Selasa, 16 Februari 2016

Carter

Cahaya menghilang. Kegelapan pun menyapa. Monster dan hantu yang takut akan cahaya pun keluar dari persembunyiannya. Manusia yang ketakutan langsung bersembunyi dan berlarian menyelamatkan diri. Mereka terus berfikir, bahwa malam ini adalah malam terburuk dalam hidup mereka.
            Bahkan, mereka tidak bisa menyalakan api karena Peri Api adalah sahabat baik Peri Bulan. Kunang-kunang yang menyala dalam gelap pun bersembunyi karena ketakutan.
            Setelah sekian lama para manusia bersembunyi, akhirnya matahari terbit dari ufuk Timur. Monster dan hantu kembali ke persembunyiannya. Manusia pun keluar daari persembunyiannya. Kini, mereka bisa menjalani hari ditemani matahari.
            Hari itu juga, diadakan pertemuan beberapa negara. Memang tak semua, karena ada beberapa negara yang masih diterpa gelapnya malam. Wakil dari negara-negara yang sudah diterangi matahari langsung berlayar menuju tempat pertemuan.
            “Apa yang harus kita lakukan? Jika begini terus, setiap malam kita akan diserang monster dan hantu!” Ujar seorang perwakilan dari Vietnam.
            “Sebentar, Peri Bulan berkata bahwa anaknya, Luna, telah diculik oleh manusia bumi. Kalau begitu, kita harus mencari penculik itu, dan membawa kembali Luna kepada ibunya.” Kata seorang perwakilan dari Malaysia.
            “Lalu kita akan menghukum penculik itu.” Ujar seorang perwakilan dari Indonesia.
            “Baiklah. Kita akan buat kesepakatan. Jika seseorang menemukan Luna, segera kembalikan kepada ibunya  dan beritahu seluruh dunia. Hukuman untuk penculiknya akan kita rundingkan.” Ucap seorang perwakilan dari Singapura. “Oh, bagi seseorang yang menemukan Luna, akan kuhadiahkan emas duapuluh empat  karat untuknya.”
            Pertemuan pun diakhiri. Semua perwakilan pun pulang dan memberitahukan tentang pertemuan itu kepada semua penduduk negaranya. Penduduk itu pun antusias dan bertekad akan menemukan Luna.
             Sama halnya dengan penduduk Negara Indonesia. Mereka sangat antusias akan sayembara ini.
            “Aku akan menemukan Luna!” Ujar seorang anak lelaki berusia tujuh tahun yang bernama Carter.
            Seorang pria di sebelahnya terkikik. “Hai, bocah kecil! Apakah kau pikir, bocah sepertimu bisa menemukan anak Peri Bulan dan mendapatkan emas duapuluh empat karat? Itu tidak mungkin!” Ujarnya.
            “Benar sekali! Paling, bocah sepertimu hanya mampu berlari sejauh lima meter!” Ujar seorang wanita di sebelah pria tadi.
            Carter hanya terdiam. Ia lalu masuk ke dalam hutan, berniat mencari anak Peri Bulan, Luna.
______________

            Petang sudah tiba. Namun, Carter belum kunjung menemukan Luna, anak sang Peri Bulan. Padahal, ia sudah mencari di sekeliling hutan, ke dekat danau, hingga ke dekat gua monster seraya berteriak, “Wahai Luna, anak dari Peri Bulan, kembalilah. Peri Bulan mencarimu. Ia mengira manusia membawamu pergi dan berhenti memantulkan sinar matahari. Moster-monster pun menyerang kami di malam hari!”
            Matahari hampir tenggelam. Carter pun menyerah. Ia akan melanjutkan pencariannya esok hari. Dia pun langsung berlari menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan, ia terus berharap tidak terlambat sampai rumah.
            Namun sayang, harapannya tidak terkabul. Matahari sudah tenggelam saat ia hampir sampai di rumah. Monster dan hantu langsung mencegat langkahnya. Carter ketakutan. Dia mundur perlahan, hingga terpojok. Ia sudah tidak bisa kemana-mana lagi.
            “Menjauhlah dari anak itu!”
            Carter, hantu dan monster menoleh. Seorang gadis. Tubuhnya bercahaya bagai bulan. Pakaiannya pun terlihat sangat indah. Ialah Luna, anak Peri Bulan.
            Melihat cahaya, monster dan hantu langsung lari terbirit-birit.
            “Terimakasih!” Ujar  Carter.
            “Tidak, aku yang seharusnya berterimakasih.... Em… Siapa namamu?”
            “Carter, Kenapa?”
            “Sudahlah, ayo kita pergi ke tempat ibuku.” Ujar Luna seraya menarik tangan Carter. Mereka pergi dengan portal yang dibuat oleh Luna.
____________

            Sesampainya di bulan, mereka langsung disambut baik oleh penjaga. Tanpa basa-basi, Carter dan Luna langsung menemui Peri Bulan.
            Betapa antusiasnya Peri Bulan melihat anaknya kembali. Ia langsung memeluk Luna dan bertanya, “Dari mana saja kamu, Luna? Ada yang menculikmu? Ada yang menyakitimu?”
            Luna melepaskan pelukan ibunya dan berkata, “Aku tidak apa-apa, ibu. Maafkan aku karena pergi tidak pamit. Kemarin, aku berniat pergi ke bumi untuk berjalan-jalan. Sayangnya, aku tertidur di dekat danau karena serbuk bunga tidur. Untungnya, aku terbangun karena Carter yang berteriak di dekatku.”
            “Terimakasih, Carter.” Ujar Peri Bulan.
            “Oh, Ibu. Aku ingin ibu kembali memantulkan sinar matahari. Kasihan warga bumi. Mereka dikejar oleh hantu dan monster karena kegelapan.” Ujar Luna.
            Peri Bulan tersenyum dan mengangguk. Ia kembali menjalankan tugasnya, memantulkan sinar matahari untuk bumi.
            Luna kembali kepada ibunya. Peri Bulan kembali memantulkan sinar matahari. Monster dan hantu kembali ke tempat persembunyiannya. Manusia kembali hidup dengan tenang, nyaman dan damai. Carter pun hidup dengan senang, ditambah emas duapuluh empat karat, ia menjadi orang terkaya di desa, namun tetap murah hati.

____________________





-Nilda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar