Cahaya menghilang.
Kegelapan pun menyapa. Monster dan hantu yang takut akan cahaya pun keluar dari
persembunyiannya. Manusia yang ketakutan langsung bersembunyi dan berlarian
menyelamatkan diri. Mereka terus berfikir, bahwa malam ini adalah malam
terburuk dalam hidup mereka.
Bahkan, mereka tidak bisa menyalakan api karena Peri Api
adalah sahabat baik Peri Bulan. Kunang-kunang yang menyala dalam gelap pun
bersembunyi karena ketakutan.
Setelah sekian lama para manusia bersembunyi, akhirnya
matahari terbit dari ufuk Timur. Monster dan hantu kembali ke persembunyiannya.
Manusia pun keluar daari persembunyiannya. Kini, mereka bisa menjalani hari
ditemani matahari.
Hari itu juga, diadakan pertemuan beberapa negara. Memang
tak semua, karena ada beberapa negara yang masih diterpa gelapnya malam. Wakil
dari negara-negara yang sudah diterangi matahari langsung berlayar menuju
tempat pertemuan.
“Apa yang harus kita lakukan? Jika begini terus, setiap
malam kita akan diserang monster dan hantu!” Ujar seorang perwakilan dari Vietnam.
“Sebentar, Peri Bulan berkata bahwa anaknya, Luna, telah
diculik oleh manusia bumi. Kalau begitu, kita harus mencari penculik itu, dan
membawa kembali Luna kepada ibunya.” Kata seorang perwakilan dari Malaysia.
“Lalu kita akan menghukum penculik itu.” Ujar seorang
perwakilan dari Indonesia.
“Baiklah. Kita akan buat kesepakatan. Jika seseorang
menemukan Luna, segera kembalikan kepada ibunya
dan beritahu seluruh dunia. Hukuman untuk penculiknya akan kita rundingkan.”
Ucap seorang perwakilan dari Singapura. “Oh, bagi seseorang yang menemukan Luna,
akan kuhadiahkan emas duapuluh empat karat untuknya.”
Pertemuan pun diakhiri. Semua perwakilan pun pulang dan
memberitahukan tentang pertemuan itu kepada semua penduduk negaranya. Penduduk
itu pun antusias dan bertekad akan menemukan Luna.
Sama halnya dengan
penduduk Negara Indonesia. Mereka sangat antusias akan sayembara ini.
“Aku akan menemukan Luna!” Ujar seorang anak lelaki
berusia tujuh tahun yang bernama Carter.
Seorang pria di sebelahnya terkikik. “Hai, bocah kecil! Apakah
kau pikir, bocah sepertimu bisa menemukan anak Peri Bulan dan mendapatkan emas duapuluh
empat karat? Itu tidak mungkin!” Ujarnya.
“Benar sekali! Paling, bocah sepertimu hanya mampu berlari
sejauh lima meter!” Ujar seorang wanita di sebelah pria tadi.
Carter hanya terdiam. Ia lalu masuk ke dalam hutan,
berniat mencari anak Peri Bulan, Luna.
______________
Petang sudah tiba. Namun, Carter belum kunjung menemukan
Luna, anak sang Peri Bulan. Padahal, ia sudah mencari di sekeliling hutan, ke
dekat danau, hingga ke dekat gua monster seraya berteriak, “Wahai Luna, anak
dari Peri Bulan, kembalilah. Peri Bulan mencarimu. Ia mengira manusia membawamu
pergi dan berhenti memantulkan sinar matahari. Moster-monster pun menyerang
kami di malam hari!”
Matahari hampir tenggelam. Carter pun menyerah. Ia akan melanjutkan
pencariannya esok hari. Dia pun langsung berlari menuju rumahnya. Sepanjang
perjalanan, ia terus berharap tidak terlambat sampai rumah.
Namun sayang, harapannya tidak terkabul. Matahari sudah
tenggelam saat ia hampir sampai di rumah. Monster dan hantu langsung mencegat
langkahnya. Carter ketakutan. Dia mundur perlahan, hingga terpojok. Ia sudah
tidak bisa kemana-mana lagi.
“Menjauhlah dari anak itu!”
Carter, hantu dan monster menoleh. Seorang gadis.
Tubuhnya bercahaya bagai bulan. Pakaiannya pun terlihat sangat indah. Ialah
Luna, anak Peri Bulan.
Melihat cahaya, monster dan hantu langsung lari
terbirit-birit.
“Terimakasih!” Ujar
Carter.
“Tidak, aku yang seharusnya berterimakasih.... Em… Siapa
namamu?”
“Carter, Kenapa?”
“Sudahlah, ayo kita pergi ke tempat ibuku.” Ujar Luna
seraya menarik tangan Carter. Mereka pergi dengan portal yang dibuat oleh Luna.
____________
Sesampainya di bulan, mereka langsung disambut baik oleh
penjaga. Tanpa basa-basi, Carter dan Luna langsung menemui Peri Bulan.
Betapa antusiasnya Peri Bulan melihat anaknya kembali. Ia
langsung memeluk Luna dan bertanya, “Dari mana saja kamu, Luna? Ada yang
menculikmu? Ada yang menyakitimu?”
Luna melepaskan pelukan ibunya dan berkata, “Aku tidak
apa-apa, ibu. Maafkan aku karena pergi tidak pamit. Kemarin, aku berniat pergi
ke bumi untuk berjalan-jalan. Sayangnya, aku tertidur di dekat danau karena
serbuk bunga tidur. Untungnya, aku terbangun karena Carter yang berteriak di
dekatku.”
“Terimakasih, Carter.” Ujar Peri Bulan.
“Oh, Ibu. Aku ingin ibu kembali memantulkan sinar
matahari. Kasihan warga bumi. Mereka dikejar oleh hantu dan monster karena
kegelapan.” Ujar Luna.
Peri Bulan tersenyum dan mengangguk. Ia kembali
menjalankan tugasnya, memantulkan sinar matahari untuk bumi.
Luna kembali kepada ibunya. Peri Bulan kembali
memantulkan sinar matahari. Monster dan hantu kembali ke tempat
persembunyiannya. Manusia kembali hidup dengan tenang, nyaman dan damai. Carter
pun hidup dengan senang, ditambah emas duapuluh empat karat, ia menjadi orang
terkaya di desa, namun tetap murah hati.
____________________
-Nilda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar