Selasa, 16 Februari 2016

Penyesalan

LITELabs

Jum’at, 14 Februari 2014.
Seorang perempuan berjalan tertatih-tatih. Tangannya memegang perutnya yang membesar, sedangkan tangan satunya sibuk membawa barang belanjaan. Hawa dingin terasa menusuk kulitnya, meskipun sudah dibalut lebih dari 5 lapis pakaian dan jaket. Min Lin, perempuan berusia 36 tahun asal Cina ini, sedang berusaha memerangi cuaca yang sangat dingin di tempat tinggalnya kini, New York.
Televisi-televisi di seluruh dunia kini sedang heboh, badai salju terdingin dan terburuk sepanjang 10 tahun terakhir sedang melanda Amerika Serikat bagian Timur. Setidaknya, kini, belasan orang ditemukan tewas. Sekitar 1,2 juta rumah dan toko terkena pemadaman listrik, sehingga tidak sedikit toko yang ditutup karena badai. Oleh karena itu, sulit bagi Min Lin untuk menemukan tempat perbelanjaan yang buka dan dekat dengan rumahnya.
Suami Min Lin, Frank, masih berada di kantornya. Sepertinya Frank akan menginap di kantornya, hingga badai salju berhenti. Karena itu, Min Lin terpaksa berbelanja sendirian. Sebenarnya, ia bisa saja melewatkan makan malam dan berbelanja esok hari. Namun, keadaannya saat ini tidak memungkinkannya melewatkan makan malam. Alhasil, Min Lin harus menyetir menuju sebuah pusat perbelanjaan hingga mobilnya terhenti di tengah jalan karena terhalang badai salju. Akhirnya, ia harus berjalan sejauh 200 meter sisa perjalanan demi berbelanja kebutuhan sehari-hari di tengah badai salju.
Langkan Min Lin terhenti. Ia menengok, memukan sebuah taman yang sudah tertimbun salju tebal. Pandangannya menerawang, membayangkan betapa indahnya taman itu sebelum badai salju menyerang. Dulu, ia sering mampir ke taman itu, hanya sekedar duduk dan menikmati pemandangan. Berbagai jenis bunga terdapat disana, sehingga harum bunga tercium di seluruh taman. Namun, diantara berbagai jenis bunga itu, yang paling Min Lin sukai adalah bunga Hidrangea, bunga berwarna pastel yang harganya cukup mahal.
“WAA!”
Sebuah teriakan menyita perhatian Min Lin. Ia menengok ke belakang, dan menemukan seorang yang sepertinya tidak waras, sedang berlari ke arahnya. Spontan, Min Lin berlari sekencang yang ia bisa, menjauh dari orang gila itu. Barang belanjaannya ia peluk dengan erat, tidak ingin ada satu pun yang terjatuh.
Begitu sadar, Min Lin sudah berada di depan mobilnya. Ia menghentikan langkahnya, mengambil kunci mobil di kantong, lalu membuka bagasi mobil. Yah, setidaknya kehadiran orang gila itu menghemat waktunya untuk sampai di mobil, meskipun sekarang Min Lin sudah kelelahan setengah mati. Dengan perlahan, ia memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil. Min Lin mengusap perutnya, memastikan ia baik-baik saja.
“AWAS!” Teriak seseorang di belakang Min Lin, disusul oleh suara mesin yang semakin mendekat.
Min Lin berbalik, penasaran apa yang terjadi di belakang. Terlihat sebuah kendaraan penyapu salju mendekat ke arahnya. Ia ingin berlari menghindar, namun tubuhnya seakan kaku. Otaknya mendadak kosong. Ia berusaha mencerna apa yang terjadi.
Dan saat Min Lin sadar ia harus berlari, semuanya sudah terlambat.
Sebuah kendaraan penyapu salju menabraknya.
***

Frank terus menerus memijat pelipisnya. Ia kembali berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit. Di dahinya sudah bercucuran keringat dingin. Ia gelisah, berdo’a di dalam hati sambil menunggu kedatangan dokter yang sedang mengurus istrinya, Min Lin.
Akhirnya, pintu terbuka, meampilkan seorang dokter, menggendong bayi yang menangis. Frank tersenyum. Ia mengambil alih sang bayi ke dalam gendongannya, lalu mencium bayi itu.
Namun, kebahagiaan Frank seketika sirna ketika mendengar perkataan dokter, bahwa Min Lin tidak bisa diselamatkan. Ia langsung berlari memasuki ruangan, lalu menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal. Jika saja ia tidak menginap di kantor dan meninggalkan istrinya sendirian, pasti tidak akan begini akhirnya. Pasti istrinya tidak akan meninggal. Frank bertekad, akan menjaga bayinya sekuat tenaga.
Yah, bagaimana lagi? Penyesalan selalu datang belakangan, bukan?
***


-Nilda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar