“Ayo kita masuk ke dalam rumah itu!” Seru Aris.
Violet menggeleng kuat. Kakinya gemetaran.
“Ayolah, Violet. Masa’ sama hantu saja takut?” Bujuk Zinnia.
Violet menggeleng lagi. “Rumah itu sudah duapuluh tahun tidak ditempati! Ada yang bilang keluarga yang dulu tinggal di rumah itu bunuh diri karena depresi. Banyak juga yang melihat hantu di rumah itu!”
“Ah, penakut! Ayo Zinnia, kita masuk saja ke dalam rumah itu! Biarkan saja Violet menunggu disini!” Ujar Aris. Kakinya sudah melangkah memasuki rumah. Zinnia mengikuti, meninggalkan Violet sendirian.
Violet makin ketakutan. Jam sudah menunjukkan pukul setengah duabelas. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Jalanan terlihat sepi, semua orang sudah pergi tidur. Tak lama, Violet ketakutan sendiri. Dia buru-buru menyusul Aris dan Zinnia ke dalam rumah.
“Berubah pikiran?” Ujar Aris yang ternyata sudah menunggunya di dalam. Violet mengangguk cepat. Mereka bertiga pun langsung berjalan meelusuri rumah.
Di ruang tamu, mereka disambut meja dan kursi yang lapuk dan berdebu. Jaring laba-laba berada dimana-mana.
“Hei, lihat ini!” Seru Aris. Tangannya menunjuk sebuah foto di atas meja. Foto itu menunjukkan sebuah keluarga yang memiliki dua orang anak.
“Mungkin itu keluarga yang dulu tinggal disini.” Ujar Zinnia.
Violet makin ketakutan. Ia mencengkram tangan Zinnia dengan erat.
Karena tak meemukan apa-apa lagi, mereka pun melanjutkan perjalanan dan memasuki ruang keluarga. Kali ini, mereka disambut sofa yang sudah terkena bercak berwarna merah.
“Pasti sofa itu terkena darah!” Ujar Aris.
Zinnia mengangguk. “Pasti! Hei, lihat ini!” Seru Zinnia. Tangannya menunjuk suatu sudut.
Aris dan Violet mendekat. Terlihat sebuah boneka perempuan, dengan baju yang sudah terkena bercak berwarna merah. Boneka itu terlihat kusam, dengan robekan-robekan di wajahnya.
BRUK!
“Suara apa itu!?” Seru Zinnia. Mereka bertiga langsung berlari menuju asal suara.
“Pintunya tertutup!” Seru Violet. Mereka sudah mencoba membuka pintu itu, namun hasilnya nihil. Pintunya sama sekali tidak mau terbuka.
“Kalau begitu, kita harus menelusuri rumah ini dan mencari jalan keluar.” Ujar Aris. Violet dan Zinnia mengangguk setuju. Mereka berjalan pelan menuju ruang makan.
Violet berjalan mendekati meja. “Hei teman-teman, lihat! Piring ini mirip dengan milikku!” Ujarnya.
Hening. Tak ada siapapun yang merespon. Violet berbalik. Kedua temannya sudah menghilang. “Aris? Zinnia?” Ujarnya lagi. Tak ada sahutan. Violet ketakutan. Kakinya gemetaran.
PRANG!
Violet kembali berbalik. Piring yang semula berada di atas meja kini sudah pecah. Ia langsung berlari menaiki tangga, dan memasuki sebuah ruangan. Sebuah kamar. Violet melihat sekeliling. Terlihat seperti kamar biasa. Tak ada yang aneh. Sebuah tempat tidur, sebuah lemari pakaian, sebuah meja belajar, dan sebuah kursi. Mungkin hanya ada foto seram di atas meja.
Violet menengok ke kanan. Betapa kagetnya ia melihat sebuah boneka yang tadi berada di ruang keluarga, kini melayang di atas tempat tidur. Wajahya yang semula kusam dan penuh robekkan, kini juga dipenuhi darah. Rambutnya yang semula rapi, kini terlihat acak-acakan.
“KYAAAA!” Teriak Violet. Kakinya kini sudah berlari keluar kamar, dan berbelok ke kanan. Di ujung lorong, terlihat sebuah tirai berwarna abu-abu.
DUARR! SREKK!
Petir menyambar. Tirai tersibak. Menampilkan sebuah tengkorak yang dipenuhi darah.
Violet berbalik arah. Wajahnya sudah memucat. Ia berlari menuruni tangga, kembali ke ruang makan. Sesampainya disana, dia langsung bersembunyi. Namun, ketukan di pintu sebelahnya membuat Violet kebingungan. Pintu itu diketuk dari dalam, bukan dari luar. Seakan meminta seseorang untuk membuka pintu untuknya. Mungkin saja itu Zinnia dan Aris yang terjebak.
Dengan segala keberanian, Violet berjalan pelan menuju pintu yang diketuk. Ia memutar handle pintu. Namun, pintunya terkunci. Violet kebingungan. Ia ingin melihat siapa yang berada di dalam.
Beberapa saat kemudian, Violet melihat sebuah kunci dibalik pot bunga yang berada di samping pintu. Ia mengambil kunci itu, memasukannya ke lubang kunci, dan memutarnya. Dia lalu memutar handle pintu perlahan, hingga terbuka.
Kosong.
Tak ada siapapun di ruangan itu. Hanya sebuah tempat tidur, sebuah meja belajar, dan sebuah kursi. Violet mencondongkan tubuhnya ke depan, memastikan benar-benar tidak ada orang disana.
BUK!
Tiba-tiba, Violet merasakan tubuhnya didorong ke depan, memasuki ruangan. Ia terjatuh.
BRUK!
Pintu tertutup. Seketika, Violet bangkit dan berusaha membuka pintu. Namun, usahanya sia-sia. Pintu terkunci. Violet terjebak dalam ruangan itu. Ia menggedor pintu dari dalam, berharap ada seseorang yang membuka pintu untuknya.
Suasana semakin menakutkan. Kini, ada suara-suara aneh di belakang Violet. Ia ingin menengok ke belakang, namun tak berani. TEP! Kini seseorang mencengkram kakinya. Violet semakin takut. Tangannya makin keras menggedor pintu. Wajahnya semakin memucat.
BRUK! Kaki Violet ditarik. Tubuhnya ambruk seketika. Kakinya masih saja ditarik ke belakang. Violet meronta-ronta. Mulutnya sudah berteriak minta tolong. Kuku jarinya menancap di lantai kayu, berusaha menghentikan pergerakan tubuhnya. Namun, usahanya malah membuat lantai kayu itu tergores. Ia masih tertarik ke belakang.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Menampakkan Aris dan Zinnia.
Violet tersenyum senang. “Akhirnya kalian datang! Cepat tolong aku!”
Tanpa berkata apa-apa, Aris dan Zinnia menarik paksa Violet hingga kakinya terlepas dari tarikan membawa Violet keluar ruangan. Mugkin memang sakit, namun itu tak seberapa dibandingkan tarikan di kakinya yang semakin mengerat dan terasa amat sakit. Violet menoleh. Di dalam kamar, terlihat seorang wanita berambut panjang yang terlihat acak-acakan. Mukanya dipenuhi sayatan dan darah. Satu matanya sudah tidak berada di tempatnya, dan dialiri darah. Telingannya robek, lehernya hampir putus, dan kukunya sangat panjang dan tajam. Ia merayap mendekati pintu, ingin keluar. Sebelum itu terjadi, Aris dan Zinnia sudah menutup dan mengunci pintunya.
Pintu terus diketuk dari dalam. Violet, Aris, dan Zinnia langsung berlari menuju pintu keluar. Pintu itu sudah terbuka. Dibelakangnya, wanita itu sudah berhasil keluar dan mengejar mereka. Violet berlari mendahului Aris dan Zinnia. Kakinya masih terasa sakit. Nafasnya terengah-engah. Ia berlari melewati pintu, disusul Aris dan Zinnia. Setelah itu, pintu tertutup. Tidak membiarkan wanita itu ikut keluar.
“Akhirnya kita berhasil keluar dari rumah itu!” Ujar Violet.
Hening.
Violet menengok ke belakang. Tidak ada siapapun. Bahkan Aris dan Zinnia tidak ada disana.
“Violet!” Ujar seseorang dari arah kanan. Violet menengok. Aris dan Zinnia terlihat disana, dengan nafas yang terengah-engah.
Violet mengernyitkan dahinya, bingung. “Aris? Zinnia?”
“Darimana saja, kau?! Kami sudah mencarimu kemana-mana!” Ujar Aris.
“Hah? Bukankah kalian baru saja keluar bersamaku dari rumah itu?” Violet menunjuk rumah yang dimasukinya tadi.
Zinnia dan Aris berpandangan, lalu menggeleng. “Kita sudah keluar rumah sejak lama! Bersamamu, kok!” Ujar Aris lagi.
“Iya! Saat di ruang makan, aku melihat pintunya terbuka kembali, lalu kita berlari keluar rumah. Aku menarik tanganmu, kok! Tapi saat perjalanan pulang, tiba-tiba kau menghilang.” Timpal Zinnia.
“Tapi… Saat itu tiba-tiba kalian menghilang. Aku pun naik ke lantai atas dan bertemu banyak hal yang meyeramkan. Lalu, aku turun dan memasuki sebuah ruangan. Di ruangan itu, kakiku ditarik. Setelah itu, kalian datang dan menyelamatkanku. Kita baru saja keluar dari rumah ini. Kalau itu bukan kalian… Lalu siapa?” Tanya Violet.
“Dan… Violet yang bersama kami itu… Siapa?” Zinnia balik bertanya.
DUK! DUK! Terdengar kembali ketukan pintu.
Mereka semua langsung berlari ketakutan.
______________
-Nilda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar