
berkata “Sepatu mana yang ingin kuperbaiki?” Tanyaku padanya. Dia langsung
menunjukkan sepatu yang harus kuperbaiki. Aku pun langsung memperbaikinya dan
saat aku selesai, aku langsung memberikan sepatu itu dan mengatakan padanya
bahwa aku sudah selesai. “Terima kasih, berapa aku harus membayarmu?” Tanyanya
padaku. “Aku akan menerima berapa pun.” Ucapku padanya. Akhirnya perempuan itu
memberiku selembar uang dua puluh ribuan. Aku tersenyum padanya dan pergi dari
rumah itu sambil meneruskan langkahku berkeliling perkampungan.
Setelah aku lulus sekolah dasar, aku
tidak melanjutkan studiku melainkan bekerja untuk membantu keuangan keluargaku.
Aku menjadi pekerja kasar di tempat bangunan yang ada di dekat rumahku.
Untungnya aku mendapatkan upah yang lumayan besar jia dipakai untuk keperluan
sehari-hariku, tetapi tetap saja aku tidak dapat menggunakan uang itu
sepenuhnya untukku, karena aku masih mempunyai adik yang harus kupenuhi
keperluan sekolahnya.
Selain bekerja menjadi penjual koran,
tukang sol sepatu, dan pekerja kasar di tempat pembangunan, aku tetap mengikuti
beberapa pelajaran di SMP negeri. Aku tidak belajar di dalam kelas melainkan
hanya memperhatikan dari luar. Aku tidak sanggup membeli seragam maka karena
itu aku tidak diperbolehkan sekolah disana. Aku bekerja sambil belajar agar aku
masih bisa mempunyai masa depan yang cerah. Aku ingin membanggakan orang tuaku
dengan prestasi yang kupunya. Aku belajar pada pagi hari, menjual koran pada
siang hari, dan menjadi pekerja kasar di sore hari, sedangkan aku menjadi
tukang sol sepatu pada hari libur saja.
Pada suatu hari, saat aku sedang
memperbaiki sepatu di rumah seorang saudagar kaya, ada seseorang yang
mengajakku bicara dan dia menawarkan sebuah pekerjaan. Aku menerimanya karena
dia menawarkan upah yang besar, setelah itu aku diajak masuk ke dalam rumah dan
aku dipertemukan oleh seseorang – yang menurutku orang yang mempunyai rumah
ini- dia memberitahu apa yang harus kulakukan. Ternyata, aku dipekerjakan
menjadi bodyguard nya. Aku selalu
mengikuti kemanapun orang itu pergi, aku selalu pulang di hari libur saja.
Setelah beberapa bulan aku berkerja
dengannya, aku diperbolehkan untuk bekerja di perusahaannya, menjadi seorang
OB. Menurutku, semua pekerjaan ini memang melelahkan tetapi aku melakukan ini
semua untuk keluargaku. Beruntungnya, orang kaya itu membiayaiku sekolah. Aku
belajar dengan sungguh-sungguh, setelah tiga tahun menjalani sekolahku dan
bekerja, aku lulus dan dapat prestasi yang membanggakan.
Setidaknya itu adalah beberapa
perjuangan hidupku yang bisa membawaku hingga sesukses ini. Sekarang aku adalah
penerus perusahaan dari papa mertuaku. Ya, aku menikah denga putrinya karena
jasaku selama ini. Aku tidak akan pernah melupakan seluruh perjuangan dan
pengorbanan yang pernah ada dalam hidupku. Terima kasih Tuhan karena telah
menemani seluruh perjalanan hidupku.
-Laika
-Laika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar